Rabu, 05 Agustus 2015

Doa Seekor Burung

Kisah Islamiah malam sebagai santapan rohani dalam berbuka puasa.
Doa seekor burung menjadi judul dari blog kisah ini.
Sesungguhnya Allah SWT itu adalah Dzat Yang Maha Mendengar dari segala ucapan yang terdapat di alam semesta ini.

Seperti doa seekor burung ini pun juga didengar Allah SWT.
Apakah doa burung dikabulkan Allah SWT atau tidak, ikuti ceritanya.

Burung

Kisahnya.
Pada zaman dahulu ada seorang anak laki-laki yang suka sekali mengambil anak burung dari sarangnya. Jika telur burung itu sudah menetas, maka orang itu segera mengambilnya bahkan hal itu sudah rutin menjadi pekerjaannya.

Si induk burung menjadi marah oleh ulah anak ini.
Sehingga burung ini pun mengadukan ketidakadilan kepada Allah SWT.
Burung pun berdoa dengan khusyuknya.
"Wahai Tuhanku, binasakanlah orang yang selalu mengambil anak-anakku."

Pada suatu hari, saat burung itu menetaskan telurnya, orang yang biasa mengambil anak burung itu pun segera berangkat menuju sarang burung yang dimaksud dengan membawa sepotong roti sebagai sarapannya.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang pengemis tua.
Kemudian orang itu memberikan bekal roti yang dibawanya kepada pengemis yang lebih membutuhkannya.
Lalu ia melanjutkan perjalanannya.

Saat di jalan, si burung telah mengetahui dan memandang orang itu dengan pandangan sinis.
Ternyata orang itu kembali selamat.
Burung pun protes kepada Allah SWT,
"Wahai Tuhanku, mengapa orang yang selalu mengambil anakku itu selamat?".
Maka Allah SWT berfirman,
"Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya Aku tidak akan membinasakan orang yang bersedekah dalam keadaan jelek (Su'ul Khatimah)."

Jadi orang itu selamat karena dia telah menyedekahkan sepotong roti yang dimilikinya kepada pengemis tua secara tulus ikhlas karena Allah SWT.
Subhanallah...

Selamat berbuka puasa saudaraku.

Sebab Pertemuan Nabi Khidir dan Musa

Kisah Islamiah pendamping sahur.
Dengan kisah Nabi Khidir as dan Nabi Musa as.
Apa sebabnya terjadi pertemuan antara Nabi Khidir as dan Nabi Musa as.


Kisahnya.
Pada suatu hari Nabi Musa as berpidato di hadapan Bani Israil untuk mengingatkan akan perintah dan larangan Allah SWT.
Tiba-tiba saja, di antara yang hadir tersebut ada seorang laki-laki yang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepada Nabi Musa as.

"Wahai Nabi Musa, siapakah orang yang paling pandai di muka bumi ini?" tanya laki-laki itu.
"Aku," jawab Nabi Musa as tanpa ada keraguan.

Karena kekeliruan Nabi Musa as inilah maka Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya sebagai peringatan dan teguran.
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, Aku mempunyai seorang hamba yang shaleh dan alim melebihi pengetahuan-pengetahuan yang ada padamu. Dia berada di suatu tempat pertemuan dua lautan."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Riwayat lain.
Nabi Musa as bertanya kepada Allah SWT,
"Ya Tuhanku, siapakah gerangan orang yang paling pintar?"
Allah SWT menjawab," siapa saja di antara hambaKu yang senantiasa menyebut namaKu dan tidak membiarkan waktunya kosong dari menyebut kepadaKu."

Nabi Musa as bertanya lagi,
"Ya Allah, siapakah di antara hamba-hambaMu yang paling berilmu? Barangkali dengan ilmunya dia bisa memberi petunjuk kepada orang lain sehingga ia mau berpaling dari hal-hal yang akan memalingkannya dari Engkau."
Allah SWT berfirman,
"Orang yang paling pandai adalah orang-orang yang selalu belajar ilmu pengetahuan kepada orang lain."

Nabi Musa as bertanya,
"Masih adakah di antara hamba-hambaMu yang lebih alin dari padaku?"
Allah SWT berfirman,
"Ya, ada. Dia berada di dekat sebuah batu besar pada pertemuan dua lautan."

Setelah Nabi Musa as bercakap-cakap dengan Tuhannya, lalu ia mempelajari taurat. Timbullah perasaan dalam hatinya bahwa dirinya adalah satu-satunya hamba Allah SWT yang paling alim.
Karenanya, maka Allah SWT mempertemukannya dengan Nabi Khidir as.

Selamat makan sahur saudara-saudaraku.

Sumber:
Shahih Muslim fi Syarkhi Bukhari.
Al Awhu, Ibnu Abdi Robbi. 

Mencoba Melihat Dzat Allah SWT

Kisah Islamiah pendamping berbuka puasa kalian pada malam hari ini tentang kisah Nabi Musa as yang ingin melihat Dzat Allah SWT.
Beliau diharus berpuasa selama 40 hari terlebih dahulu sebelumnya.
Bisakah beliau melihat Dzat Allah SWT.


Bukit Thursina



Kisahnya.
Pada waktu Nabi Musa as memohon kepada Allah SWT agar diberi pedoman untuk membawa kaumnya ke jalan yang diridhai Allah SWT, maka ia pun diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari dan berdiam diri di bukit Thursina.

Setelah berpuasa selama 30 hari, kemudian Nabi Musa as diperintahkan lagi untuk menambah puasa selama 10 hari sehingga genap menjadi 40 hari. Kemudian Allah SWT berbicara langsung kepada Nabi Musa as.

Namun dalam kesempatan itu, Nabi Musa as memohon agar diperkenankan untuk melihat Dzat Allah SWT. Jika bukit itu masih berdiri tegak, berarti Nabi Musa as dapat melihat Dzat Allah SWT. Namun jika bukit itu hancur, berarti dia tak dapat melihat Dzat Allah SWT.

Dan ternyata bukit itu hancur dan Nabi Musa as sendiri jatuh pingsan.
Setelah sadar kembali, Nabi Musa as bertasbih dan bertahmid serta memohon ampun kepada Allah SWT.

Kemudian Allah SWT memberikan kitab Taurat sebagai kitab suci yang di dalamnya tertulis pedoman hidup dan penuntun untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT tidak dapat dilihat dengan mata manusia yang lemah, bahkan gunung oun tidak kuat menerima cahaya Dzat Allah SWT.

Hal ini membuktikan pada kita semua bahwa Allah SWT itu adalah Dzat Yang Maha Gaib, yang tidak dapat dilihat kecuali dengan mata hati yang bersih.

Dialog Semut dan Nabi Sulaiman di Pantai

Kisah Islamiah pendamping sahur Anda dengan kisah Nabi Sulaiman as dengan seekor semut di tepi pantai. Kalau bicara semut, biasanya kisah yang terkenal adalah ketika tentara Nabi Sulaiman as melewati kerajaan semut, dan menyuruh semut-semut tadi untuk menyingkir terlebih dahuku agar tidak terinjak pasukan Nabi Sulaiman.

Namun,
Kali ini kisahnya adalah semut yang lain. Semut yang ada di tepi pantai yang memiliki tugas untuk mengantarkan makanan kepada seekor ulat yang berada di dasar lautan.
Subhanalloh ...Sungguh Allah SWT Pemberi Rezeki Yang Adil.


Kisahnya.
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman as sedang mengerjakan shalat di tepi pantai. Dan setelah selesai mengerjakan shalat, pandangan beliau tertuju pada pasir-pasir yang ada di pantai tersebut.

Di saat itu pula, beliau melihat kawanan semut yang menyeret selembar daun hijau.
Setelah sampai di dekat air, semut tiba-tiba saja menjerit karena ada seekor katak yang menghampirinya.
Dengan selembar daun hijau itu, semut naik ke punggung katak dan di bawanya ke dasar laut.

Beberapa saat kemudian, semut muncul kembali dan terapung di permukaan air, tempat dimana katak tadi membawanya menyelam ke dasar lautan.
Melihat kejadian itu, Nabi Sulaiman as bertanya kepada semut,
"Wahai semut, apa yang engkau lakukan di sini?"



Dialog Semut dan Nabi Sulaiman.
Semut pun menjawab dan mengisahkan pengalamannya di dasar laut.
"Di dasar lautan sana ada sebongkah batu besar yang tuli. Di tengah batu tersebut ada seekor ulat yang mendapatkan rezeki dari Allah SWT lewat aku," jelas semut.
"Berapa kali sehari engkau mengantarkan makanan?" tanya Nabi Sulaiman as.

"Setiap hari aku melaksanakan tugas ini sebanyak 2 kali. Katak tadi punya tugas yang sama denganku, ia membawaku menyelam sampai dasar lautan dan menuju ke batu tadi dimana ulat itu berada," jelas semut lebih lanjut.

"Lalu bagaimana engkau memberikan daun itu ke ulat?" tanya nabi Sulaiman as.
"Setiap kali aku sampai di sana, batu pun membelah diri sehingga aku dapat memasukkan daun yang aku bawa sebagai rezeki Allah SWT baginya," jawab semut.

"Setelah memakannya, ulat tersebut selalu bersyukur dan bertasbih kepada Allah SWT, yang tidak menelantarkannya," lanjut semut.
"Subhanallah...Allah SWT adalah Dzat yang memiliki Kebesaran dan tak ada satu pun yang dapat menandinginya," Nabi Sulaiman as Memuji Kebesaran Allah SWT.

Begitulah Dialognya.
Dan akhrinya selamat santap SAHUR. 
 

sumber

 

Murka Allah Reda Berkat Tangisan Bayi

Kisah Islamiah menyuguhkan kisah rohani dan islami dengan kisah Tangis Bayi sebagai santapan berbuka Puasa saudaraku semuanya.
Murka Allah SWT akhirnya reda setelah terdengar tangis bayi di malam hari.

Bayi Menangis

Kisahnya.
Pada suatu malam, Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Jibril untuk turun ke suatu negeri dan menghancurkannya. Lalu Malaikat Jibril bertanya,
"Maha Suci Engkau, Wahai Allah SWT, dosa apakah yang telah mereka lakukan sehingga Engkau menjatuhkan azab kepada mereka?"

Akhirnya malaikat Jibril pergi untuk melaksanakan perintah Allah SWT dengan mengangkat negeri itu bersama 7 buah kotanya. Pada saat itu, ada seorang ibu yang sedang memasak adonan tepung, dan ketika ibu itu mengaduk adonan tepungnya, tiba-tiba bayinya yang sedang tidur itu terbangun dengan menangis serta menjerit.

Si ibu kerepotan dibuatnya.
Ia bingung apa yang harus dilakukan sedangkan tangannya penuh dengan adonan.
Maka ia berkata,
"Anakku, Sesungguhnya Allah SWT dengan kemuliannya adalah Maha Santun dan Sayang. Dia tidak akan menyiksa hambaNya yang berbuat maksiat dengan segera."

Diriwayatkan bahwa ketika wanita itu berkata demikian, maka kebencian Allah SWT menjadi reda dan memerintahkan kepada malaikat Jibril agar mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan negeri itu.

Subhanallah...
Ternyata, bayu yang menangis pada malam itu telah menjadi syafa'at bagi orang-orang yang akan ditimpa azab.
Padahal semuanya itu tidak mereka sadari bahwa dengan tangis bayi yang tidak berdosa itu, murka Allah SWT menjadi reda.

Sungguh Allah SWT Dzat Yang Maha Melindungi dan perlindunganNya meliputi segala sesuatu tanpa kita sadari sepenuhnya, terutama terhadap hamba-hambaNya yang beriman dan mau berdoa kepadaNya.

Selamat berbuka puasa saudara-saudaraku...