Rabu, 14 Agustus 2013

STRATEGI POLITIK DAN EKONOMI AMERIKA SERIKAT PADA MASA PERANG DINGIN TERHADAP EROPA BARAT

            Amerika Serikat merupakan negara yang mayoritas berbangsa Eropa, yang negaranya berdiri di benua Amerika. Amerika Serikat pada awalnya adalah daerah koloni Inggris yang akhirnya merdeka pada tahun 1776 setelah melalui perang kemerdekaan dengan Inggris. Setelah berhasil keluar dari ikatan kekuasaan Inggris, Amerika Serikat berdiri sebagai sebuah negara berbangsa Eropa di benua Amerika.
            Pada awal berdirinya, Amerika melakukan politik netralitas terhadap perpolitikan Eropa. Amerika yang mengedepankan asas demokrasi  memandang manusia mempunyai hak dalam menentukan nasibnya sendiri, setiap individu bebas mengutarakan pendapat serta menentukan nasibnya sendiri. Pengalaman sebagai koloni di bawah kekuasaan Inggris membentuk watak demokrasi Amerika Serikat. Ucapan Presiden Monroe yang terkenal dengan doktrin Monroe menyatakan bahwa politik Amerika Serikat netral terhadap permasalahan politik di Eropa. Doktrin Monroe merupakan tuntutan untuk tidak saling menyerang atas negara-negara Eropa di belahan bumi Barat (Jones, 1992: 58).
            Politik netralitas Amerika Serikat berjalan pasca kemerdekaan hingga beberapa masa sebelum berkecamuk perang di Eropa. Amerika Serikat menjalankan asas kebebasan tanpa mencampuri urusan politik Eropa, netralitas dimaksudkan agar Amerika Serikat tidak terkungkung dalam urusan ekonomi terhadap salah satu pihak yang bersengketa. Politik netralitas bermaksud agar ekonomi Amerika Serikat bebas berhubungan dengan negara manapun. Posisi netral Amerika Serikat akhirnya berubah saat Perang Dunia I berkecamuk di Eropa. Amerika yang pada awalnya masih mempertahankan kenetralan akhirnya ikut campur dalam Perang dengan memihak kepada blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Jerman. Keikutcampuran Amerika Serikat dalam perang banyak disebut disebabkan oleh gangguan Jerman terhadap perdagangan Amerika Serikat. Kapal selam Jerman mulai menenggelamkan niaga Amerika dengan penumpang-penumpang sipil diatasnya (Jones, 1992: 59).
            Keikutsertaan Amerika Serikat dalam Perang Dunia I mempererat hubungannya dengan negara-negara Eropa Barat, khususnya sekutu utama Amerika Serikat adalah Inggris dan Perancis. Hubungan tersebut berlanjut ketika Perang Dunia II berkecamuk, Amerika Serikat memihak blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler. Pasca kemenangan dalam Perang Dunia II, Amerika Serikat mempererat kembali hubungannya dengan negara-negara Eropa Barat sekutunya dalam menghadapi Perang Dingin dengan Uni Soviet. Perang Dingin adalah perang memperebutkan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat banyak menarik sekutu dari negara-negara Eropa Barat, sedangkan Uni Soviet banyak menarik sekutu dari negara-negara Eropa Timur. Pembangunan Amerika banyak disesuaikan dengan kondisi perpolitikan dunia, dalam fokus kajian ini yang akan dikedepankan adalah hubungan pembangunan Amerika Serikat dengan negara-negara Eropa Barat pada masa Perang Dingin.
            Peran Amerika Serikat dalam Perang Dunia II mempunyai andil yang besar dalam mempengaruhi jalan serta hasil akhir perang. Amerika yang tergabung dalam blok sekutu berhasil mengalahkan kekuatan Jerman bersama sekutunya Jepang, Austria-Hongaria, dan Italia. Di Front Eropa Perang Dunia II Amerika Serikat bergabung dengan Inggris, Perancis dan Sekutu Eropa lainnya berhasil mendesak Jerman hingga terdesak mundur ke Jerman dan akhirnya menyerah. Di Front Pasific, Amerika dominan dalam mendesak Jepang hingga akhirnya menyerah tanpa syarat di Tokyo. Andil Amerika dalam Perang Dunia II diiringi juga oleh andil Uni Soviet yang mendesak Jerman dari Front Timur Jerman. Pasca berakhirnya perang, dua kekuatan Amerika Serikat dan Uni Soviet mendominasi persaingan baru merebutkan pengaruh yang terkenal dengan Perang Dingin. Kondisi pasca Perang Dunia 2 dinyatakan Orwell bahwa:
"Selama empat puluh atau lima puluh tahun terakhir, Mr. H. G. Wells dan yang lainnya telah memperingatkan kita bahwa manusia akan berada dalam bahaya, menghancurkan dirinya dengan senjatanya sendiri, menyisakan semut atau beberapa kelompok spesies lainnya untuk mengambil alih. Barangsiapa yang telah melihat kehancuran kota-kota di Jerman akan berpikir bahwa gagasan ini setidaknya masuk akal. Namun demikian, jika melihat dunia secara keseluruhan, peristiwa selama beberapa dekade terakhir tidak menuju ke arah anarki, namun ke arah pemberlakuan kembali perbudakan. Kita mungkin tidak menuju ke arah pengrusakan umum, tapi ke zaman perbudakan kuno yang mengerikan. Teori James Burnham telah banyak dibahas, namun sebagian kecil orang belum menganggapnya sebagai implikasi ideologi. Jenis pandangan terhadap dunia, jenis keyakinan, dan struktur sosial mungkin akan menguasai negara yang tak terkalahkan dan menegakkannya dalam "perang dingin" permanen dengan tetangganya." (Wikipedia, 2013)
            Pasca kekalahan Jerman dan sekutunya, Amerika Serikat dan Uni Soviet menguasai daerah yang dulunya dikuasai Jerman. Pengkondisian daerah tersebut berlanjut dengan persaingan diantara keduanya dalam menyebarkan pengaruh atau ideology kedua negara. Amerika Serikat enganut paham liberalis yang mengutamakan ekonomi persaingan bebas serta kapitalisme, sedangkan Uni Soviet menganut sistem ekonomi sosialis yang anti kapitalis. Keduanya bersaing dalam menanamkan pengaruh dengan mencari negara sekutu. Sekutu-sekutu yang berhasil direkrut Amerika Serikat kebanyakan adalah negara-negara di Eropa Barat, sedangkan Uni Soviet berhasil mendirikan satelit komunis di negara-negara Eropa Timur. Kedua negara berkontradiksi satu sama lain, selain persaingan dominasi politik kedua negara juga sangat berkontradiksi dalam sistem ekonomi. Kapitalisme Amerika merupakan musuh sosialisme Soviet yang berfaham Marxisme.
            Paham Liberalisme Amerika Serikat merupakan tandingan bagi ideology komunisme Uni Soviet. Kedua negara mempropaganda sekutu-sekutunya sesuai paham serta ideology yang mereka miliki. Amerika Serikat menanamkan sistem kapitalisme bagi sekutu-sekutunya, sedangkan Uni Soviet menanamkan sistem ekonomi sosialisme bagi negara satelitnya. Amerika Serikat berusaha keras menanamkan pengaruh di Eropa Barat sebagai tahap pembendungan laju penyebaran komunisme Soviet dari Eropa Timur. Selain hal tersebut, Eropa Barat juga merupakan sekutu potensial bagi Amerika Serikat karena adanya ikatan sejak Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2 atas kontribusi Amerika Serikat membantu negara Eropa Barat melawan Jerman dan Nazi.
Berakhirnya Perang Dunia 2 menyisakan kerusakan parah bagi negara-negara Eropa Barat. Negara-negara Eropa Barat sebagai pemenang perang tidak dalam euforia kemenangan, mereka justru terkena krisis ekonomi dan kerusakan infrastruktur yang dahsyat. Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan dua negara yang tidak terkena akibat fatal dari Perang Dunia 2. Masa pasca Perang Dunia 2 dengan keadaan Eropa Barat yang hancur menjadikan persaingan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet untuk melakukan rekonsiliasi dan penyebaran pengaruh kedua negara. melemahnya Eropa menaikan status kedua negara menjadi negara Super Power dan memberikan ketergantungan bagi pemulihan keadaan pasca Perang Dunia II. Strategi Amerika Serikat sebagai negara yang terlibat dalam Perang Dunia II memulihkan keadaan Eropa dengan program bantuan Marshal Plan.
Marshal Plan Amerika erat kaitannya dengan doktrin Truman. Kedua kebijakan sangat erat kaitannya dengan politik pembendungan komunis dan pencarian sekutu. Nana Supriatna menyatakan bahwa:
Pada esensinya, Doktrin Truman didasarkan atas prinsip moral bagi penentuan nasib sendiri (self determination) bangsa-bangsa di dunia menurut perspektif luar negeri AS. Oleh karena itu AS memprotes pendudukan Polandia, Rumania dan Bulgaria yang berada di bawah rezim otoriter yang tidak memperhatikan kepentingan bangsanya untuk menentukan nasibnya sendiri. Berdasarkan doktrin tersebut, AS harus membantu negara yang masih berada dalam rezim otoriter untuk menjadi negara demokratis. AS berkepentngan untuk membantu negara-negara tersebut membentuk institusi yang demokratis untuk kepentingan perdamaian internasional. Dilihat dari kerangka Perang Dingin, doktrin tersebut sebenarnya lebih ditujukan kepada Uni Soviet yang mulai menanamkan pengaruhnya di Eropa Timur. Oleh Karena itu atas nama doktrin Truman, AS membantu negara-negara di Eropa untuk memulihkan ekonominya pasca perang sehingga menjadi negara demokratis seperti ditafsirkan oleh AS.
Juni 1947, sesuai dengan Doktrin Truman, Amerika Serikat mengesahkan program Marshall Plan, yaitu suatu program bantuan ekonomi bagi semua negara Eropa yang bersedia untuk berpartisipasi, termasuk Uni Soviet. Tujuan dari rencana ini adalah untuk membangun kembali sistem demokrasi dan perekonomian Eropa dan untuk membatasi pengaruh komunis di Eropa. Penyebaran dana bantuan Amerika Serikat mengikat penerima bantuan untuk menjadi sekutu Amerika dan menjadikan tembok bagi masuknya pengaruh Soviet.
Rencana ini juga menyatakan bahwa kemakmuran Eropa bergantung pada pemulihan ekonomi Jerman. Satu bulan kemudian, Truman mengesahkan Undang-Undang Keamanan Nasional 1947, membentuk Departemen Pertahanan terpadu, CIA, dan Badan Keamanan Nasional (NSC). Hal ini selanjutnya akan menjadi birokrasi utama kebijakan AS dalam Perang Dingin.
Stalin percaya bahwa integrasi ekonomi dengan Barat akan memungkinkan negara-negara Blok Timur untuk memisahkan diri dari kontrol Soviet, Stalin juga percaya bahwa AS berusaha untuk “membeli” Eropa agar berpihak kepada AS. Oleh sebab itu, Stalin melarang negara-negara Blok Timur menerima bantuan Marshall. Alternatif Uni Soviet dalam menandingi Rencana Marshall, yang konon menghabiskan subsidi Soviet dan perdagangan dengan Eropa Timur, adalah dengan membentuk Rencana Molotov (kemudian dilembagakan pada bulan Januari 1949 dengan nama Comecon). Stalin juga mengkhawatirkan upaya AS untuk merekonstitusi Jerman; visi pasca-perangnya terhadap Jerman tidak mencakup hal ini, karena Soviet enggan mempersenjatai kembali Jerman atau dengan kata lain, takut bahwa hal itu akan menimbulkan ancaman lagi terhadap Uni Soviet.
Kebijakan kembar Doktrin Truman dan Rencana Marshall menyebabkan miliaran bantuan ekonomi dan militer mengalir untuk Eropa Barat, Yunani, dan Turki. Dengan bantuan AS, militer Yunani berhasil memenangkan perang saudara. Partai Demokrasi Kristen Italia juga sukses mengalahkan aliansi Komunis-Sosialis dalam pemilihan umum tahun 1948. Pada saat yang bersamaan, terjadi peningkatan aktivitas intelijen dan spionase, pembelotan Blok Timur, dan pengusiran diplomatik.
Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah dua negara yang berkontribusi terhadap kekalahan Nazi Jerman pada Perang Dunia II. Kontribusi dua negara besar tersebut sangat dominan di mana Amerika Serikat beserta sekutunya melumpuhkan Nazi dari front Barat dan Uni Soviet menundukan Nazi dari front timur. Setelah kekuasaan Nazi takluk sepenuhnya, kedua negara mulai berebut pengaruh atas wilayah bekas jajahan Nazi Jerman, Italia, dan Jepang yang berada dalam kondisi vacuum of power.
Perebutan pengaruh antara Amerika Serikat dan Uni Soviet didasarkan kepada perbedaan ideologi dan kompetisi penanaman ideologi di negara-negara bekas wilayah kekuatan axis (Jerman, Italia, Jepang) dan negara-negara strategis yang non-aliansi. Amerika Serikat menganut ideologi demokrasi kapitalis dan Uni Soviet menganut ideologi komunis yang anti kapitalis. Pada Perang Dunia II masalah perbedaan ideologi belum terwujud dalam persaingan antar dua negara. Kedua negara bekerjasama untuk mengalahkan musuh bersama yakni Jerman dan sekutunya, setelah kalahnya blok Axis hubungan antar kedua negara berubah dari kawan menjadi lawan.
Pertentangan ideologi berimplikasi terhadap perubahan tatanan dunia serta penanaman konflik baru pasca Perang Dunia II antar dua kekuatan besar dunia. Uni Soviet berkomitmen membentuk tatanan dunia baru dengan komunisme sebagai ideologi. Komitmen Uni Soviet itu mendapat tantangan dari Amerika Serikat yang anti komunis karena komunisme adalah ideologi yang bertentangan dengan kapitalisme Amerika Serikat yang kapitalistik. Pertentangan antar kedua negara diikuti dengan kompetisi di bidang militer, ekonomi, dan penguasaan daerah strategis yang disebut sebagai Perang Dingin (coldwar).
Kekuatan  militer antar kedua negara sangat penting pengaruhnya dalam persaingan perebutan dominasi. Persaingan di bidang militer termanipestasi dalam persaingan manajemen konflik lokal dan perlombaan senjata nuklir. Manajemen konflik lokal berhubungan dengan  geopolitik serta geostrategik dalam memperebutkan pengaruh maupun untuk strategi militer kedua negara. Selain bersaing dalam manajemen konflik lokal, kedua negara juga bersaing dalam hal inovasi senjata. Persaingan yang penting disorot adalah persaingan dalam persenjataan nuklir, nuklir merupakan senjata yang tidak hanya mengancam dua negara yang terlibat konflik tetapi juga berefek terhadap kelangsungan dunia. Perkembangan nuklir kedua negara meresahkan kedua negara itu sendiri, kedua negara sepakat membuat perjanjian tentang pembatasan jumlah nuklir yang disebut dengan perjanjian SALT (Strategic Arms Limitation Talk) yang diselenggarakan dua kali yaitu SALT I dan SALT II.
Persaingan Amerika-Soviet tidak hanya terimplementasi dalam bentuk unjuk kekuatan militer, tetapi juga dalam persaingan ekonomi. Persaingan ekonomi teraplikasi dalam perebutan daerah kaya sumber daya serta upaya kedua negara membentuk jaringan ekonomi eksklusif. Amerika Serikat berusaha menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah untuk menjaga kepentingannya terhadap minyak bumi serta berupaya untuk membekukan ekonomi Uni Soviet yang juga mempunyai ladang minyak dengan menjatuhkan harga minyak. Selain mengadakan monopoli terhadap minyak, strategi ekonomi Amerika terhadap Soviet juga dilakukan dengan cara menstop perdagangannya dengan negara-negara satelit Soviet. Amerika melakukan diskriminasi ekonomi terhadap negara-negara satelit Soviet.
Geostrategi dan geopolitik kedua negara mulai agresif ketika kedua negara menancapkan pengaruh di daerah strategis yang mengancam terhadap terirorial kedua negara. Uni Soviet berhasil menanamkan pengaruh serius di Kuba dengan membentuk rezim komunis serta menempatkan beberapa senjata nuklirnya di Kuba. Selain di Kuba, persaingan antar kedua negara juga terjadi di Afganistan dengan menunggangi konflik antara penguasa setempat dengan mujahidin islam.
Perang Dingin menciptakan persaingan dalam berbagai aspek yang berpengaruh terhadap dunia. Kedua kubu adalah kekuatan besar dunia yang aktivitas politiknya sangat mempengaruhi situasi percaturan politik dan ketertiban dunia melalui kekuatan militer, ekonomi, dan manajemen konflik. Perang Dingin menjadikan Amerika Serikat sebagai negara super power bersama Uni Soviet. Penanaman pengaruh di Eropa berkontribusi besar terhadap kuatnya Amerika Serikat menghadapi komunisme Uni Soviet. Perang Dingin membangun Amerika menjadi negara yang maju dalam bidang politik, ekonomi, serta militer.

REFERENSI
Jones, Walter S. (1993). Logika Hubungan Internasional. Jakarta: Gramedia.
Supriana, N. Bangsa Amerika. Tersedia:
Wikipedia. (2012). Perang Dingin. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dingin [23 November 2012]

sumber :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar