Rabu, 31 Juli 2013

Koperasi Membantu Perekonomian Indonesia

PENDAHULUAN
            Seperti kita ketahui bersama bahwa koperasi mulai tumbuh dan berkembang di Inggris pada pertengahan abad XIX yaitu sekitar tahun 1844 yang di pelopori oleh Charles Howard di kampong Rochdale. Namun sebelum koperasi mulai tumbuh dan berkembang sebenarnya inspirasi gerakan koperasi sudah mulai ada sejak abad XVII setelah terjadinya revolusi industry dengan penerapan system ekonomi kapitalis.
            Sedangkan di Indonesia, koperasi masuk sejak akhir abad XIX yaitu sekitar tahun 1896 yang dipelopori oleh R.A Wiriadmaja. Namun secara resmi gerakan koperasi di Indonesia baru lahir pada tanggal 12 Juli 1947 pada kongres I di Tasikmalaya yang diperingati sebagai Hari Koperasi Indonesia.
            Awalnya keberadaan koperasi itu hanya untuk memebuhi kebutuhan pokok para anggotanya, sehingga hanya ada koperasi konsumsi atau single Purpose. Namun dalam perkembangannya fungsi koperasi menjadi bermacam-macam antara lain sebagai tolak ukur kegiatan usaha baru dan sebagai alternative kegiatan usaha.

ISI
HAKIKAT KOPERASI
            Koperasi pada Intinya adalah organisasi bisnis yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama.Koperasi melandaskan kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Pembentukan badan usaha koperasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa bagi para anggota, baik yang bersifat individual maupun kelompok. Perekonomian nasional dengan demikian menjadi sangatlah penting dalam usaha mencapai cita-cita yang diharapkan. Perekonomian yang tujuan utamanya adalah pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan memihak kepada rakyat maka tidak akan terwujud cita- cita tersebut. Koperasi memperoleh hak untuk hidup dan perkembangan di Indonesia. Koperasi yang sudah dibangun selama ini juga jumlahnya sudah cukup banyak. Jumlah ini merupakan aset yang harus dipelihara dan diberdayakan agar dapat berkembang membantu pemerintah untuk memerangi kemiskinan dan menyediakan lapangan kerja. Jika sekarang masih banyak koperasi yang tumbuh belum mampu mencapai tujuan bersama anggotanya.
Koperasi perlu didirikan dan dimajukan usahanya. Mengapa demikian? Sebab, koperasi berperan penting sebagai penggerak ekonomi rakyat dan perekonomian nasional.Oleh karena itu, koperasi sangatlah penting dalam kehidupan ekonomi bangsa Indonesia . Pada masa sekarang secara umum koperasi mengalami perkembangan usaha dan kelembagaan yang mengairahkan. Namun demikian, koperasi masih memiliki berbagai kendala untuk pengembangannya sebagai badan usaha. Hal ini perlu memperoleh perhatian dalam pembangunan usaha koperasi pada masa mendatang.
Peran koperasi dalam perekonomian Indonesia dapat dilihat dari:
  1.       Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor,
  2.       Penyedia lapangan kerja yang terbesar
  3.       Pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat
  4.       Pencipta pasar baru dan sumber inovasi, serta
  5.     Sumbangannya dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor. Peran koperasi, usaha mikro,  kecil dan menengah sangat strategis dalam perekonomian nasional, sehingga perlu menjadi fokus pembangunan ekonomi nasional pada masa mendatang.

Saat ini informasi  mengenai perkembangan koperasi tahun 2011 yang ada di Indonesia,dapat dilihat dalam ilustrasi gambar dibawah ini :
Oleh karena itu perlunya penambahan unti koperasi di berbagai wilayah yang ada di Indonesia. Karena dengan koperasi,maka dapat membantu perekonomian negara. Pemberdayaan koperasi secara tersktuktur dan berkelanjutan diharapkan akan mampu menyelaraskan struktur perekonomian nasional, mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional, mengurangi tingkat pengangguran terbuka, menurunkan tingkat kemiskinan, mendinamisasi sektor riil, dan memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat. Pemberdayaan koperasi juga akan meningkatkan pencapaian sasaran di bidang pendidikan, kesehatan, dan indikator kesejahteraan masyarakat Indonesia lainnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peran koperasi antara lain :
  •     Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khusunya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.
  •       Berperan serta aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.
  •    Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional.Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

PERANAN DARI KOPERASI
Pada masa ini pembangunan koperasi kurang mendapat perhatian karena koperasi kurang memperlihatkan  kinerja dan citra yang lebih baik dari masa sebelumnya.Keadaan ini merupakan salah satu bukti bahwa komitmen pemerintah masih kurang dalam pembangunan koperasi. Pembangunan adalah suatu proses yang harus berkelanjutan dan tersistem. Koperasi yang mempraktekkan  prinsip-prinsip koperasi  dalam organisasi dan usahanya. Koperasi sebagai badan usaha, organisasi dan  kegiatan usahanya harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip koperasi.Karena prinsip koperasi merupakan garis-garis  penuntun yang digunakan oleh koperasi untuk melaksanakan nilai-nilai dalam praktek seperti keanggotaan sukarela dan terbuka, pengendalian oleh anggota secara demokratis, partisipasi ekonomi anggota pendidikan,pelatihan dan informasi , kerjasama diantara koperasi dan kepedulian terhadap komunitas.
Adapun dampak koperasi terhadap proses pembangunan sosial ekonomi diantaranya :
        A.    Dampak Mikro dari suatu Koperasi
·          Dampak mikro yang bersifat langsung terhadap para anggota dan perekonomiannya, yang timbul dari peningkatan jasa pelayanan perusahaan koperasi dan dari kegiatan-kegiatan kelompok koperasi. Jika pelayanan tersebut diterima oleh anggota dapat Menerapkan metode-metode produksi yang inovatif, yang memungkinkan peningkatan produktivitas dan hasil produksi keseluruhannya dalam jumlah yang besar.
·          Dampak mikro yang bersifat tidak langsung terhadap lingkungan organisasi kopersi dapat secara serentak memberikan kontribusi pada perkembangan social dan ekonomi. Dampak-dampak persaingan dari koperasi; pembentukan suatu perusahaan koperasi dalam situasi pasar yang ditandai oleh persaingan, akan memaksa para pesaing lainnya untuk memperbaiki dan meningkatkan pelayanan mereka.
  
       B.     Dampak Makro dari Organisasi Koperasi
Ada 4 kontribusi-kontribusi dalam beberapa bidang :
1.      Politik
2.      Sosial
3.      Ekonomi Sosial
4.      Ekonomi
Jika dilihat dari segi pandangan pemerintah yang mendukung pengembangan koperasi hal tersebut tidak dianggap sebagai sasaran akhir dalam rangka melaksanakan kebijakan pembangunan nasional.
Ada 3 perbedaan penting mengenai koperasi sebagai sarana pemerintah, sebagai sarana swadaya yang otonom dari para anggota dan koperasi yang diawasi Negara:
1.      Koperasi sebagai sarana atau alat pemerintah, di mana pemerintah mempengaruhi atau mengawasi organisasi ini secara langsung dan secara administrasi untuk melaksanakan tigas-tugas khusus dan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka menerapkan kebijakan dan program pembangunan.
2.      Koperasi dipertimbangkan pemerintah sebagai alat swadaya para anggotanya, dan mencoba mempengaruhi secara tidak langsung agar menunjang kepentingan para anggotanya dan untuk merangsang timbulnya dampak-dampak yang berkaitan dengan pembangunan
3.       Koperasi diawasi Negara, di mana pengaruh administrasi pemerintah secara langsung terhadap penetapan tujuan dan pengambilan keputusan usaha pada organisasi-organisasi koperasi sering diterapkan.
PENUTUP
Perkembangan koperasi secara nasional di masa datang diperkirakan menunjukkan peningkatan yang signifikan namun masih lemah secara kualitas. Untuk itu diperlukan komiten yang kuat untuk membangun koperasi yang mampu menolong dirinya sendiri sesuai dengan jatidiri koperasi. Hanya koperasi yang berkembang melalui praktek melaksanakan nilai koperasi yang akan mampu bertahan dan mampu memberikan manfaat bagi anggotanya. Prospek koperasi pada masa datang dapat dilihat dari banyaknya  jumlah koperasi, jumlah anggota  dan jumlah manajer, jumlah modal,volume usaha dan besarnya SHU yang telah dihimpun koperasi, sangat prosfektif untuk dikembangkan Dengan demikian pembangunan koperasi perlu diteruskan, karena pembangunan adalah proses, memerlukan waktu dan ketekunan serta konsistensi dalam pelaksanaan,berkesinambungan untuk mengatasi semua masalah yang muncul seperti masalah kemiskinan, jumlah pengangguran. yang  semakin banyak.
DAFTAR PUSTAKA
 

Posisi Outsorching di Mata Hukum


Pendahuluan
            Dewasa ini penggunaa outsorching (Alih Daya) semakin marak terjadi di Indonesia. Seakan-akan outsorching sebagai “kebutuhan” bagi para pelaku bisnis. Khususnya untuk perusahaan yang memproduksi barang/jasa. Kebutuhan tersebut semata-mata muncul karena adanya persaingan usaha yang semakin ketat. Dimana setiap perusahaan dituntut untuk menghasilkan output atau memaksimumkan produktivitas agar perusahaan mendapatkan profit atau keuntungan. Untuk meraih keuntungan tersebut, mau tidak mau pihak perusahaan harus selalu fokus dalam berkompetensi. Hal itu dilakukan agar perusahaan tidak sekedar menghasilkan output yang biasa-biasa saja. Namun harus memproduksi output berupa barang/jasa yang berkualitas, bermutu, dan dapat bersaing dengan produk perusahaan lainnya.
            Dengan kondisi seperti itulah, pada akhirnya jalan outsorching menjadi solusi sementara bahkan menjadi sebuah trend ekonomi produksi dalam sebuah perusahaan. Tetapi permasalahannya adalah bagaimana posisi atau tempat outsorching itu sendiri berdiri di mata hukum. Sehingga sekarang ini banyak perselisihan mengenai sistem alih daya yang dituntut oleh para serikat pekerja untuk dihapuskan.

Penggunaan Outsorching dan Posisinya dalam Hukum
            Menurut  Mourice F Greaver ii, pada bukunya Strategic Outsorching, A Structured Approach to Outsorching : Decisions and Initiatives, yang menjabarkan Outsorching sebagai berikut:
“Strategic use of outside parties to perform activities, traditionally handled by internal staff and respurces”.
Dalam pengertian lain, outsorching (Alih Daya) adalah suatu tindakan pendelegasian beberapa kegiatan bisnis kepada suatu badan penyediaan jasa. Dimana badan penyediaan jasa tersebut melakukan proses adminitrasi dan manajemen berdasarkan ketentuan yang telah disepakati oleh berbagai pihak.
            Terdapat 70% perusahaan yang menggunakan tenaga outsource. Kebanyakan dari perusahaan-perusahaan tersebut bergerak dalam bidang industri, baik tekstil, jasa makanan maupun minuman, dll.
            Berlakunya outsourching di Indonesia didasarkan oleh beberapa hukum yang mengaturnya. Hukum yang mengatur terbentuknya outsorching yaitu terdapat dalam:
·         Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 (pasal 64, 65, dan 66). Yang dikatakan pada pasal 64, pengertian outsorcing adalah suatu perjanjian kerja yang dibuat antara pengusaha dengan tenaga kerja, dimana perusahaan tersebut dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis.
·         Selain itu dalam pasal 1601 b KUH Perdata juga dijelaskan bahwa outsorching disamakan dengan perjanjian pemborongan pekerjaan.
·         Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Kep. 100/ Men/ VI/ 2004 Tahun 2004 tentang ketentuan pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu (Kepmen 100/2004).
·         Outsorching juga diatur dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Kep. 101/ Men/ VI/ 2004 Tahun 2004 tentang tata cara perizinan perusahaan penyedia jasa pekerja/ buruh (Kepmen 101/2004).
·         Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 220/ Men/ X/ 2004 tentang syarat-syarat penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain (Kepmen 220/2004).
            Dengan dasar-dasar hukum yang telah disebutkan seperti yang diatas, maka sistem outsorching dibolehkan dalam kegiatan produksi sebuah perusahaan. Dengan catatan pula, semuanya telah diatur sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh merugikan pekerja/ buruh.
Perlunya Perjanjian Tertulis agar Jelas
            Dalam beberapa bulan terakhir sering terjadi demontrasi pekerja yang menuntut keadilan haknya, termasuk yang menjadi poin tuntutan adlaah penghapusan sistem kerja kontrak dan alih daya (Outsorching). Seperti yang terjadi di Cimahi (9/10), ribuan buruh PT Kahatex menggelar aksi unjuk rasa di depan pintu masuk perusahaannya. Sekitar 2.500 buruh ikut dalam aksi tersebut, dari jumlah buruh keseluruhan sebanyak 11.000 buruh.
            Untuk menggapai masalah-masalah demonstrasi serikat pekerja yang semacam itu, maka tanggapan pemerintah melalui juru bicara Kepresidenan, Julian Pasha mengaku akan senantiasa mendengar aspirasi para buruh yang melakukan aksi demonstrasi. Terkait masalah tersebut, telah di instruksikan agar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menekertrans), Muhaimin Iskandar bekerja optimal untuk memenuhi aspirasi buruh mengenai Outsorching.
            Karena pada dasarnya menurut peraturan pemerintah, outsorching hanya diperkenankan untuk lima bidan pekerjaan saja yaitu cleaning service, keamanan, transportasi, catering dan pemborongan pertambangan. Kemudian untuk perusahaan outsorching yang menyengsarakan pekerja, melanggar UU No. 13 /2003 dan tidak sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi maka harus dicabut perizinannya. Namun kendati demikian, agar tidak terjadi penyimpangan keadilan dan tidak mencari yang salah dalam polemik demonstrasi outsorching yang kerap terjadi akhir-akhir ini, maka perlu disarankan untuk menggelar pertemuan tripartit antara pemerintah, pengusaha dan buruh untuk mencari solusi permasalahan tersebut.
            Selain itu, perlu susunan perjanjian kerja tertulis dalam hubungan ketenagakerjaan. Dimana perjanjia kerja itu sendiri berarti perjanjian pengikat diri antara pekerja dengan pengusaha. Bahwa pekerja menyatakan kesiapan untuk melakukan pekerjaan dan pengusaha menyatakan kesediaan untuk membayar upah dan hak-hak pekerja lainnya. Dengan begitu muncul asas tentang “Hak dan Kewajiban” yang harus dipenuhi oleh masing-masing pihak.
            Di dalam UU No. 13 Tahun 2003 pun dijelaskan tentang definisi perjanjian kerja, tujuannya diberlakukan perjanjian kerja yang diatur dalam UU adalah untuk memberikan perlindungan kepada pekerja dalam mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarga. Menurut Undang-Undang, perjanjian kerja dapat dibuat secara tertulis maupun lisan. Apabila tertulis, maka perjanjian kerja tersebut memuat antara lain:

  1.    .     Nama, jenis usaha dan alamat perusahaan,
  2.         Nama, jenis kelamin, umur dan alamat pekerja,
  3.         Jabatan atau jenis pekerjaan,
  4.       Tempat pekerjaan,
  5.         Besar upah dan cara pembayarannya,
  6.         Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja,
  7.         Mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja,
  8.          Tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat, dan
  9.            Tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja.
Sedangkan ketentuan mengenai perjanjian kerja untuk pekerjaan dalam waktu yang tak menentu, hak dan kewajiban pekerja, serta kewenangan dan hak pekerja, perlu dimuat dengan jelas dalam peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.
            Perjanjian kerja waktu tertentu adalah perjanjian kerja antara pekerja dan pengusaha untuk melaksanakan pekerjaan yang diperkirakan selesai dalam waktu tertentu yang relatif pendek. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), paling lama dua tahun, dan hanya dapat diperpanjang satu kali untuk paling lama sama dengan waktu perjanjian kerja pertama, dengan ketentuan seluruh waktu perjanjian tidak boleh  melebihi waktu tiga tahun. Misalnya PKWT satu tahun, dapat diperpanjang hanya satu kali maksimum satu tahun, PKWT 1,5 tahun dapat diperpanjang selama 1,5 tahun. PKWT dua tahun dapat diperpanjang hanya satu tahun menjadi seluruhnya 3 tahun.
            Poin akhir untuk mencegah terjadinya perselisihan dalam Outsorching (alih daya) yaitu perlunya juga penafsiran mengenai konsep dan pengertian usaha pokok atau Core Business. Dimana dua konsep tersebut berubah dan berkembang secara dinamis. Maka ada baiknya bahwa setiap perusahaan seharusnya terlebih dahulu menggolongkan apa yang menjadi pekerjaan utama dan pekerjaan penunjang ke dalam suatu dokumen tertulis dan melaporkannya kepada instansi ketenagakerjaan setempat. Sehingga suatu hari nanti tidak akan muncul permasalahan yang berpicu atas tuntutan dari para pekerjaan outsorching tentang ketidakjelasan pembagian kerja pokok dan penunjang.

Penutup
            Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal penting untuk mencegah perselisihan-perselisihan dalam outsorching (alih daya), diantaranya pembentukan perjanjian kerja yang jelas antara pihak perusahaan dengan pihak pekerja outsorching.
            Selanjutnya perlu juga pengklasifikasian pembagian kerja, sehingga ketegasan dalam core business dan non core business terbangun sesuai dengan ketetapan undang-undang terkait pelaksanaan outsorching.

Daftar Pustaka
·         Buku
Prof. Dr. Simanjutak, Payman J. 2011. Manajemen Hubungan Industrial. Jakarta: LPFEUI
·         Koran
Pikiran Rakyat, Edisi 10 Oktober 2012
·         Internet
Vivanews, 03 Oktober 2012
 

Artikel Sarjana Harus jadi Wirausaha

PENDAHULUAN
    A.    ALASAN MENGAPA HARUS MENJADI SEORANG PENGUSAHA
Pertama, sebagai seorang muslim, panutan kita adalah Nabi Muhammad SAW, dimana beliau adalah seorang pengusaha . Nabi Muhammad SAW sudah belajar berdagang semenjak beliau kecil, semenjak masih dalam asuhan Halimah yang mengasuh beliau saat beliau masih kecil. Beliau selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam setiap transaksi perdagangan yang dilakukan, sehingga tak heran jika akhirnya barang dagangannya laris diburu pembeli.
Kedua, dengan menjadi pengusaha kita bisa membantu lebih banyak orang . Untuk membantu orang, kita tidak harus menjadi seorang pengusaha. Namun, untuk membantu lebih banyak orang, kita perlu menjadi seorang pengusaha . Kenapa lebih banyak orang ? Untuk membantu seseorang, siapapun bisa melakukannya. Ketika ada pengemis di pinggir jalan dan kita memberinya uang, maka kita dapat dikatakan membantu pengemis tersebut. Ketika ada teman kita yang mengalami musibah, kita memberinya bantuan, maka kita bisa disebut membantu teman kita tersebut, dan hal itu bisa dilakukan oleh semua orang, asalkan ia mempunyai niat.Seorang pengusaha dapat membantu lebih banyak orang karena saat ia memiliki seorang karyawan, maka ia telah membantu karyawan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika karyawan tersebut telah mempunyai keluarga, maka skala yang dibantu oleh keluarga tersebut semakin meluas. Saat ia menggaji karyawan tersebut, berarti ia telah membantu kehidupan keluarga tersebut, ia telah membantu anak dari karyawannya agar anaknya bisa mengenyam bangku sekolah . Dan hal itu bisa dilakukan seorang pengusaha hanya dari seorang karwayan. Bagaimana bila ia mempunyai 10 ? 100 ? atau bahkan ribuan karyawan ? berarti semakin banyak pula orang yang ia bantu, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh seorang pengusaha.
Selain itu, dengan menjadi seorang pengusaha berarti kita telah membantu pemerintah kita dalam penyediaan lapangan pekerjaan. Bukan rahasia lagi jika saat ini banyak sarjana dari perguruan tinggi yang menjadi seorang pengangguran, dan kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah akan hal ini. Menjadi seorang pengusaha atau karyawan adalah pilihan hidup, kita bisa memilih salah satu diantara keduanya dengan menanggung resiko masing-masing. Sehingga , bila kita tidak ingin menjadi beban bagi pemerintah maupun bagi orang tua kita karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, maka saya pikir menjadi pengusaha adalah sebuah pilihan yang tepat.
Ketiga, dengan menjadi seorang pengusaha kita akan memiliki waktu lebih bersama keluarga. Keluarga adalah salah satu elemen terpenting dalam hidup kita, apapun akan kita lakukan untuk membahagiakan keluarga kita. Dengan menjadi seorang pengusaha, saya pikir kita akan mempunyai waktu yang lebih bersama keluarga kita .

     B.     ENTREPRENEUR TIDAK MENUNGGU TAPI MENCIPTAKAN
          Menjadi seorang pengusaha tidak hanya butuh teori, namun pengalaman dalam menjalankan usaha juga sangat penting. Bpk Dahrul Iskan (CEO Jawa Pos Group dan Dirut PT.PLN) dalam Grand Seminar IEC 2011 berkata “ Kita harus cepat dalam memulai bisnis, agar cepat gagal. Karena dari kegagalan tersebutlah kita dapat belajar untuk menjalankan bisnis yang lebih baik “. Dari pernyataan tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kita harus menjadi seorang pengusaha sedini mungkin. Setiap ada peluang untuk memulai suatu usaha, maka kita harus cepat bergerak. Banyak orang yang hanya berfikir tentang usaha yang akan dilakukannya, tanpa adanya langkah kongkrit untuk mewujudkan hal itu, dan hal inilah yang harus diubah oleh masyarakat kita.
            Menjadi wirausaha muda mandiri nasional kini sudah menjadi mode. Tak perlu modal banyak, yang terpenting adalah ide."Saat ini wirausaha muda telah menjadi daya tarik tersendiri dikalangan anak muda yang bermodalkan ide," ungkap founder Mustika Ratu Mooryati Soedibyo dalam seminar bertema "Wirausaha Kreatif Muda Mandiri Nasional" di Universitas Bunda Mulia UBM, Jakarta Utara.Mooryati mengatakan, kunci untuk memulai usaha bukan selalu masalah modal, karena modal bisa dicari. terpenting adalah punya komitmen yang memiliki nilai jual dan dapat berguna saat menjalankan usahanya. Saat ini, menurut Mooryati, para pemuda dituntut bisa menciptakan masyarakat yang inovatif, kreatif, serta mampu membangun kemakmuran dan kesejahtraan.Mooryati mengatakan, dengan berkembangnya jiwa wirausaha muda di Indonesia semestinya kemiskinan tidak perlu terjadi kalau generasi mudanya mempunyai pemikiran-pemikiran yang kreatif dan inovatif. Mooryati mengaku memulai bisnisnya saat usianya telah menginjak usia 45 tahun. Namun hal tersebut tidak menjadikan mooryati patah semangat untuk menjalankan usahanya."Saya mulai bisnis saya pada usia 45 tahun, namun menurut saya tidak ada kata terlambat untuk berusaha," terangnya.Mooryati pun mengaku tidak mempunyai pendidikan ekonomi, tidak ada pengalaman kewirausahaan, dan suaminya pun hanya seorang pegawai negeri sipil. "Saya bisa karena saya mau, dan saya punya keinginan kuat," tegas Mooryati.Mooryati mengatakan apa yang diperolehnya hingga saat ini bukanlah hanya dari pendidikan formal, tetapi lebih kepada kemauan yang keras untuk mencapai keberhasilan."Jadi apa yang saya capai bukan karena pendidikan formal, pengalaman, tapi karena kemauan untuk maju. Entreprener itu tidak menunggu, tapi menciptakan sesuatu, itu merupakan pemikiran yang kreatif menurut saya," ungkap Mooryati.
      C.    BAKAT ENTREPRENEUR BISA DIKEMBANGKAN OLEH SIAPA SAJA
            Dalam pandangan Ir. Ciputra, orang yang memiliki atau mengelola sebuah bisnis, belum tentu seorang entrepreneur. Orang yang bisa memiliki suatu bisnis dengan meniru bisnis yang sudah berhasil, seperti banyak dilakukan dalam system waralaba. Dalam konteks ini seorang menjadi pebisnis atau pengusaha, karena memiliki bisnis. Atau orang bisa menjadi pemilik dan pengelola bisnis karena warisan dari orangtua, dari keluarga dan kerabatnya. Pebisnis modal ini tidak memulai dengan visi, tidak melakukan tindakan-tindakan inovatif, dan juga tidak mengambil resiko yang besar.”mereka itu bisa disebut sebagai pebisnis atau pengusaha, tapi saya kira bukan entrepreneur seperti yang saya maksudkan.” Kata Ciputra menegaskan pandangannya. Jadi, menurut Ciputra, seorang entrepreneur pastilah pebisnis dan pengusaha yang handal. Namun, seorang pebisnis atau pengusaha, belum tentu memenuhi kualifikasi untuk bisa disebut sebagai entrepreneur. 
Pentingnya factor lingkungan yang kondusif dan latihan untuk mengembangkan potensi dan mengasah bakat-bakat kaum muda di Indonesia, bahkan telah membuat didirikannya Universitas Ciputra di Surabaya, yang memilih tema utama Creating World Class Entrepreneur. Ciputra menyadari bahwa ada kondisi yang harus diciptakan untuk mendorong dan memperbesar kemungkinan lahirnya para entrepreneur baru yang membangun dan mengharumkan nama Indonesia di masa depan. Ciputra sendiri menemukan bakat atau talenta terbaiknya sebagai entrepreneur lewat proses pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ia suka bicara soal pentingnya orang mau belajar. Ia sendiri tidak pernah mengangap dirinya sebagai orang jenius dalam segala bidang, tetapi sebagai orang yang mau belajar. Dengan kata lain, ia tidak merasa kalau orang berbakat maka tidak perlu belajar lagi. Justru ia merasa bahwa orang yang berbakat akan senang belajar dari sumber-sumber terbaik. Kata Ciputra, “Entrepreneur yang paling berbakat pun tetap manusia biasa. Dan Anda tidak harus menjadi orang jenius dalam semua bidang untuk menjadi entrepreneur sukses. Setahu saya, Li Kha Sing juga bukan orang jenius di segala bidang. Namun ia berhasil menjadi entrepreneur sukses, baik di negerinya maupun di mancanegara. Kita hanya perlu jenius dalam bidang yang sesuai dengan bakat dan pilihan hidup kita. Dan untuk itu kita harus terus belajar.” 
Orang-orang muda yang akan maupun tengah menyiapkan diri menjadi entrepreneur layaknya mencatat karakter demikian itu. Rasa ingin tahu yang besar untuk mewujudkan atau menciptakan sesuatu yang lebih baik dan bernilai mengharuskan seorang entrepreneur sebagai manusia pembelajar, tak pernah berhenti belajar.
Kembali ke soal bakat, bagaimana jika orang merasa hanya memiliki sedikit bakat untuk menjadi entrepreneur? Untuk kasus semacam ini Ciputra memberikan dua anjuran. Pertama, jadilah professional [pegawai] dengan kemampuan entrepreneurship. Orang seperti Jack Welch, yang pernah memimpin perusahaan No. 9 terbesar di dunia – General Electrics yang legendaris itu—adalah contoh professional dengan kemampuan entrepreneurship yang handal. Memilih menjadi nahkoda sebuah “kapal bisnis” skala dunia, juga merupakan suatu prestasi yang mengagumkan, bukan? Jadi potensi entrepreneurship tetap perlu dikembangkan, sekalipun berada dalam konteks organisasi bisnis yang bukan milik sendiri. Para profesional dengan kemampuan entrepreneurship ini umumnya disebut sebagai intrapreneur.
            Kedua, mulailah dengan merintis bisnis dalam skala kecil. Atau bias meneruskan bisnis keluarga yang telah lebih dulu ada, lalu mengembangkannya. Bias juga “meniru” bisnis orang lain atau mengambil bisnis waralaba. Lalu secara bertahap cobalah untuk lebih maju dengan membangun visi dan mengambil risiko yang lebih besar. Dalam pandangan penulis, menjadi pebisnis dan pengusaha dalam skala kecil menengah justru sangat diperlukan dalam konteks membangun Indonesia ke depan. Sebab yang terpenting adalah menciptakan lapangan kerja, pertama-tama bagi diri sendiri, dan kemudian belajar mempekerjakan orang.
       D.    PERAN PEMERINTAH DALAM MENCIPTAKAN ENTREPRENEUR BARU DIKALANGAN SARJANA
Kalau boleh jujur, peran pemerintah, baik pusat maupun daerah dalam menciptakan wirausahawan muda, masih sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah pemuda saat ini. Sudah seharusnya pemerintah berorientasi pada pembangunan ekonomi berbasis penciptaan wirausahawan-wirausahawan baru dari kalangan pemuda.Program kegiatan di berbagai sektor dan urusan pemerintah perlu diorientasikan agar terciptanya kesempatan bagi pemuda untuk berwirausaha. Sehingga pemuda Indonesia tidak melulu harus mencari kerja, selepas mengenyam pendidikan. Dengan terbukanya kesempatan berwirausaha bagi pemuda, maka sikap, mental dan cara berpikir mereka akan berubah.Perlu juga inisiatif pemerintah untuk mendirikan lembaga pembiayaan dan bank untuk pemuda atau lembaga keuangan nonperbankan yang khusus untuk melayani nasabah dari kalangan pemuda atau wirausahawan baru. Cara lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah mendorong agar lembaga keuangan dapat memberikan porsi yang seluas-luasnya  untuk mengucurkan kredit bagi wirausahawan muda dengan persyaratan yang lebih mudah.
Harus ada political and good will yang diaplikasikan dalam kebijakan anggaran dalam mendukung penciptaan wirausahawan muda sehingga impian seorang Ciputra untuk melihat ada empat juta pemuda entrepreneur dalam 25 tahun ke depan dapat terwujud. Sebagaimana Undang-Undang Kepemudaan menurut Hermawan Kartawijaya, pendiri MarkPlus Institute of Marketing, mengajak Pemuda Indonesia untuk jadi Moral Force, Social Control dan Agent of Change. Karena itu, mereka juga diharapkan jadi Leader, Entrepreneur dan Pioneer. Bahkan lebih jauh dari itu sebenarnya Bung Karno, bapak pendiri bangsa telah menanamkan benih-benih kemandirian bangsa melalui Ekonomi Berdikari sebagai salah satu pilar Trisakti. Hal itu mensiratkan bahwa Bangsa Indonesia harus memiliki kemandirian di bidang ekonomi. Menjadi bangsa yang mandiri berarti turunannya adalah masyarakat mandiri, keluarga mandiri, dan pribadi mandiri. Dan kemandirian itu hanya dimiliki oleh seorang wirausahawan.
Seperti yang dikatakan Menko Perekonomian Hatta Rajasa bahwa Indonesia masih kekurangan pengusaha-pengusaha baru. Indonesia masih defisit pengusaha, sehingga perlu ditumbuhkan pengusaha-pengusaha baru. Saat ini jumlah pengusaha Indonesia masih berada di angka 1%. Sedangkan jumlah pengusaha di negara maju setidaknya berada di angka 5% dari total penduduknya.
Untuk itu dibutuhkan peran konkret pemerintah melalui penciptaan program pendidikan kewirausahaan bagi pemuda untuk memberikan kesempatan belajar kepada mereka agar memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan. Namun, perlu disadari pula bahwa pemerintah agaknya tidak mampu melakukan hal itu sendiri, mengingat segala keterbatasan pendanaan dan infrastruktur pendukung lainnya. Karena itu, dibutuhkan kontribusi dan peran pihak-pihak lain untuk mewujudkan hal itu.
Selain itu, perlu adanya penumbuhan niat bagi kalangan anak muda untuk mau menjadi pengusaha atau enterpreneur. Menko Perekonomian saat ini terus menggagas dan meluncurkan berbagai program pengembangan usaha untuk kalangan muda. Sebagai Menko, Hatta pun sudah memerintahkan lembaga pembiayaan pemerintah untuk mempermudah akses pinjaman/ kredit kepada para pengusaha muda. Selain itu, tinggal bagaimana kalangan muda, calon entrepreneur muda memanfaatkan program-program yang digulirkan pemerintah.
PENUTUP
            Indonesia saat ini membutuhkan para wirausaha muda untuk dapat mendukung pertumbuhan ekonomi negara. Jumlah wirausaha di Indonesia baru mencapai 0,24 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan wirausaha di beberapa negara luar yang tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi, seperti Amerika Serikat yang mencapai 11%, Singapura 7%, dan Malaysia 5 %.Dengan melihat  perbandingan jumlah wirausaha di negara maju tersebut, wajar jika pertumbuhan perekonomian di Indonesia masih lambat, meskipun saat ini Indonesia adalah negara dengan tingkat pertumbuhan stabil. Oleh karena itu, pemerintah harus mengembangkan sektor kewirausahaan dan meningkatkan jumlah wirausahawan agar dapat berperan dalam mendukung ekonomi negara. Namun harus diingat, pertumbuhan jumlah wirausahawan harus didukung oleh lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Pendidikan penting untuk memberi modal dasar bagi para wirausahawan. Melalui jalur pendidikan dapat mengubah pola pikir seseorang untuk menjadikan  wirausahawan yang bekerja dengan menggunakan ide dan kreativitas.
Peran perguruan tinggi, dalam hal ini dapat memotivasi para sarjananya menjadi young entrepreneurs, yang merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Siklus yang kemudian terjadi adalah dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana akan mengurangi pengangguran, serta menambah jumlah lapangan pekerjaan.Tidak ada satu pun negara maju tanpa ditopang pertumbuhan entrepreneur. Indonesia harus memperbesar jumlah wirausahawan minimal dua persen dari jumlah penduduk atau sekitar empat juta orang. Semoga pengusaha local akan bertambah, terlebih lagi kalau dimotori oleh sarjana karena itu secara tidak langsung akan berimbas pada sarjana lainnya untuk melakukan hal yang sama yaitu menjadi entrepreneur.

DAFTAR PUSTAKA

SARJANA ENGGAN BERWIRAUSAHA

Pelaksanaan pendidikan selama ini malah menjadi sumber masalah. Koq bisa.??? Ia soalnya pendidikan kita masih berorientasi pada tataran wacana dan konsep terus beranalisis tanpa sedikitpun tindakan. Hal ini juga berlaku pada pelaksanaan pendidikan kita (khususnya perguruan tinggi) sehingga berimbas pada mutu (kualitas) lulusan ketika mereka menjadi sarjana kelak. Banyaknya pengangguran intelektual mengakibatkan muncul rasa cemas dan khawatir kemana mereka akan kerja setelah mereka menamatkan studinya di perguruan tinggi. Hal lain yang menjadi pemikiran kita bahwa seolah – olah pendidikan kita tidak  pernah memberikan perspektif lain selepas lulus dari perguruan tinggi, kecuali hanya mencari kerja. Bukankah sarjana disiapkan untuk bisa berpikir kreatif dan mandiri untuk menciptakan lapangan kerja bukan untuk mencari lapangan kerja..???
 
  Wirausaha Muda


Dalam bukunya M Musrofi tentang “ KUNCI SUKSES BERWIRAUSAHA” menjelaskan 7 (tujuh) faktor mengapa sarjana kurang memiliki semangat berwirausaha, yakni :    
 1.       Kurangnya komitmen para pengambil keputusan didunia pendidikan untuk 
       membekali peserta didik  tentang kewirausahaan. Setidaknya aktivitas
       kewirausahaan sebagai aktivitas ekstrakurikuler dengan mendirikan pusat -
      pusat pemberdayaan wirausaha muda di sekolwah – sekolah menengah. 
      Di negara - negara maju banyak sekali berdiri organisasi kewirausahaan 
      untuk para pemuda (young entrepreneurship’s organization).
      2.       Serangkaian proses pendidikan formal tidak pernah memberikan motivasi 
      agar peserta didiknya mempunyai komitmen yang kuat untuk menemukan 
      atau menciptakan sesuatu yang baru. 
      3.       Proses pendidikan selama 16 tahun (SD - Perguruan Tinggi) ternyata tidak
       mampu memotivasi seseorang untuk mengenali jati diri.
      4.       Selama proses pendidikan tersebut, peserta didik tidak diberikan suatu 
      arahan atau bimbingan bagaimana   ia mampu merumuskan keadaannya
     di masa depan, ingin menjadi apa dan bagaimana ia 
            mampu meraih apa yang di inginkannya tersebut.
       5.       Kesenjangan antara teori dan praktek dalam proses pendidikan formal
       6.       Menurut Kiyosaki, orang berpendidikan tinggi sering terkena penyakit
       yang dikenal sebagai “Kelumpuhan Analisis”. Tak henti – hentinya 
       mencoba mencari kebenaran tanpa disertai tindakan. Mental pandai,
        tapi emosi dan fisik mereka lumpuh.
      7.    Perasaan malu. Mereka malu memulai usaha dari kecil.
Inilah sejumlah alasan mengapa para sarjana enggan untuk memulai 
usaha mereka.        
Bukankah perubahan terbesar di mulai dari langkah terkecil…???? 
 

Fakta Sarjana dan Wirausaha


Sarjana=Karyawan
atau
Sarjana=Bos


Sharing dikit yuk..
Sebelumnya TS minta maaf kalau ada tulisan yang kurang berkenan
TS hanya menyampaikan uneg-uneg yang selama ini dirasakan

Pandangan miring tentang berwirausaha adalah pilihan terakhir bagi yang tersisih dalam persaingan test CPNS harus diluruskan, pilihan berwirausaha bukanlah pecundang tetapi justru pilihan yang paling terhormat bagi para Sarjana sebab dengan mengangkat harkat dan martabat orang banyak mendapat peluang pekerjaan dialah pahlawan kehidupan di masa depan.

Mengapa para sarjana enggan membuat usaha sendiri?

pertama adalah secara umum kultur masyarakat masih mengagungkan profesi yang relatif tanpa resiko misalnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS), atau bekerja di perusahaan besar dan menjanjikan penghasilan pasti setiap bulannya. Namun, profesi yang relatif tanpa resiko sangat banyak pesaingnya dan akan sulit bersaing terutama dengan tenaga asing.

Kedua, menjadi wirausaha dianggap pekerjaan yang membutuhkan modal finansial yang tidak sedikit, padahal modal utama seorang wirausaha bukanlah uang melainkan kreativitas, inovatif dan berani menanggung resiko.

Ketiga, gengsi yang berlebihan akan muncul ketika anda telah menyandang status sarjana. contoh saja ketika anda memulai bisnis berjualan bakso, maka orang-orang akan menyindir anda sebagai sarjana bakso..kekuatan mental'lah yang disini akan diuji.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pada era globalisasi ini persaingan dalam segala bidang semakin ketat. Gelar kesarjanaan tidak lagi bisa dijadikan sebagai ukuran sebuah kesuksesan, jumlah sarjana semakin banyak, namun tidak berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Akibatnya kebanyakan sarjana terjebak menjadi pengangguran, selain karena tidak memiliki keterampilan dan keahlian.

Pendapat Peter F. Drucker, dalam bukunya Innovation and Entrepreneurship, setiap orang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dapat belajar menjadi wirausaha dan berperilaku seperti wirausaha. Sebab, kewirausahaan itu merupakan perilaku yang dasarnya terletak pada konsep dan teori, bukan pada intuisi. Perilaku, konsep dan teori merupakan hal-hal yang dapat dipelajari oleh siapapun juga.

Dewasa ini banyak kesempatan untuk berwirausaha bagi para sarjana yang jeli membaca peluang usaha. Dan mempelajari wirausaha bukan hal yang sulit, berbagai media telah tersedia, berbagai pelatihan wirausaha sering diadakan. Namun, kalau tidak dipraktekkan dengan memulai usaha, maka semuanya tidak akan pernah berarti.

Menurut hasil penelitian seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS), David McClelland, suatu negara dapat dikatakan makmur, minimal harus memiliki jumlah wirausahawan sebanyak dua persen dari jumlah populasi penduduknya. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata di negeri ini profesi wirausahawan adalah sesuatu yang langka.

Sampai saat ini jumlah wirausaha Indonesia hanya sekitar 0,24 persen dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 231 juta orang. Sementara Malaysia jumlah wirausahanya sudah mencapai 3 persen dari seluruh jumlah penduduk negara itu, Singapura 7 persen, Amerika Serikat 12 persen, serta China dan Jepang 10 persen dari jumlah penduduk mereka.

Namun, jumlah ini belum selaras dengan peran kewirausahaan yang sesungguhnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar usaha mereka menurut Rhenald Kasali (2010) adalah usaha yang dikelola secara asal-asalan, sekadar bisa menghidupi dan sangat informal. Padahal, Indonesia masih sangat memerlukan orang-orang berprofesi sebagai wirusaha, sebagai bagian dari penggerak ekonomi nasional.

Dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana akan mengurangi pertambahan jumlah pengangguran bahkan menambah jumlah lapangan pekerjaan.

Masalahnya, apakah yang perlu dipelajari para sarjana mengembangkan jiwa kewirausahaan?

Quote:Pertama, percaya diri, wirausaha merupakan seseorang yang percaya diri, mampu memanfaatkan sumber daya menjadi peluang dan dengan kreativitasnya mampu mengubah sesuatu menjadi lebih bermanfaat sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri, masyarakat yang ada disekitar lingkungannya, serta memberikan banyak pilihan barang dan jasa bagi konsumen.

Kedua, membangun etos kerja, siapa yang etos kerjanya tinggi selalu bergairah, bersemangat dalam menjalani kegiatan kerja yang telah diputuskan menjadi bagian dari kehidupannya. Mereka seolah-olah tidak mengenal lelah dan putus asa dalam menggeluti tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Ketiga, keberanian menciptakan ide-ide baru dengan mengambil risiko yang telah diperhitungkan, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dalam hal produk atau jasa dan dapat pula dalam hal proses dan berguna bagi dirinya dan orang lain.

Keempat, Sangat perlu adanya kejujuran, disiplin, keuletan, kesabaran dalam berbagai aspek dalam kehidupan dan memiliki kemampuan human relation kemampuan untuk memperjelas kemungkinan-kemungkinan kerjasama dengan pihak ketiga selaku pembeli barang dan jasa yang dihasilkan.

Kelima, harus mengerti proses produksi dari jasa atau produknya, sehingga bisa menentukan target pasarnya, harus mengerti pemasaran, untuk mengetahui di mana keunggulan produknya, mengerti Project Management untuk menjaga kualitas produk layanan, mengerti Akuntansi untuk melihat kesehatan usahanya. Jika tidak memiliki pengetahuan akuntansi, tidak bisa melihat seberapa sehat usaha yang di kembangkan, dengan akuntansi bisa menilai apa saja yang perlu ditingkatkan dan apa saja yang perlu diefisienkan.


Dalam bukunya M Musrofi tentang “ KUNCI SUKSES BERWIRAUSAHA” menjelaskan 7 (tujuh) faktor mengapa sarjana kurang memiliki semangat berwirausaha, yakni :

Quote:1.Kurangnya komitmen para pengambil keputusan didunia pendidikan untuk membekali peserta didik tentang kewirausahaan. Setidaknya aktivitas kewirausahaan sebagai aktivitas ekstrakurikuler dengan mendirikan pusat - pusat pemberdayaan wirausaha muda di sekolwah – sekolah menengah.
Di negara - negara maju banyak sekali berdiri organisasi kewirausahaan untuk para pemuda (young entrepreneurship’s organization).
2.Serangkaian proses pendidikan formal tidak pernah memberikan motivasi agar peserta didiknya mempunyai komitmen yang kuat untuk menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru.
3. Proses pendidikan selama 16 tahun (SD - Perguruan Tinggi) ternyata tidak mampu memotivasi seseorang untuk mengenali jati diri.
4. Selama proses pendidikan tersebut, peserta didik tidak diberikan suatu arahan atau bimbingan bagaimana ia mampu merumuskan keadaannya di masa depan, ingin menjadi apa dan bagaimana ia mampu meraih apa yang di inginkannya tersebut.
5. Kesenjangan antara teori dan praktek dalam proses pendidikan formal.
6. Menurut Kiyosaki, orang berpendidikan tinggi sering terkena penyakit yang dikenal sebagai “Kelumpuhan Analisis”. Tak henti – hentinya mencoba mencari kebenaran tanpa disertai tindakan. Mental pandai, tapi emosi dan fisik mereka lumpuh.
7. Perasaan malu. Mereka malu memulai usaha dari kecil.




inilah sarjana, hanya memandang sebelah mata berwirausaha,ketidak seriusan dalam memulai bisnis atau bisnis dengan setengah-setengah adalah kehancuran.dan disitulah jiwa wirausaha yang sesungguhnya muncul,jika kamu hanya mengikuti tren kamu akan balik menjadi karyawan dengan membawa ketakutanmu...tapi jika engkau wirausahawan sejati,kamu akan bangkit dan mulai membangunnya lagi dengan mengacu pada kesalahan yang lau...



pertanyaan TS :
1, Apa yang engkau pikirkan setelah wisuda?
2. Malukah anda keluar dari Jalur anda?(S.Kom jadi tukang bakso)
3. Merasa terbebani nggak dengan gelar yang engkau miliki untuk melangsungkan usaha?
 
Fakta Lain tentang sarjana dan wirausaha
Quote:
1.Makin tinggi pendidikan,makin malas jadi pengusaha

Salah satu penyebabnya, kurikulum pendidikan yang tidak mendorong minat menjadi wirausahawan. Melainkan, menjadi pekerja kantoran.

Paradigma masyarakat dan orangtua juga ikut memengaruhi. Yakni, lebih cenderung senang bila anaknya menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar ketimbang buka usaha kecil-kecilan sendiri.(main aman)

“Kesannya ketika makin tinggi (tingkat pendidikannya), orang malas jadi pengusaha UKM karena di bayangannya mereka inginnya jadi karyawan/digaji.

2.Soal Minat Berwirausaha, Sarjana Kalah Telak Dari Lulusan SD & SMP

Ini bukan cerita isapan jempol atau karena kebetulan saja. Tapi hasil riset menunjukkan demikian. Lulusan sarjana kalah telak dibanding lulusan Sekolah Dasar (SD) dalam hal memulai menjadi pengusaha.

“Datanya diolah dari data yang kami dapat dari Kementerian Pendidikan,” ungkap Deputi Pengembangan Kewirausahaan Kementerian Koperasi.

Rinciannya demikian. Lulusan Sekolah Menengah Umum (SMU) yang berminat jadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) hanya 22,63% dan lulusan sarjana hanya 6.14%. Sedangkan lulusan SD dan SMP mencapai 32,46%.

3.Lulusan Sarjana Malas berfikir dan cari yang instan.

Sebagian besar lulusan sarjana pasti bingung dan selalu bertanya-tanya.habis ini mau apa?kemana?pengen wirausaha tapi ga ada modal,ga kerja di bilang pengangguran,dll

dan sejak saat itu mulailah sibuk bikin surat lamaran untuk di lempar kesana kemari,apapun akan dikerjakan untuk menghindari cap pengangguran.

  sumber :  http://www.kaskus.co.id/thread/51d07905631243582300000b/fakta-sarjana-dan-wirausaha/