Sabtu, 08 Juni 2013

PENTINGNYA PENGETAHUAN INTELIJEN

Istilah intelijen akan senantiasa ditafsirkan dengan kegiatan mata-mata (spionase). Ada pula yang kemudian menghubungkan dengan nama-nama institusi spionase seperti KGB, Mossad, MI6, ataupun CIA. Anggapan-anggapan tadi tidaklah keliru dan benar adanya. Ada yang sesungguhnya jauh lebih penting dari sekedar penafsiran, yaitu pengetahuan (knowledge) intelijen. Artinya, intelijen sebagai pengetahuan seharusnya dapat menjadi suatu kebutuhan sehubungan dengan adanya upaya untuk mewujudkan kewaspadaan dan ketahanan nasional.

Sekilas Mengenai Sejarah Intelijen
Kegiatan spionase sesungguhnya sudah terjadi sejak di masa sebelum abad pertengahan. Perang besar yang pernah terjadi di muka bumi ini tidak lain merupakan hasil kegiatan spionase dan kontra spionase. Penaklukan Julius Cesar atas Mesir, Perang Salib, Perang Candu, dan lain sebagainya. Jika pembaca pernah menyaksikan film “Gladiator” yang dibintangi oleh Russel Crowe akan terlihat adegan kegiatan intelijen yang bertujuan untuk mendeteksi siasat para senator Roma. Pihak Romawi telah menerapkan prinsip-prinsip intelijen jauh mendahului karya intelijen yang ditulis oleh Sun Tzu. Organisasi rahasia seperti Klan Ninja di Jepang pun sangat bergantung dari kegiatan spionase (intelijen).

Peran intelijen di masa lalu belumlah menjadi suatu aktivitas yang terorganisir dan bersinergi ke dalam strategi. Barulah sejak Perang Dunia I mulai dipikirkan untuk mengorganisasikan peran intelijen ke dalam strategi penaklukan. Pembaca mungkin pernah mendengar dengan kisah spionase paling terkenal yang dilakoni oleh wanita berjulukan “Mata Hari”. Nama Mata Hari dikenal luas dalam dunia spionase yang sekaligus menjadi salah satu landasan pembelajaran dimulainya pengetahuan intelijen. Organisasi intelijen di masa Perang Dunia II dikemas ke dalam satuan militer yang sering disebut Gestapo. Peran Gestapo sendiri sebenarnya bersifat kegiatan internal atau aktivitas spionase dan kontra spionase yang berhubungan dengan kekuasaan.

Aktivitas intelijen semakin meningkat kualitasnya di masa Perang Dunia II. Misi yang dikenal dengan D-Day sesungguhnya membuka jalan bagi masuknya operasi intelijen. Kekalahan beruntun Jerman dikarenakan lemahnya operasi kontra spionase yang dimiliki oleh Hitler. Demikian pula kekalahan beruntun Jepang di pentas Perang Pasifik. Sekuat apapun kekuatan angkatan bersenta, tetapi tanpa didukung oleh operasi intelijen akan berbalik menjadi kekalahan besar atau mungkin kemenangan yang sangat mahal. Perang Dunia II sekaligus menjadi gerbang baru era organisasi intelijen, karena kemunculan perubahan peta geopolitik.

Apakah Yang Dimaksud Intelijen?
Dalam kitab perang legendaris “The Art of War” karya Sun Tzu disebutkan tentang pentingnya penguasaan atas informasi, “Kekuatan spionase adalah salah satu kunci keberhasilan menggali informasi. Hal sekecil apa pun akan sangat berguna jika kita bisa memaksimalkannya”. Pengertian tersebut yang selanjutnya menjadi landasan pemikiran operasi intelijen di seluruh dunia. Perang moderen bukanlah lagi perang fisik seperti pada perang dunia di masa lalu, melainkan perang informasi. Operasi intelijen menghimpun informasi di seluruh aspek, baik yang ada pada diri sendiri maupun segala aspek yang terdapat pada sasaran (musuh). Esensi pokok dari penggalian informasi tersebut berupa kelemahan (weakness) dan kekuatan/keunggulan (strengthness).

Kegiatan intelijen mengharuskan untuk dekat dengan sumber informasi yang berarti berada di dekat garis musuh atau disebut behind the enemy. Itu sebabnya terdapat istilah spionase atau aktivitas untuk memata-matai. Informasi yang dihimpun haruslah seakurat mungkin, sehingga tidak jarang mereka merekrut langsung sumber informasi (informan) dalam kegiatan spionase. Dukungan teknologi sangat diperlukan dan seringkali sangat menentukan keberhasilan operasi intelijen ataupun spionase. Keunggulan organisasi intelijen terletak pada kemampuannya untuk mengorganisasikan sumber-sumber informasi dan jaringan informasinya yang kemudian dapat difungsikan sesuai dengan pengertian intelijen.

Pada prinsipnya, operasi intelijen haruslah berada di dalam wilayah musuh. Jika tidak, maka tidak ada gunanya keberadaan organisasi intelijen.

Begitu dekatnya dengan garis batas musuh atau berada di dalam zona lawan, organisasi intelijen memiliki peran ganda, yaitu pengatur informasi. Bentuk mengatur informasi dapat berupa memanipulasi, rekayasa informasi, dan desain ulang informasi. Organisasi intelijen memiliki pula kemampuan untuk mengendalikan informasi, sesuai dengan agenda yang diinginkan. Terlihat cukup sederhana, tetapi mengendalikan informasi sama halnya dengan mengendalikan kekuatan musuh/lawan. Seperti yang dituliskan oleh Sun Tzu, apabila jenderal yang hebat akan mampu memenangkan peperangan tanpa melalui peperangan.

Organisasi intelijen bekerja dengan modus yang senyap, tidak terdeteksi, dan tidak meninggalkan jejak. Hal ini dilatarbelakangi oleh tuntutannya untuk berada di dalam garis pertahanan musuh. Masyarakat seringkali terhanyut dalam kebohongan aksi agen rahasia yang berkode 007. Operasi intelijen yang sesungguhnya tidaklah demikian penuh dengan adegan kekerasan yang nyata dan dibumbui eksplosivitas tinggi. Mereka bekerja sangat efektif dengan memanfaatkan jaringan intelijen yang mereka miliki. Target mereka paling tinggi adalah merekrut pejabat penting atau orang penting di organisasi musuh/lawan untuk selanjutnya dijadikan agen mereka. Tidak jarang organisasi intelijen yang berhasil bahkan mampu merekrut kepala pemerintahan ataupun pimpinan angkatan bersenjata di suatu negara.

Untuk Apa Pengetahuan Intelijen?
Pengetahuan intelijen di kalangan masyarakat bisa dikatakan masih teramat minim. Begitu pula dengan pemahamannya. Kegiatan intelijen hanya dikenal melalui film-film komersial. Padahal esensi yang sesungguhnya dari intelijen sangat jauh sekali dari yang diperlihatkan di film-film komersial. Pada prinsipnya, setiap individu ataupun institusi memiliki suatu kepentingan yang kemudian diikuti dengan ancaman (bahaya). Fungsi yang melandasi aktivitas intelijen adalah mengkonversikan setiap ancaman atau kelemahan ke dalam kepentingan (tujuan yang hendak dicapai) oleh masing-masing individu ataupun institusi.

Dalam bentuk yang sederhana sesungguhnya cukup banyak diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika Anda akan menghadapi orang yang nantinya akan menentukan keputusan penting untuk Anda, maka naluri Anda akan mendorong Anda untuk mencaritahu tentang sosok tersebut. Begitu pula ketika Anda merasa terganggu dengan sesuatu, maka naluri Anda akan langsung mencaritahu sesuatu yang mengganggu Anda dengan pertanyaan “Apa”, “Siapa”, dan “Bagaimana”. Ilustrasi lain seperti ketika Anda tertarik dengan sesuatu dan kemudian ingin memilikinya, maka naluri dasar akan mendorong Anda untuk mencari tahu (informasi) tentang sesuatu yang ingin Anda miliki. Sangat sederhana, tetapi di sinilah awal mula kegiatan intelijen yang salah satu bentuknya nanti memunculkan nama-nama seperti CIA, KGB, MI6, Mossad, dan lain sebagainya.

Anda mungkin pernah mendengar istilah ATHG, yaitu prinsip identifikasi atas ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan dalam upaya mencapai tujuan tertentu. Istilah yang dulu sering ditemukan dan disampaikan ke dalam materi “Ketahanan Nasional”. Identifikasi ATHG ini pun dimanfaatkan pula ke dalam prinsip perancangan/desain strategi bisnis. ATHG tidak lain adalah bentuk cara berpikir strategik yang menjadi bagian dari pengetahuan dasar intelijen. Persaingan bisnis seringkali akan dimenangkan oleh pihak yang mampu dengan cermat dan akurat mengidentifikasikan ATHG dan menerapkannya ke dalam strategi persaingan. Berangkat dari naluri dasar manusia atas ancama pada dirinya, maka dikembangkanlah pengetahuan intelijen.

Paska perang dingin (cold war), pengetahuan intelijen mulai dipergunakan dan diterapkan secara luas di seluruh bidang dan institusi. Tidak hanya institusi milik pemerintahan, akan tetapi telah masuk ke institusi bisnis (swasta). Kitab perang karya Sun Tzu yang diterapkan dalam strategi perdagangan menandakan masuknya doktrin intelijen ke dalam lingkungan persaingan yang membutuhkan kemampuan berpikir secara strategik. Istilah spionase pun mulai muncul di dalam lingkungan persaingan bisnis. Akuisisi ataupun merger yang dilakukan oleh perusahaan kuat biasanya didasarkan pada pertimbangan intelijen. Keberhasilan Samsung mencuri teknologi layar LCD dari Apple merupakan bentuk lain dari hasil operasi intelijen di bidang bisnis dan teknologi.

Melihat prinsip dasar dari cara berpikir intelijen, maka pengetahuan intelijen seharusnya menjadi bagian dari pengetahuan umum. Intelijen muncul dari hasil pembelajaran naluri dasar manusia untuk merespon ancaman maupun gangguan pada dirinya. Setiap orang tanpa disadari sebenarnya sudah menerapkannya dalam bentuk yang sangat sederhana dan belum diorganisasikan sebagai bentuk berpikir strategik. Berikut ini akan diuraikan mengenai ilustrasi sederhana dari cara berpikir strategik yang digunakan dalam organisasi intelijen.
Kasus 1
Seorang karyawan A bekerja di lingkungan perusahaan yang kemudian mengharuskan dirinya untuk bekerja secara tim yang terdiri atas 10 orang. Tentunya dari 10 orang masing-masing akan memiliki cara berpikir maupun karakter/watak yang berbeda-beda. Karyawan A tadi menyadari betapa kemampuannya mungkin masih di bawah rata-rata kemampuan rekan-rekannya yang sudah berpengalaman. Untuk mengatasi dan menguasai kondisi tadi, karyawan A kemudian mencari informasi mengenai kepribadian dari masing-masing rekannya. Cara yang dilakukan bisa dengan mengetahuinya dengan membaca bentuk wajah, bahasa tubuh, dan cara berinterksi dengan individu lainnya. Suatu waktu pula karyawan A mengenal langsung secara pribadi untuk mengorek kepribadian rekan-rekannya. Sampai pada akhirnya karyawan A mengetahui latar belakang rekan-rekannya dan kemudian dapat mengambil suatu kesimpulan untuk dapat menguasai karakter rekan-rekannya. Informasi yang diorganisasikan oleh karyawan A kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingannya bertahan hidup di perusahaan.
Kasus 2
Seorang pemilik usaha dan industri rumahtangga dihadapkan persaingan tidak sehat yang sering dialaminya. Si pemilik usaha mencoba untuk berpikir strategik dengan mencari informasi pihak-pihak yang dianggap paling dominan menciptakan iklim persaingan yang tidak fair. Tujuan penghimpunan informasi adalah untuk mencari celah ataupun titik lemah di mana si pemilik usaha tadi dapat memanfaatkannya. Caranya dapat dilakukan dengan bantuan karyawannya ataupun pihak lain dari aparatur pemerintahan yang dikenalnya maupun pelanggan dari pesaing-pesaingnya. Tujuan yang dikehendaki adalah mencoba untuk menguasai situasi sehingga si pemilik usaha tidak banyak ditekan oleh pengusahan lain dan produknya dapat bertahan di pasar. Bisa jadi si pemilik usaha menginginkan pula untuk merebut pelanggan lain untuk menjadi pelanggannya. Kemampuan untuk mengorganisasikan informasi tadi akan sangat menentukan hasil akhir situasi yang dikehendaki oleh si pemilik usaha.

Pengetahuan intelijen sudah seharusnya diperkenalkan dan mulai diterapkan sejak masa usia sekolah. Membutuhkan masa yang cukup lama melalui proses pembelajaran untuk dapat membentuk cara berpikir strategik. Setiap individu akan senantiasa dihadapkan pada suatu masalah berupa ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan di mana setiap individu dituntut untuk dapat menciptakan solusi berpikir yang tepat dan strategik. Cara berpikir strategik nantinya pula akan memberikan nilai tambah pada kualitas sumber daya manusia. Setiap orang di Indonesia mungkin tidak perlu lagi harus tergantung dengan ibukota ataupun daerah perkotaan untuk dapat membuat dirinya sejahtera. Setiap anak usia sekolah akan mengetahui pilihan yang tepat untuk dirinya setelah lulus SMP, yaitu melanjutkan ke SMA ataukah memilih untuk mengambil studi di SMK. Sedikit di antara masyarakat yang menyadari, apabila keputusan untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi seharusnya merupakan hasik keputusan strategik. Hal ini dilatarbelakangi masih lemahnya pengetahuan intelijen di masyarakat Indonesia.

Kewaspadaan Nasional
Bagian yang lebih penting dari pengetahuan intelijen adalah untuk mendukung terbentuknya kewaspadaan nasional. Berikut ini beberapa prinsip atas kewaspadaan nasional yang seharusnya dipahami oleh masyarakat Indonesia.
- Setiap bangsa akan senantiasa memiliki ancaman
- Setiap bangsa manapun akan senantiasa memiliki kelemahan dan keunggulan
- Ancaman dapat datang dari berbagai penjur, baik dari luar maupun dalam
- Tidak ada negara yang sesungguhnya bersahabat
Indonesia adalah satu-satunya negara yang posisinya tepat membentang pada pertemuan dua samudera dan dua benua dan berada di sepanjang garis khatulistiwa. Posisi yang memang cukup strategis bagi kepentingan perhubungan internasional, termasuk pula di antara jalur informasi intelijen. Disamping itu, Indonesia dikenal memiliki kekayaan alam atau sumber daya alam yang cukup melimpah dan beragam, mulai dari kekayaan migas, pertambangan, multi holtikultura, dan kekayaan kelautan. Negara dengan kekayaan alam yang melimpah akan senantiasa diikuti dengan semakin melimpahnya potensi ancamannya. Kita hendaknya harus belajar dari negara-negara maupun kawasan konflik di dunia ini yang merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam.

Identifikasi atas kelemahan diri sendiri juga sangat penting dalam mengorganisasikan informasi intelijen. Satu-satunya kelemahan yang nampaknya kurang banyak dipahami oleh bangsa Indonesia atas dirinya sendiri adalah persatuan. Pemahaman atas persatuan yang disampaikan lewat bangku sekolah dan lingkungan sosial masihlah pemahaman secara normatif, bukan pemahaman dalam berpikir strategik. Akibatnya, tidak jarang ditemukan akhir-akhir pertikaian antar umat beragama ataupun antar kelompok mulai bermunculan akhir-akhir ini. Jika dicermati, seringkali munculnya pertikaian tidak datang dengan sendirinya, melainkan hasil kerja operasi intelijen. Perbedaan pendapat memang bisa dikatakan sesuatu yang lumrah, tetapi ada pula perbedaan pendapat yang sengaja diciptakan sebagai bentuk manajemen konflik yang nantinya diarahkan pada upaya untuk memperlemah persatuan.

Beberapa bidang yang menjadi sasaran kewaspadaan nasional dikenal dengan istilah politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (poleksosbud hankam). Pada bidang-bidang tersebut yang nantinya akan ditumbuhkan ancaman maupun serangan yang pada akhirnya akan memperlemah karakter suatu bangsa. Masing-masing bidang pula memiliki identifikasi atas ATHG dan implementasinya ke dalam pertahanan dan keamanan rakyat semesta atau disebut hankamrata. Untuk menanggulangi ancaman tersebut memang diperlukan peran serta seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Pemahaman atas ancaman dan kelemahan ini membutuhkan cara berpikir strategik yang menjadi ciri khas pengetahuan intelijen yang selanjutnya akan merubah kelemahan dan ancaman tadi menjadi kekuatan nasional. Dengan memiliki kekuatan nasional yang kokoh, maka tidak sulit nantinya akan membentuk strategi berpikir untuk melakukan kontra intelijen.

Perang moderen atas penaklukan suatu bangsa saat ini tidak lagi dilakukan dengan perang besar seperti di masa lalu. Kitab perang Sun Tzu menuliskan apabila jenderal yang hebat apabila dirinya mampu memenangkan peperangan tanpa harus melalui peperangan.

Referensi
Conboy, Ken, 2007, Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
__________, 2011, Intel II: Medan Tempur Kedua, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Eisenberg, Dennis, Eli Landau, dan Uri, 2007, Mossad: Menguak Tabir Dinas Intelijen Israel, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Ostrovsky, Victor, 1990, By Way of Deception: The Making and Unmaking of Mossad Officer, St Martin’s Press, New York.
Thomas, Gordon, 2008, Gideon’s Spies: Sejarah Rahasia Mossad #1: Dari Kematian Lady Diana Hingga Paspor Palsu Yang Tercecer, Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta.
Weiner, Tim, 2007, Legacy of Ashes: The History of The CIA, Double Day Press, New York.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar