Sabtu, 08 Juni 2013

Asal-usul Kenapa Biaya Hidup di Jawa itu Murah

Pedagang adalah kelas yang dianggap hina di abad ke-18 Jawa. Dalam kitab Wulangreh, yang disebut sebagai karya Pakubuwana IV, ada sederet petuah bagi para aristokrat muda tentang perilaku yang baik dan yang buruk.




Dalam bagian ke-8, dengan bentuk tembang wirangrong, disebutkan empat cacat besar yang harus dihindari kaum ningrat. Yang pertama sifat pemadat (wong madati), yang kedua penjudi (wong ngabotohan), dan yang ketiga penjahat (wong durjana). Yang keempat, sifat "orang berhati saudagar".
  • wong ati sudagar awon, mapan suka sugih watekipun, ing rina lan wengi, mung bathine denetang, alumuh lamun kalonga.
  • Iku upamane ugi, duwe dhuwit pitung bagor, mapan nora marem ing tyasipun, ilanga sadhuwut, gegetun patang warsa, padha lan ilang saleksa.

    Orang yang berhati saudagar, menurut Wulangreh, hanya menyukai kekayaan. Siang-malam cuma laba yang ia hitung, cemas kalau berkurang. "Uang tujuh karung" pun tetap tak akan memuaskannya. Ia akan murung "selama empat tahun" bila jumlahnya berkurang sedikit, seakan-akan hartanya lenyap berjuta-juta. Di dunia Pakubuwana IV (1788-1820)
     
  • Raja Surakarta yang disebut juga Sunan Bagus, yang ethis berpaut dengan yang esthetis: kehalusan budi ditandai dengan sikap elegan. Itu sebabnya citra kaum saudagar dalam Wulangreh sebenarnya tak ada kaitannya dengan kejahatan atau kebejatan.

    Di bagian ke-11 kitab itu, Pakubuwana mengecam orang semasanya yang setelah beroleh kedudukan bersikap seperti pedagang: sibuk membuat perhitungan, ingin serba cepat dapat, hingga tingkah lakunya pun berantakan: polahe salang-tunjang.
Pandangan seorang aristokrat kepada para pedagang yang seperti ini tentu tidak hanya di Jawa. Di Cina, kaum shang berada di lapisan terbawah struktur sosial. Di atasnya kelas shi (priayi berilmu), nong (petani), dan gong (tukang, pekerja kriya). Di masa Dinasti T'ang (618-907), ketika ekonomi Cina tumbuh pesat dan para pedagang jadi sangat kaya, takhta kerajaan cemas melihat tanda-tanda ketegangan sosial.

Para aristokrat dan petani tak suka pameran kemewahan kaum shang, yang dihina sebagai benalu: makhluk yang menghimpun harta dari kerja orang lain tanpa mereka sendiri mengeluarkan keringat. Maka titah pun dimaklumkan untuk mengatur cara para saudagar berpakaian, berkendaraan, dan bertempat tinggal. Keterlibatan kelas ini dalam peristiwa sosial dibatasi. Mereka dianggap vulgar.


Di Jepang, shang disebut shô. Di sini pun, lapisan sosial ini dilihat dengan ambivalen: mereka terpaksa diterima karena punya peran penting, tapi kaum samurai—kaum aristokrat—memandangnya dengan menista, curiga, dan cemburu.


Sikap ini tumbuh menjalar di masa selanjutnya. Ada sebuah gambar cetakan kayu karya Kawanabe Kyosai, bagian dari seri Isoho Monogatari, di pertengahan tahun 1870-an: sebuah karikatur yang tajam tentang masyarakat di masa itu (lihat gambar).


Di tengah bidang tampak satu sosok berparas buruk duduk mengisap cangklong. Ia pakai dasi lebar yang bertulisan (dalam huruf Latin, dan bahasa Inggris) "FINANCIER". Di sekitarnya ada makhluk-makhluk grotesk yang tampak bekerja keras di lantai.


Dengan itulah Kyosai mengecam kondisi sosial Jepang di abad ke-19, ketika modernitas mulai membawa kegairahan dan kepedihan. Sang perupa menamai karyanya "Si Malas di Tengah-tengah". Si Malas adalah si pengatur uang, si pedagang busuk, lintah yang tak henti-hentinya mengisap hasil jerih payah orang lain. Dan lintah itu "asing". Ia bertopi tinggi dan berdasi dengan bahasa bukan-Jepang.


Dua kegetiran bertemu dalam kritik sosial Kyosai: ia memprotes dominasi modal dan sekaligus kekuatan asing. Dalam perkembangan pemikiran politik Jepang, dua kegetiran itu tetap kuat bahkan dapat ditemukan di dua kubu yang berseberangan: di kalangan kaum nasionalis kanan dan kaum kiri yang menuntut keadilan.


Di Indonesia, satu setengah abad setelah Wulangreh, sikap yang menampik wong ati sudagar itu juga berevolusi. Ia membayang dalam gerakan sosialis dan kaum nasionalis dalam pelbagai variannya, ketika di abad ke-20 timbul pembangkangan terhadap kolonialisme Belanda. Bagi kaum sosialis, watak yang siang-malam menghitung laba adalah watak kapitalisme, dan ini yang akhirnya menguasai koloni yang disebut "Hindia Belanda." Bagi kaum nasionalis, kapitalisme Belanda itu harus enyah karena ia "bukan-kita".


Tapi Wulangreh-isme yang tersirat dalam ideologi politik Indonesia akhirnya bertabrakan dengan sejarah. Seperti halnya di Cina dan di Jepang, kaum pedagang dengan kekuatan uang mereka mendesakkan diri. Mereka bahkan mengambil alih posisi yang semula dikuasai para ningrat, para pemilik takhta, para shi dan samurai.


Sejarah berlanjut. Di abad ke-21 ini tak ada lagi sikap yang menganggap kaum pedagang buruk dan tak elegan. Mungkin ini satu kemajuan. Tapi proses lain terjadi: saudagar-isme jadi pola perilaku di mana-mana, juga dalam politik. Untuk meminjam dikotomi Albert Hirschman, passion terdesak interest.

Politik yang lahir dari gelora hati telah diambil alih politik sebagai kalkulasi kepentingan. Kampanye sebagai pembentukan solidaritas pun jadi pemasaran dengan iklan dan door prize. Konstituen adalah konsumen.

Yang mencemaskan, seperti diutarakan Wulangreh, ketika linggihe lawan tinuku, kedudukan yang diperoleh lewat jual-beli akhirnya akan merusak ruang hidup bersama, tan wurung angrusak desa. Dan ruang itu sirna.
Goenawan Mohamad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar