Rabu, 27 Mei 2015

Ulangi Kisah Osama, 100 Agen CIA Buru Bos ISIS

Sekitar 100 agen rahasia CIA dan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dikerahkan untuk memburu pemimpin kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Abu Bakar al-Baghdadi, 42.
Ulangi Kisah Osama, 100 Agen CIA Buru Bos ISIS
Pasukan khusus AS dan target buruannya, Abu Bakar al-Baghdadi (kanan bawah). | (Mirror)

Pemerintah AS menganggap perburuan terhadap Baghdadi mirip dengan perburuan pendiri al-Qaeda, Osama bin Laden. Sebab, seperti halnya Osama bin Laden, Baghdadi juga dijuluki AS sebagai “hantu” karena tidak meninggalkan jejak, meskipun pengikutnya banyak.

Ini adalah perburuan kontra teror terbesar AS sejak mereka berhasil melacak dan membunuh Osama bin Laden tahun 2011. AS juga mengerahkan pesawat mata-mata, citra satelit dan melakukan penyadapan telepon untuk membantu perburuan itu.

“Al-Baghdadi sulit dipahami tetapi ia akan ditemukan pada akhirnya,” kata sumber intelijen AS, seperti dikutip Mirror, Senin (18/8/2014) .”Pasukannya yang meregang sehingga panggilan telepon pasti akan dilakukan. Ini yang akan jadi titik lemah (Baghdadi),” lanjut sumber itu.

Sementara itu, Inggris juga ikut mengerahkan pesawat mata-mata untuk ikut memerangi ISIS. Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, mengisyaratkan bahwa pasukan Inggris bisa terlibat dalam pertempuran dengan ISIS.

”Kita tidak bisa tahu persis bagaimana hal ini akan terungkap. Ini bukan sekadar misi kemanusiaan,” ujar Fallon. (Sindo)

Badan Intelijen Inggris MI5 Cari Ahli Soal Rusia

Badan intelijen Inggris MI5 memutuskan untuk memperkuat timnya dengan lebih banyak ahli soal Rusia di tengah krisis politik yang sedang berlangsung di Ukraina. Saat ini badan yang nama resminya adalah The Security Service itu mempekerjakan analis bidang intelijen Rusia untuk memantau panggilan telepon dan e-mail yang berhasil dicegat.
Markas MI5


Menurut David Leppard dari The Times, badan intelijen yang menangani urusan dalam negeri Inggris itu mengiklankan posisi itu di surat kabar minggu ini. Lowongan pekerjaan ini juga terdapat dalam situs resmi MI5, kata situs Russia Today edisi 27 April 2014.

Pemohon yang berhasil lolos akan bertugas mendengarkan panggilan telepon dalam bahasa Rusia, menangani dokumen tertulis "yang berhasil dicegat berdasarkan surat perintah pengadilan", dan memberikan dukungan ahli untuk petugas yang melakukan penyelidikan.

Pembicara yang fasih berbahasa Rusia akan memberikan "analisis yang jelas dengan berbagai cara" yang itu, kata MI5, akan "membantu menjaga keamanan nasional."

"Pekerjaan Anda ini akan memungkinkan kita untuk mengetahui dengan baik potensi ancaman terhadap keamanan nasional, termasuk terorisme dan spionase," kata situs MI5 soal deskripsi pekerjaan bidang ini.

Analis intelijen Rusia MI5 juga akan bekerja sama dengan Secret Intelligence Service (SIS or MI6) and the Government Communications Headquarters (GCHQ). MI6 adalah badan intelijen bidang luar negeri Inggris.

Mereka yang bisa mengisi posisi ini akan mendapatkan gaji sekitar US$ 50.000 per tahun atau Rp 600 juta. Selain fasih berbahasa Rusia, kewarganegaraan Inggris juga merupakan suatu keharusan.

Perekrutan MI5 terjadi di tengah ketegangan yang meningkat antara Barat dan Rusia atas krisis politik di Ukraina, bekas republik di bawah Uni Soviet. Meskipun kedua belah pihak sepakat tentang perlunya deeskalasi situasi di Ukraina, belum ada titik temu soal pendekatan untuk mengakhiri krisis tersebut. (Tempo)

Badan Intelijen AS dan Inggris Pecahkan Sandi Situs Internet

Badan-badan intelijen Amerika Serikat dan Inggris telah memecahkan sandi pengamanan komunikasi secara luas, termasuk surat elektronik, transaksi bank serta pembicaraan melalui telepon, demikian menurut informasi dari dokumen yang bocor.
Badan Intelijen AS dan Inggris Pecahkan Sandi Situs Internet

Dokumen-dokumen yang dibocorkan oleh mantan pegawai kontrak badan intelijen AS, Edward Snowden, kepada The New York Times, ProPublica dan The Guardian itu menunjukkan bahwa badan mata-mata kedua negara memiliki kemampuan untuk menguraikan data walaupun ada sandi pengaman yang seharusnya dapat menjaga kerahasiaan, lapor AFP.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), bekerja sama dengan mitranya dari Inggris, GCHQ, berhasil melakukan pemecahan sandi dengan menggunakan komputer-komputer berkemampuan super serta atas kerja sama yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan teknologi.

Jika laporan dokumen itu memang akurat, program sangat rahasia itu akan mengalahkan banyak kegiatan penyimpanan data dan rahasia pribadi secara aman di Internet, dari surat elektronik hingga pembicaraan dan komunikasi melalui telepon pintar.

Laporan-laporan itu juga mencatat bahwa para pejabat intelijen AS meminta New York Times dan ProPublica untuk tidak memuat artikel tentang masalah itu.

Para pejabat intelijen AS dilaporkan khawatir bahwa pemuatan artikel akan mendorong target-target asing untuk mengubah sandi atau komunikasi sehingga akan semakin sulit untuk didapat ataupun dibaca

ProPublica merupakan organisasi independan dan nirlaba yang bergerak dalam kegiatan jurnalistik investigatif dan telah bermitra dengan The Guardian dan The New York Times dalam melakukan pengkajian terhadap dokumen-dokumen Snowden,

ProPublica mengatakan pihaknya memutuskan untuk terus maju menerbitkan artikel karena menganggap artikel itu penting untuk dibaca oleh publik.

"Kami meyakini (artikel) ini penting. (Artikel) ini menunjukkan bahwa jutaan orang pengguna Internet salah jika mereka berharap bahwa komunikasi elektronik mereka dapat terjaga kerahasiaannya," kata dewan editor ProPublica dalam sebuah catatan.

"Harapan-harapan ini (tentang kerahasiaan) telah menuntun orang-orang menjalankan kegiatan pribadi and bisnis secara tertutup, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang polos dan tidak melakukan pelanggaran. Kemungkinan adanya penyalahgunaan program pengintaian, termasuk untuk tujuan politis, perlu dipertimbangkan."

Laporan itu juga mengatakan NSA telah berupaya untuk memecahkan sandi Internet selama lebih dari 10 tahun setelah badan keamanan AS itu tidak berhasil menekan perusahaan-perusahaan teknologi untuk memberikan "kunci" sandi.

Laporan yang dikeluarkan The New York Times mencatat bahwa walaupun bisa digunakan untuk menggagalkan rencana teror, kemampuan memecahkan sandi itu secara tak sengaja menyebabkan dampak dengan melemahkan keamanan komunikasi.

"Resikonya adalah, ketika kita ingin membuat jalan belakang untuk masuk ke sistem, kita bukan satu-satunya yang akan melakukan eksploitasi," kata peneliti ilmu membaca bahasa sandi, Matthew Green, kepada New York Times.  (Antara)

Greenwald : Snowden punya lebih banyak rahasia AS-Israel untuk diekspose

Mantan kontraktor badan intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden, memiliki lebih banyak rahasia untuk disiarkan terkait Israel, kata seorang wartawan yang pertama kali mengungkap kebocoran itu kepada dunia, Senin.
Glenn Greenwald, penulis blog dan jurnalis yang mengungkap skandal pengawasan Badan Keamanan Nasional AS (NSA), menggunakan komputer jinjing miliknya sebelum diwawancara oleh Reuters di Rio de Janeiro, Brazil, Selasa (9/7). Greenwald, warga negara AS yang bekerja untuk harian Guardian Inggris dan tinggal di Rio de Janeiro, merupakan jurnalis pertama yang mengungkap dokumen rahasia yang dibocorkan oleh mantan kontraktor badan mata-mata AS Edward Snowden.

Di antara sejumlah tuduhan yang disiarkan oleh Snowden tahun lalu adalah bahwa Badan Keamanan Nasional AS dan timpalannya dari Inggris GCHQ pada tahun 2009 telah menyasar sebuah alamat surat elektronik yang terdaftar sebagai milik Perdana Menteri Israel saat itu Ehud Olmert dan memantau surat elektronik para pejabat senior pertahanan.

Israel meremehkan pengungkapan itu. Namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan ia telah memerintahkan hal tersebut untuk diperiksa dan mengatakan bahwa "ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan" antara sekutu.

Glenn Greenwald, seorang wartawan Guardian Inggris yang bertemu langsung dengan Snowden --yang menjadi buronan-- dan telah menulis atau menulis bersama banyak artikel di surat kabar berdasarkan bahan-bahan dari Snowden, ditanya dalam wawancara televisi Israel apakah mantan kontraktor itu memiliki lebih banyak materi terkait Israel.

"Ya. Saya tidak ingin membahas kisah yang belum diterbitkan, tapi ini jelas kasus yang masih memiliki banyak kisah sangat signifikan yang tersisa untuk disiarkan," kata Greenwald yang tinggal di Brazil, berbicara kepada Channel Ten TV melalui jaringan video.

"Kami hanya memiliki dokumen-dokumen ini selama tujuh bulan, yang, mengingat jumlah dan kerumitannya, bukan waktu yang lama. Jelas ada kisah yang melibatkan Timur Tengah, yang melibatkan Israel. Pelaporan terus terjadi bersamaan dengan peristiwanya."

Bulan lalu, sejumlah anggota kabinet Israel mengatakan bahwa berita tentang aksi memata-matai yang dilakukan Amerika Serikat pada Israel adalah peluang bagi media untuk menekan Amerika Serikat agar membebaskan agen Israel yang dipenjara Jonathan Pollard.

Pollard, mantan analis intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat, dihukum seumur hidup pada tahun 1987 di Amerika Serikat karena memata-matai untuk Israel. Suksesi presiden Amerika Serikat telah menolak seruan Israel untuk pengampunannya.

Dalam apa yang tampaknya merupakan upaya untuk menenangkan seruan Netanyahu mengatakan jika Israel terus mengupayakan pembebasan Pollard dan tidak memerlukan "kesempatan istimewa" untuk membahas kasusnya dengan Washington.

Greenwald menyuarakan pandangannya terkait kasus Pollard.

"Saya pikir Anda benar untuk membandingkan kasus Jonathan Pollard dengan pengungkapan aksi mata-mata Amerika Serikat pada sekutu dekatnya dalam pemerintah Israel,... menggarisbawahi kemunafikan yang menjadi inti dari apa yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat," katanya. (Antara)

AS Terkejut Atas Meluasnya Aksi Spionase Israel

Aktivitas spionase Israel yang agresif dan meluas di daratan Amerika Serikat memicu kekhawatiran dan kemarahan pejabat pemerintah Amerika dan menyebutnya telah melewati batas," tulis Newsweek dalam edisi Selasa, 7 Mei 2014.
AS Terkejut Atas Meluasnya Aksi Spionase Israel

Laporan itu mengutip pejabat intelijen senior dan staf kongres, yang tak bersedia disebut namanya, yang telah mengetahui informasi rahasia tentang kegiatan mata-mata Israel. Staf Kongres itu menyebut tingkat spionase Israel sudah dalam taraf "serius" dan "mengejutkan", jauh melebihi kegiatan serupa oleh sekutu dekat AS lainnya.

Beberapa aksi mata-mata itu diduga terkait soal industri, yang dilakukan oleh perusahaan Israel atau perorangan. Namun, jumlah yang signifikan dari aksi spionase itu tampaknya merupakan aksi pengintaian oleh negara, kata Newsweek.

"Tidak ada negara lain mengambil keuntungan dari hubungan soal keamanan seperti cara Israel untuk tujuan spionase," kata salah satu mantan penasehat anggota Kongres AS yang menghadiri briefing rahasia tentang masalah ini kepada Newsweek. "Hal ini cukup mengejutkan. Maksud saya, jangan dilupakan oleh siapa pun bahwa setelah semua cuci tangan (Jonathan) Pollard, (aksi spionase) itu masih berlangsung."

Pollard, seorang analis intelijen Angkatan Laut kelahiran AS, hingga kini masih menjalani hukuman seumur hidup di penjara North Carolina karena melakukan aksi mata-mata untuk Israel. Dia ditangkap pada 1985.

Masalah kegiatan mata-mata Israel saat ini tampaknya terkait keinginannya untuk bergabung dengan program bebas visa AS, yang akan memungkinkan warga Israel mendapatkan kemudahan lebih besar dalam melakukan perjalanan ke AS.

Persyaratan untuk masuk dalam program bebas visa cukup sulit. Menurut Department of Homeland Security yang dikutip Newsweek, ini termasuk "peningkatan penegakan hukum yang berhubungan dengan keamanan berbagi data dengan Amerika Serikat, pelaporan yang tepat dari paspor yang hilang dan dicuri, menjaga standar tinggi kontraterorisme, penegakan hukum, pengawasan perbatasan, standar penerbangan dan keamanan dokumen."

Dua hambatan yang dikatakan paling serius terkait penolakan visa disebabkan oleh peningkatan jumlah orang muda Israel yang ingin masuk Amerika sebagai wisatawan dan kemudian bekerja secara ilegal dan dugaan diskriminasi Israel terhadap warga Arab-Amerika.

Diplomat Israel mengatakan bahwa mereka sudah melakukan langkah-langkah konkret untuk memenuhi standar yang dibutuhkan AS. Namun, mantan asisten anggota Kongres mengatakan sebaliknya. "Mereka berpikir bahwa teman-teman mereka di Kongres bisa mendapatkan itu dan itu tidak terjadi," katanya. Israel dianggap tidak melakukan sesuatu yang membuatnya bisa masuk dalam program bebas visa itu.

Bahkan, jika mereka memenuhi syarat itu, kata laporan Newsweek, para pejabat AS juga khawatir masuknya Israel ke dalam program bebas visa itu akan membuat negara Yahudi lebih mudah untuk memata-matai sekutunya ini.

"Mereka sangat agresif. Mereka agresif dalam semua aspek hubungan mereka dengan Amerika Serikat," kata asisten Kongres itu. "Jika kita memberi mereka kebebasan untuk mengirim orang di sini, bagaimana kita akan hentikan itu?" (Tempo)

Intelijen Amerika dan Inggris Juga Ternyata sadap perdana menteri Israel

Intelijen Inggris dan Amerika Serikat mempunyai daftar target penyadapan terhadap sejumlah lembaga maupun individu, termasuk Uni Eropa, gedung pemerintahan Jerman di Berlin dan di luar negeri, serta perdana menteri Israel.

Surat kabar the Guardian melaporkan, Sabtu (21/12), laporan yang dibocorkan oleh mantan pekerja kontrak Badan Keamanan Amerika (NSA) Edward Snowden itu memperlihatkan NSA dan intelijen Inggris menargetkan aktivitas organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Unicef dan organisasi Prancis Medecins du Monde yang menyediakan dokter dan sukarelawan di daerah konflik.

Tak hanya itu, dokumen intelijen Inggris pada Januari 2009 mengatakan intelijen itu menyadap surat elektronik sekutu penting Amerika yakni Perdana Menteri Israel Ehud Olmert. Mereka juga ternyata menyadap surat elektronik Menteri Pertahanan Israel ketika itu Ehud Barak, dan kepala stafnya, Yoni Koren.

Tokoh penting lain yang menjadi target penyadapan itu termasuk di antaranya Wakil Presiden Komisi Uni Eropa asal Spanyol Joaqin Almunia.

Kabar itu sontak menuai kecaman dari berbagai kalangan internasional.

Almunia dikabarkan berang ketika mengetahui namanya termasuk dalam dokumen intelijen Inggris. Direktur Eksekutif Medecins du Monde Leigh Daynes juga mengatakan terkejut dengan laporan itu. Dia menyatakan dokter-dokter, perawat, dan sukarelawan sama sekali bukan ancaman bagi keamanan nasional.

"Tak ada alasan untuk mengawasi aktivitas kami secara diam-diam," kata Daynes. (Merdeka)

Mantan Agen CIA: ISIS Dibentuk Israel, Amerika dan Inggris

Mantan pegawai Badan Keamanan Nasional (NSA) dan agen Central Intelligence Agency (CIA), Edward Snowden mengungkapkan bahwa Islamic State of Irak and Syria (ISIS) bukan murni organisasi militan Islam. Organisasi ini merupakan bentukan Amerika, Israel dan Inggris.
ISIS Dibentuk Israel, Amerika dan Inggris

Menurut media-media di Iran, sepeti dikutip Moroccantimes, pemimpin ISIS, Abu Bakr Al Baghadadi dilatih secara khusus oleh badan intelijen Israel, Mossad. Badan intelijen tiga negara tersebut sengaja membentuk kelompok teroris untuk menarik kelompok-kelompok garis keras di seluruh dunia dalam satu tempat. Mereka menyebut strategi ini “sarang lebah”.

Dengan strategi ini, kelompok-kelompok yang merupakan musuh Israel dan sekutunya itu jadi lebih mudah terdeteksi. Tujuan lainnya, untuk merawat instabilitas di negara-negara Arab.

“Satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi adalah untuk menciptakan musuh di sekitar perbatasan,” ujar Snowden.

Menurut Snowden, Abu Bakr Al Baghadadi tak hanya mendapat pelatihan militer, namun juga keterampilan komunikasi dan public speaking agar bisa tampil meyakinkan untuk menarik para pengikut garis keras lain di seluruh dunia. (MetroTV)