Senin, 27 Oktober 2014

Istilah Kata Dalam Bahasa Malaysia Yang Bikin Ketawa

Jika kita belum terbiasa mendengar kata kata dalam bahasa Malaysia pastinya kamu akan tertawa jika mendengarnya, seperti yang kita ketahui Malaysia mengunakan bahasa melayu sebagai bahasa nasionalnya. Nah berikut ini ada beberapa kata resmi pemerintah Malaysia yang terkesan lucu bagi telinga orang Indonesia mau tahu apa aja itu simak berikut ini.

INDONESIA : Kementerian Hukum Dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh

INDONESIA : Kementerian Agama
MALAYSIA : Kementerian Tak Berdosa.

INDONESIA : Angkatan Darat
MALAYSIA : Laskar Hentak-Hentak Bumi

INDONESIA : Angkatan Udara
MALAYSIA : Laskar Angin-Angin

INDONESIA : `Pasukaaan bubar jalan !!!’
MALAYSIA : `Pasukaaan cerai berai !!!’

INDONESIA : Merayap
MALAYSIA : Bersetubuh dengan bumi

INDONESIA : rumah sakit bersalin
MALAYSIA : hospital korban lelaki

INDONESIA : telepon selular
MALAYSIA : talipon bimbit

INDONESIA : Pasukan terjung payung
MALAYSIA : Aska begayut

INDONESIA : belok kiri, belok kanan
MALAYSIA : pusing kiri, pusing kanan

INDONESIA : Departemen Pertanian
MALAYSIA : Departemen Cucuk Tanam

INDONESIA : 6.30 = jam setengah tujuh
MALAYSIA : 6.30 = jam enam setengah

INDONESIA : gratis bicara 30menit
MALAYSIA : percuma berbual 30minit

INDONESIA : tidak bisa
MALAYSIA : tak boleh

INDONESIA : WC
MALAYSIA : tandas

INDONESIA : Satpam/sekuriti
MALAYSIA : Penunggu Maling

INDONESIA : Aduk
MALAYSIA : Kacau

INDONESIA : Di aduk hingga merata
MALAYSIA : kacaukan tuk datar

INDONESIA : 7 putaran
MALAYSIA : 7 pusingan

INDONESIA : Imut-imut
MALAYSIA : Comel benar

INDONESIA : pejabat negara
MALAYSIA : kaki tangan negara

INDONESIA :bertengkar
MALAYSIA : bertumbuk

INDONESIA : pemerkosaan
MALAYSIA : perogolan

INDONESIA : Pencopet
MALAYSIA : Penyeluk Saku

INDONESIA : joystick
MALAYSIA : batang senang

INDONESIA : Tidur siang
MALAYSIA : Petang telentang

INDONESIA : Air Hangat
MALAYSIA : Air Suam

INDONESIA : Terasi
MALAYSIA : Belacan

INDONESIA : Pengacara
MALAYSIA : Penguam

INDONESIA : Sepatu
MALAYSIA : Kasut

INDONESIA : Ban
MALAYSIA : Tayar

INDONESIA : remote
MALAYSIA : kawalan jauh

INDONESIA : kulkas
MALAYSIA : peti sejuk

INDONESIA : chatting
MALAYSIA : bilik berbual

INDONESIA : rusak
MALAYSIA : tak sihat

INDONESIA : keliling kota
MALAYSIA : pusing pusing ke Bandar

INDONESIA : Tank
MALAYSIA : Kereta kebal (suntik kale..)

INDONESIA : Kedatangan
MALAYSIA : ketibaan

INDONESIA : bersenang-senang
MALAYSIA : berseronok

INDONESIA : bioskop
MALAYSIA : panggung wayang

INDONESIA : rumah sakit jiwa
MALAYSIA : gubuk Gila

INDONESIA : dokter ahli jiwa
MALAYSIA : Dokter Gila

INDONESIA : narkoba
MALAYSIA : dadah

INDONESIA : pintu darurat
MALAYSIA : Pintu kecemasan

INDONESIA : hantu pocong
MALAYSIA : hantu Bungkus

Indonesia Raya / Melayu Raya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
Peta Indonesia Raya, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Timor Leste

 
Indonesia Raya atau Melayu Raya adalah gagasan atau konsep politik yang bertujuan mempersatukan rumpun bangsa Melayu dalam kesatuan negara kebangsaan dengan menggabungkan wilayah koloni Britania Raya di Semenanjung Malaya dan Borneo Utara (wilayah yang kini membentuk negara Malaysia, Singapura, dan Brunei), dengan Hindia-Belanda (kini Indonesia).[1] Gagasan Melayu Raya diajukan oleh para pelajar dan alumni Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaya Britania, pada tahun 1920-an, dan kemudian gagasan yang sama yang disebut Indonesia Raya diajukan oleh para tokoh politik Indonesia dari Sumatera dan Jawa, seperti Muhammad Yamin dan Sukarno pada tahun 1950-an.

Pertumbuhan gagasan di era kolonial

Gagasan Melayu Raya ini diajukan oleh seorang guru sejarah dari Universitas Pendidikan Sultan Idris, Abdul Hadi Hassan, Malaya Britania.[butuh rujukan] Selain karena persamaan suku bangsa, bahasa, agama, dan budaya kebanyakan rakyatnya sebagai bangsa serumpun dan serantau di Nusantara, gagasan ini didasari kesadaran sejarah bahwa wilayah Malaya Britania, Borneo Utara, dan Hindia-Belanda dulu pernah dipersatukan dalam sebuah kemaharajaan raya, seperti Sriwijaya, Majapahit, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor-Riau, hingga akhirnya dipisahkan oleh kolonialisme Inggris dan Belanda.
Pada akhir dekade 1920-an gagasan membentuk negara kebangsaan yang merdeka dan berdaulat tumbuh di antara rakyat koloni Hindia-Belanda. Sementara di Semenanjung Malaya gagasan untuk membentuk Melayu Raya diajukan, di Hindia-Belanda tokoh pemuda pergerakan nasional lebih memusatkan perhatian pada gagasan untuk menyusun negara kebangsaan Indonesia sebagai pewaris Hindia-Belanda jika kelak menjadi negara merdeka. Pada tahun 1928 dicetuskanlah Sumpah Pemuda yang bertujuan mempersatukan bangsa Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan.[2]
Kelompok nasionalis Melayu; Kesatuan Melayu Muda, yang didirikan oleh Ibrahim Yaakob pada tahun 1938, adalah salah satu organisasi yang secara tegas menganut gagasan ini sebagai cita-cita perjuangannya.[3]

Masa pendudukan Jepang

Pada saat Perang Dunia II para pendukung gagasan Indonesia Raya atau Melayu Raya bekerja sama dengan kekuatan tentara pendudukan Jepang untuk melawan Inggris dan Belanda.[4] Sikap bekerja sama ini didasari dengan harapan bahwa Jepang akan mempersatukan Hindia-Belanda, Malaya dan Borneo dan kemudian memberikan kemerdekaan.[4] Dipahami bahwa dengan bersatunya wilayah koloni Eropa ini dalam suatu wilayah pendudukan Jepang, maka pembentukan sebuah kesatuan negara Indonesia Raya atau Melayu Raya dimungkinkan.[4] Pada bulan Juli 1945 dibentuk KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung), yang kelak diubah menjadi "Kekuatan Rakyat Indonesia Istimewa" di bawah pimpinan Datuk Ibrahim Yaakob dan Dr. Burhanuddin Al-Hemy dengan tujuan mencapai kemerdekaan dari Inggris, dan persatuan dengan Indonesia. Rencana ini sudah dirundingkan dengan Sukarno dan Hatta. [5]
Pada 12 Agustus 1945 Ibrahim Yaakob bertemu dengan Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman di Taiping, Perak. Sukarno dan rombongan singgah di bandar udara Taiping dalam perjalanan pulang dari Saigon, Vietnam, menuju Jakarta setelah sebelumnya bertemu dengan Marsekal Terauchi di Dalat untuk membicarakan mengenai percepatan rencana kemerdekaan Indonesia dan menerima pernyataan Terauchi secara langsung bahwa Jepang mengizinkan Indonesia merdeka.[6] Pada pertemuan ini Yaakob menyatakan niatannya untuk menggabungkan Semenanjung Malaya ke dalam Indonesia merdeka. Pada pertemuan singkat ini Sukarno dengan didampingi Hatta menjabat tangan Yaakob dan berujar, "Marilah kita membentuk satu tanah air untuk seluruh putra-putri Indonesia."
Sukarno dan Muhammad Yamin adalah tokoh politik Indonesia yang sepakat dengan gagasan persatuan raya ini. Akan tetapi mereka enggan untuk menyebut gagasan ini sebagai "Melayu Raya" dan menawarkan nama lain yaitu "Indonesia Raya". Pada hakikatnya baik Melayu Raya maupun Indonesia Raya adalah gagasan politik yang sama persis. Keengganan untuk menamai Melayu Raya karena berbeda dengan di Malaya, di Indonesia istilah Melayu lebih merujuk kepada suku Melayu yang dianggap hanyalah sebagai salah satu dari berbagai suku bangsa di Nusantara, yang memiliki kedudukan yang setara dengan Minangkabau, Aceh, Jawa, Sunda, Madura, Bali, Dayak, Bugis, Makassar, Minahasa, Ambon, dan lain sebagainya. Penghimpunan berdasarkan ras atau suku bangsa "Melayu" dikhawatirkan rawan dan kontra-produktif dengan persatuan Indonesia yang mencakup berbagai suku bangsa, agama, budaya, dan ras; karena banyak suku bangsa di Indonesia Timur seperti orang Papua, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur, bukanlah termasuk rumpun Melayu Austronesia, melainkan rumpun bangsa Melanesia.
Akan tetapi pada tanggal 15 Agustus 1945 Kaisar Hirohito tiba-tiba mengumumkan lewat siaran radio bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada kekuatan Sekutu. Republik Indonesia secara mandiri memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Karena dituding sebagai kolaborator Jepang, pada tanggal 19 Agustus 1945 Ibrahim Yaakob dengan menumpang pesawat terbang militer Jepang terbang ke Jakarta. Ibrahim Yaakob mengungsi ke Jakarta bersama isterinya Mariatun Haji Siraj, iparnya Onan Haji Siraj dan Hassan Manan. Ibrahim Yaakob yang memperjuangkan gagasan bersatunya Semenanjung Malaya dengan Indonesia kemudian bermukim di Jakarta hingga akhir hayatnya. Dengan jatuhnya Jepang pada bulan Agustus 1945, semua cita-cita persatuan itu praktis mati dan tidak berkembang lagi di Semenanjung Malaya sejak saat itu.
Selepas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, melalui perjuangan bersenjata dalam Revolusi Nasional Indonesia dalam kurun tahun 1945-1949, Republik Indonesia akhirnya mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Kerajaan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Sementara itu selepas pendudukan Jepang, Semenanjung Malaya dan Borneo Utara praktis berada di bawah kekuasaan dan kendali Britania Raya.

Konfrontasi dan Indonesia Raya

 

Peta kepulauan Nusantara berlapis emas di Ruang Kemerdekaan Monas, Jakarta. Jika diperhatikan dengan saksama peta ini memasukkan wilayah Kalimantan Utara (Sabah, Serawak dan Brunei) serta Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia Raya yang dicita-citakan Sukarno.

Pada akhir dasawarsa 1950-an, Sukarno secara tegas menolak pembentukan negara Malaysia oleh Britania Raya yang mencakup Semenanjung Malaya dan Borneo Utara. Sikap politik ini mengarah kepada Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada awal dasawarsa 1960-an berupa peperangan skala kecil yang tidak diumumkan secara resmi. Sukarno menuding bahwa negara Malaysia adalah negara boneka bentukan Inggris yang ingin membentuk kolonialisme dan imperialisme baru di Asia Tenggara dan mengepung Indonesia. Akan tetapi analisis lain menduga bahwa peperangan ini sesungguhnya merupakan ambisi Sukarno yang hendak mempersatukan Semenanjung Malaya dan seluruh pulau Kalimantan ke dalam wilayah Indonesia untuk menggenapi wilayah kebangsaan yang lebih luas yaitu "Indonesia Raya".
Menjelang akhir 1965, kekuasaan Sukarno runtuh dan Jendral Suharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia setelah berlangsungnya G30S/PKI. Karena konflik domestik ini, keinginan Indonesia untuk meneruskan perang dengan Malaysia menjadi berkurang dan peperangan pun mereda. Pada 28 Mei 1966 di sebuah konferensi di Bangkok, Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia mengumumkan penyelesaian konflik. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditandatangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian. Dengan perjanjian damai ini maka Indonesia dan Malaysia resmi menjadi dua entitas negara bangsa yang terpisah dengan saling mengakui keberadaan dan kedaulatan masing-masing.
Selepas perjanjian perdamaian dengan Malaysia, Indonesia disibukkan dengan masalah dalam negerinya yakni berusaha membangun ekonomi sambil menjaga persatuan negara yang sangat majemuk, akibatnya pada era pemerintahan Suharto untuk menjamin stabilitas dan demi persatuan maka kebebasan dan demokrasi dikorbankan. Indonesia pada tahun 1975 sempat menguasai bekas koloni Portugal Timor Timur hingga akhirnya merdeka tahun 2002 sebagai Timor Leste, dan kemudian didera berbagai masalah seperti krisis ekonomi, separatisme di Aceh dan Papua, hingga masalah terorisme. Indonesia akhirnya lebih tertarik dan memusatkan perhatiannya untuk "menjadi Indonesia" dengan membangun karakter bangsa dan berupaya mendefinisikan dirinya sebagai negara-bangsa yang majemuk ber-Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila dan bersatu dengan wilayah membentang dari Sabang sampai Merauke.[8] Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia cenderung cukup puas menyalurkan hasrat, kekuatan, dan ambisi politik regionalnya dalam bentuk sikap kepemimpinan di antara negara ASEAN.
Sementara Malaysia tengah bergulat dalam upaya pembentukan negaranya dan menghadapi masalah dalam hubungan antar-ras, terutama antara mayoritas etnis Melayu dengan minoritas etnis Tionghoa dan India Hindu hingga kini.[9] Masalah hubungan antar-ras inilah yang telah mengakibatkan berpisahnya Malaysia dengan Singapura pada dasawarsa 1960-an. Sementara Brunei tidak menghendaki bergabung dengan Malaysia dan memilih di bawah kekuasaan Britania Raya hingga tahun 1984. Dengan masing-masing pihak sibuk dalam urusannya sendiri, maka gagasan pembentukan kesatuan politik raya yang mempersatukan bangsa Melayu serumpun dan serantau dalam satu negara besar yaitu Melayu Raya atau Indonesia Raya punahlah sudah.

Referensi

  1. ^ a b McIntyre, Angus (1973). "The 'Greater Indonesia' Idea of Nationalism in Malaysia and Indonesia.". Modern Asian Studies 7 (1): 75–83. doi:10.1017/S0026749X0000439X.
  2. ^ Sumpah Pemuda
  3. ^ Page 208-209 Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah Sejarah Tingkatan 2. Zainal Abidin bin Abdul Wahid; Khoo, Kay Kim; Muhd Yusof bin Ibrahim; Singh, D.S. Ranjit (1994). Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 983-62-1009-1
  4. ^ a b c Graham, Brown (February 2005). "The Formation and Management of Political Identities: Indonesia and Malaysia Compared". Centre for Research on Inequality, Human Security and Ethnicity, CRISE, University of Oxford.
  5. ^ a b Reinventing Indonesia: menemukan kembali masa depan bangsa
  6. ^ Terobosan Sukarno dalam Perundingan Linggarjati
  7. ^ Joseph Chin Yong Liow The Politics of Indonesia-Malaysia Relations: One Kin, Two Nations
  8. ^ Sekretariat Negara
  9. ^ Time: Facing Malaysia's Racial Issues

Lihat juga

  • Mafilindo, gagasan persatuan politik lain yang juga mencakup Filipina
  • Indonesia Raya, lagu kebangsaan Republik Indonesia
  • Nusantara, konsep kesatuan kepulauan di wilayah Asia Tenggara antara Sumatera dan Papua yang kebanyakan mencakup wilayah Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Timor Leste

Arduino’s AnalogWrite – Converting PWM to a Voltage

D-A_converter
D-A_converter
When I first started working with the Arduino platform (it was also my first experience with microcontrollers), I was a little surprised that analogWrite didn’t actually output a voltage, but a PWM (pulse-width modulated) signal. After all, the ATmega had a A-D (analog to digital) converter along with Arduino’s analogRead. The complementary analogWrite function was there, but no D-A (digital to analog) converter on the AVR chip itself. Fortunately, there is an easy way to convert a PWM signal to an analog voltage. To do so you only need to implement a simple single-pole low pass filter. Does it sound complicated? It isn’t. There are some great online tools to help. Once you learn how to make one, you can quickly and easily output analog voltages from not only the Arduino, but PICs as well as any other microcontroller that has PWM output.

PWM Primer

Pulse width modulation (or PWM as it is most commonly known), is a way of encoding a voltage onto a fixed frequency carrier wave. Commonly used for radio controlled devices, it is similar to FM (frequency modulation) or AM (amplitude modulation) in what it accomplishes. Each type of modulation scheme has its own advantages and disadvantages. AM modulation was the first type of modulation used for radio transmissions. It is the most simple modulation scheme to implement, requiring only a single transistor or vacuum tube amplifier as was done in the early days of radio. However, it suffers from excessive noise and therefore, FM modulation was invented. In this modulation technique, the voltage signal is no longer related to the strength of the signal. That is why FM radio has superior noise and fidelity qualities over AM radio, though it is not as simple to implement in circuitry.
With the need for digital communication, a new modulation technique was invented – PWM. This technique shares the same noise immunity as  FM, to which it is very similar. The biggest difference is the simplicity and digital nature of the modulation. Instead of varying the modulation frequency with voltage, an output is merely switched on and off at a fixed frequency. The percentage of the on-time is in proportion to the signal voltage. To see better what this means, let’s examine what a PWM signal looks like for various levels. In the following image, the duty cycle is the output value from the PWM pin of an Arduino divided by 255:
PWM example graphs for Arduino
PWM outputs (curtesy arduino.cc)
For the Arduino, you write a value from 0 to 255 on a PWM pin, and the Arduino library will cause the pin to output a PWM signal whose on time is in proportion to the value written.
When it comes time for us to actually write an output voltage, the 0-255 value lacks meaning. What we want is many cases is a voltage. For our purposes, we will assume the Arduino is running at Vcc = 5 volts. In that case, a value of 255 will also be 5 volts. We can then easily convert the desired voltage to the digital value needed using simple division. We first divide the voltage we want by the 5 volts maximum. That gives us the percentage of our PWM signal. We then multiply this percentage by 255 to give us our pin value. Here is the formula:
Pin Value (0-255) = 255 * (AnalogVolts / 5);

Modulating a Signal

In addition to just setting the output voltage, you may need to actually modulate a signal. To modulate a signal, we simply call analogWrite with the value corresponding to our signal voltage. One way to do this would be to read the voltage at an analog pin, and then write it back out. For example:
int pwmPin = 9; // output pin supporting PWM
int inPin = 3; // voltage connected to analog pin 3, e.g. a potentiometer
int val = 0; // variable to store the read value
float volt = 0; // variable to hold the voltage read
void setup()
{
pinMode(pwmPin, OUTPUT); // sets the pin as output
}
void loop()
{
val = analogRead(inPin); // read the input pin
volt =(5.0 * val) / 1023;
val = 255 * (volt / 5);
analogWrite(pwmPin, val);
}

Now in this example, we obviously won’t be need to convert our output voltage back to a voltage, but will instead transmit our modulated signal as it is. If you have an oscilloscope, you can attach it to the output, and a potentiometer to the input and watch your PWM signal change with the input value. There are many applications for PWM modulation, the most commonly being control of servos – either directly by wire or by radio-control. The Arduino has a nice library that handles creating the correct PWM signal for servos. For more information, see the Arduino Servo Library.

Changing the Modulation Frequency

Most microprocessors permit you to change the modulation frequency for PWM pins. The Arduino has its own set default values. For pins 3,9,10,11 it is approximately 488 Hz. For pins 5 and 6, it is about 977 Hz. These values are for a stock Arduino running at 16MHz. You can change these frequencies easily by writing new values to the appropriate timer register. For example, to change the frequency of timer 2, which controls pins 9 and 10, to 3,906 Hz, you would set its register like so:

TCCR1B = TCCR1B & 0b11111000 | 0x02;

On the Arduino website, there is a nice tutorial on setting timer frequencies and their ramifications.

Low Pass Filtering

Now that you understand how PWM works and can even change the frequency, it is time to take a look at how to implement a simple low pass filter. This simple piece of circuitry will convert your PWM output into a voltage corresponding to the percentage of the PWM waveform. You will then have a complete D-A converter for your Arduino or other microcontroller.
RC Low Pass Filter
RC Low Pass Filter
If we examine the circuit on the left, when a voltage is applied to the input of R, the capacitor C will begin to charge. When it is charged, it will cease to conduct current and the voltage at the output of this circuit will match the input (assuming a high impedance load). If you remember that capacitors block DC currents, but pass AC currents, you can see that any DC voltage input will also be output, but high frequency AC voltages will be shorted to ground. For anything in between, i.e. lower frequency AC voltages, they will be filtered according to the R/C time constant formed by the resistor-capacitor network.
While this circuit is very simple, choosing the appropriate values for R & C encompass some design decisions – namely, how much ripple can we tolerate and how fast does the filter need to respond? These two parameters are mutually exclusive. In most filters, we would like to have the perfect filter – one that passes all frequencies below the cutoff frequency, with no voltage ripple. While no such ideal filter exists, we can achieve close to it by using a multiple pole filter. Such a filter would incorporate many components in a ladder configuration. While such a filter has wonderful performance characteristics, its complexity and cost is unnecessary for simple D-A conversion.
In such cases, we only need a simple single pole filter as shown above. We can achieve a reasonable voltage ripple for a single price – a low cutoff frequency. A low cutoff frequency has two ramifications. First, it limits the speed by which we can vary our output voltage. Second, there is a response delay when changing the voltage until the steady-state voltage is reached. For many of the more common applications, this trade-off is perfectly acceptable. Let’s now look at an example.
First, let’s choose our maximum ripple voltage. When we filter this high frequency PWM signal, a small component of it will always make it through the filter. That happens because our capacitor is too small to filter it out entirely. We could choose a very large capacitor /resistor combination that would get a very high proportion of it, but then it would take a long time to reach the proper output voltage as the capacitor charges. That would greatly limit how fast our signal can change and be seen at the output. Therefore, we need to choose a reasonable value for the ripple voltage. A popular application would be to change the voltage of a MOSFET. Since MOSFETs are voltage controlled devices, we can easily drive them with our microcontroller with PWM and a low-pass filter. Any ripple voltage present at the input would also be present at the output. For this example, assume the MOSFET will be driving a non-critical load such as a high power LED. In this instance, we merely need to stay within reasonable limits so the peak current in the LED will not be exceeded. In this case a 0.1 volt ripple would be more than adequate.
Next we choose a capacitor value. While it would seem the next step would be choosing a cutoff frequency (and it normally would be), there are additional considerations such as output load and capacitor cost. If we were only driving the gate of a MOSFET, there would be no output load to speak of. In such case, we could choose a cheap ceramic cap such as 0.1uF and then choose the resistor we need to achieve the cutoff frequency desired. If, on the other hand, we need some current from our output, then we will need a smaller resistor and a correspondingly larger capacitor. For a recent circuit, I found I needed a 2.2uF capacitor to prevent my modest load from altering the output voltage too significantly. Designing this circuit for non-trivial loads is beyond the scope of this article. If you find yourself in such a need, the best approach would be to start with at least a 1uF capacitor and then test how your output voltage changes with load. Increase your capacitor until the load has a low enough effect to be acceptable. Another way to look at this circuit would be to think of it as a poorly regulated power supply. It only meant to convert digital signals to an output voltage; not to drive a load as well. Buffer the output with an op-amp or a FET first. Then drive your load.
For our example, let’s choose a capacitor value of 1.0uF. For driving a MOSFET, you can use something even smaller, but this size will let us have a small load. Next, we need to choose a cutoff frequency or response time. These two parameters are related but not the same. For simple things like driving LEDs, we are more concerned with a response time. Our response time can be pretty generous. Let’s choose a settling time (to reach 90% of the final value) of 0.1 seconds, which would require a resistor of 15K ohms.
You may be wondering how to calculate these values, or others of your own. Rather than delve into a lot of equations, I have found something better. This excellent online calculator does all the hard math for you, calculating cutoff frequency, response times, voltage ripple and other values. It even draws a transient analysis graph for you – displaying your ripple and how the voltage ramps up over time. Here is the output graph for this example:
RC Low Pass Filter Time Repsonse
RC Low Pass Filter Time Response (curtesy http://sim.okawa-denshi.jp/en/PWMtool.php)

Conclusion

You are now armed with the knowledge you need for creating and using your own digital to analog circuit. Such circuits are incredibly useful. My favorite is driving MOSFETs and op-amps. By sampling a current or voltage somewhere, you can then determine what voltage you need to output to create the level of current or voltage you need. By means of such a simple system, you can make your own voltage regulators, current regulators, LED drivers, etc. The possibilities are endless.
If you have any questions about this article, please drop me a note in the comments. If you have any improvements, corrections or additions, please let me hear about them as well.

Cara Memasukkan Program ke Mikrokontroler ATMEGA8535




ATMEGA8535
Beragam jenis IC Mikrokontroler, namun menurut saya untuk sekarang ini. Mikrokontroler keluarga AVR ini yang mudah untuk di program. Dalam Mikrokontroler ATMEGA 8535 lumayan banyak feature. Secara singkat Terdapat EEProm, Comparator, ADC, Pulse PWM dll. Mungkin Untuk orang awam, Aneh. kok bisa IC dimasukkan Program. Karena yang paling sering program hanya dibuat oleh komputer dan digunakan oleh komputer itu juga. ada dua bahasa dalam program untuk keluarga AVR (setahu saya :D ) diantaranya Bahasa C, Assembler. Namun lebih mudah bahasa c, ketimbang assembler. karna bahasa c merupakan bahasa (high level language) sedangkan assembler (low Level language). Berikut Apa aja yang dibutuhkan untuk memprogram IC mikrokontroler. Namun, penulis disini menggunakan product yang sudah jadi dari Innovative Elektronik.


Bahan-bahan
- DT-AVR LC MS_RED


   (DT-AVR LC MS_RED)


- DT-HiQ AVR ISP


DT-HiQ AVR ISP
- CodevisionAVR
         
CVAVR
- Baterai Kotak

Baterai Kotak


Langkah-langkahnya
1 Install CodeVisionAVR pada komputer
2 Buka Project baru kemudian pilih file >> Generate, save and exit
3 Pada menu atas CodeVisionAVR Pilih Project >> Configure

Configure

4 klik After Make beri centang Program the Chip dan klik Ok

After Make

5 Pada menu atas CodeVisionAVR pilih Settings >> Programmer

Programmer
6 pada AVR Chip Programmer Type ubah menjadi Kanda Systems STK200+/300 lalu Klik Ok

Programmer Settings

7 Tekan pada keyboard Shift + F9 lalu Klik Program
Program the Chip
 
Selamat mencoba !!!!

Rabu, 22 Oktober 2014

METODE CEPAT MEMBACA NILAI RESISTOR

Dalam dunia elektronik, membaca nilai pada Resistor merupakan pelajaran dasar yang wajib dimiliki. Bukan hanya sekadar membaca, tapi kecepatan membaca juga mesti dikuasai. Berdasarkan pengalaman penulis, ada berbagai macam metode yang bisa dilakukan. Tapi sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu sistem penulisan nilai pada Resistor.
Ada 2 cara penulisan nilai Resistor :
  1. Sistem kode warna.
  2. Sistem  kode angka.
1. Sistem kode warna
Sistem kode warna berupa pita-pita warna yang mengelilingi badan Resistor. Kode warna Resistor ini pertama kali dikembangkan oleh perkumpulan pabrik-pabrik radio Eropa dan Amerika RMA (Radio Manufacturers Association) yang didirikan pada awal tahun 1920-an. Pada tahun 1957, kelompok ini berganti nama menjadi Electronic Industries Alliance (EIA) dan menerbitkan kode tersebut sebagai standar EIA-RS-279.

Sistem kode warna ada 3, yaitu :
  1. Sistem kode warna 4 pita
  2. Sistem kode warna 5 pita.
  3. Sistem kode warna 6 pita.

1.1 Sistem kode warna 4 pita.



Pita ke-1 dan Pita ke-2 adalah dua angka nilai tahanan.
Pita ke-3 adalah Per-kalian Desimal ( jumlah nol di belakang angka ke-2 )
Pita ke-4 Nilai Toleransi.


TABEL KODE WARNA RESISTOR 4 PITA

Contoh 1 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Perak, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 0,56 Ω, dengan Toleransi 5%.

Contoh 2 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Emas, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 5,6 Ω, dengan toleransi 5%.

Contoh 3 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Hitam, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 56 Ω, dengan Toleransi 5%.

Contoh 4 :
Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Coklat, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 560 Ω, dengan Toleransi 5%.


1.2 Sistem kode warna 5 pita.




Pita ke-1, Pita ke-2 dan Pita ke-3 adalah tiga angka nilai tahanan.
Pita ke-4 adalah Per-kalian Desimal (jumlah nol di belakang angka ke-3).
Pita ke -5  Nilai Toleransi.


TABEL KODE WARNA 5 PITA


Contoh 1 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Hitam, Pita ke-3 = Hitam, Pita ke-4 = Perak. Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 5 Ω, dengan Toleransi 1%.

Contoh 2 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Merah, Pita ke-4 = Emas. Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 56,2 Ω, dengan Toleransi 1%.

Contoh 3 :
Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Merah, Pita ke-4 = Hitam, Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 562 Ω, dengan Toleransi 1%.


1.3 Sistem kode warna 6 pita. 




Pita ke-1, Pita ke-2, dan Pita ke-3 tiga angka nilai tahanan.
Pita ke-4 adalah Per-kalian Desimal (jumlah nol di belakang angka ke-3).
Pita ke-5 adalah Nilai Toleransi.
Pita ke-6  Koefisien suhu.


 TABEL KODE WARNA 5 PITA


Contoh  :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-4 = Emas. Pita ke-5 = Coklat.
Pita ke-6 = Coklat.
Nilainya adalah 56,6 Ω, Toleransi 1%, Koefisien suhu 100 ppm / ºC

2.  Sistem kode angka.

Sistem kode angka digunakan pada Resistor SMD ( Surface-mount Device ), Resistor pasang permukaan yang ukurannya sangat kecil.



Untuk cara membacanya perhatikan gambar berikut :




Resistor SMD dengan toleransi standar atau toleransi yang cukup longgar ( 5% misalnya ) menggunakan kode angka 3 digit. Dua angka pertama adalah dua angka pertama nilai tahanan Resistor, sedangkan angka ketiga adalah pengali ( jumlah nol ). 
Contoh :

102  =   10 X 100 Ω  =  1.000 Ω ( 1 Kilo Ω ) atau 10 ditambah dua nol di belakangnya.
222  =   22 X 100 Ω  =  2.200 Ω ( 2,2 Kilo Ω ) atau 22 ditambah dua nol di belakangnya.
103  =   10 X 1000 Ω = 10.000 Ω ( 10 Kilo Ω ) atau 10 ditambah tiga nol di belakangnya.
223  =   22 X 1000 Ω = 22.000 Ω ( 22 Kilo Ω ) atau 22 ditambah tiga nol di belakangnya.

Untuk Resistor SMD yang nilai hambatan nya di bawah 100 Ω ditulis 820, 680, 5600 dan seterusnya.
Contoh :

100  = 10 X 1 = 10 Ω.
560  = 56 X 1 = 56 Ω.
820  = 82 X 1 = 82 Ω.

Beberapa produsen ada juga yang menulis langsung nilai hambatan Resistor SMD tanpa menggunakan kode, misalnya 10, 56, 82. katanya sih, untuk mencegah kebingungan.

Selanjutnya, untuk Resistor SMD dengan nilai hambatan di bawah 10 Ω, menggunakan R untuk  menunjukkan titik desimal nya.
Contoh :

1R5 = 1,5 Ω.
0R5 = 0,5 Ω.
0R05 = 0,05 Ω.

Resistor persisi yang mempunyai nilai toleransi ketat, menggunakan  Kode empat digit. Tiga kode pertama adalah nilai tahanan, dan kode ke empat adalah pengali atau jumlah nol.
Contoh :

2001 = 200 X 10 : 2000 Ω ( 2 Kilo Ω ).
4701 = 470 X 10 : 4700 Ω  ( 4,7 Kilo Ω ).
1200 = 120 X 1   : 120 Ω.

Adapun Resistor SMD yang di tandai dengan kode 0, 000, atau 0000 adalah Resistor dengan nilai hambatan 0 Ω. Karena tidak memiliki nilai  hambatan, maka Resistor seperti ini sering digunakan sebagai Jumper. tujuannya agar lebih mudah dipasang pada PCB dengan menggunakan mesin solder SMD.


Ok. Kita Kembali pada pokok pembahasan kita.

Untuk bisa membaca nilai tahanan Resistor dengan cepat, ada beberapa 3 hal yang mesti kita lakukan, yaitu :

  1. Menghafal urutan warna pada tabel sistem kode warna.
  2. Mengenal Ciri khas kode warna Resistor yang memiliki nilai tahanan satuan, puluhan, ribuan, dan seterusnya.
  3. Mengetahui Standar nilai Resistor yang diterbitkan oleh EIA.

MENGHAFAL URUTAN KODE WARNA RESISTOR.

Menghafal ada cara untuk melatih kemampuan ingatan buatan. Pada otak manusia ada 2 jenis ingatan, ingatan alami dan ingatan buatan. Ingatan alami adalah bakat yang sudah ada sejak kita lahir, dan digunakan kan dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis tanpa perlu berpikir. Sedangkan ingatan buatan adalah sebuah kemampuan daya ingat yang di bangun dengan cara belajar dan dilatih dengan berbagai macam metode.
Salah satu metode yang paling efektif untuk melatih daya ingat buatan adalah Strategi Mnemonik, yaitu teknik mengingat sesuatu dengan cara menghubungkan antara bentuk/rumusan yang mudah diingat dengan data yang ingin diingat. Hal ini berdasarkan prinsip bahwa ingatan manusia akan lebih mudah mengingat informasi yang unik dan menarik, ketimbang data-data yang rumit dan asing.

Dari sekian banyak strategi Mnemonik yang ada, beberapa diantaranya dapat kita manfaatkan untuk menghafal urutan warna kode Resistor.

1. Rumus Jembatan Keledai.

Rumus Jembatan keledai umumnya berupa sebuah kata atau suku kata yang diambil dari susunan kata yang ingin di hafal, kemudian dibentuk menjadi sebuah kalimat yang unik atau menarik.
Sebenarnya kurang jelas, dari mana asal mula Istilah jembatan keledai ini. tapi kemungkinan besar berasal dari bahasa Belanda Ezelsbruggetje yang berarti titian keledai atau dari bahasa Latin pons asinorum yang artinya jembatan keledai.

Berikut adalah bentuk dari rumus Jembatan Keledai yang akan kita gunakan untuk menghafal urutan kode warna Resistor.



Rumus ini membentuk sebuah kalimat HI CO ME O KU  HI BI VI A PU, yang diambil dari singkatan nama masing-masing warna yang terdapat pada sistem kode warna Resistor.

HI = Hitam, ME = Merah, O = Oranye, KU = Kuning, HI yang kedua = Hijau, BI = Biru, VI = Violet atau Ungu, A = Abu-abu, dan PU = Putih.

Cara menggunakan rumus ini cukup mudah, kita hanya perlu menghafal kalimatnya, serta  membayangkan arti dan angka yang ada di bawah setiap kata, dalam kalimat tersebut.


2. Menggunakan Gambar angka berwarna.

Dengan cara ini, kita akan melatih ingatan kita untuk menghafal urutan kode warna menggunakan gambar angka berwarna, seperti  di bawah ini :

Cara menggunakan metode ini adalah, menyebutkan warna angka yang ada dalam kotak. Satu persatu secara berulang-ulang. Sekali lagi, yang disebutkan warna angkanya, bukan angkanya.

3. Menggunakan Rumus Pengelompokan warna. 

Metode ini terbilang cukup rumit, karena kita akan mempelajari pengelompokan warna terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan urutan warna kode resistor.

Pengelompokan warna pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, namanya Teori Brewster. Teori ini menyederhanakan warna yang ada di alam dengan membaginya menjadi 4 kelompok besar, yaitu :
  1. Warna Primer. Warna dasar yang bukan merupakan hasil pencampuran dari warna-warna lain, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru. 
  2. Warna Sekunder. Hasil pencampuran dari  2 warna Primer. Ada berapa macam warna sekunder, dan yang ada hubungannya dengan kode warna Resistor ada 3 warna yaitu : Oranye ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Merah ), Hijau ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Biru ) , dan Ungu ( Hasil pencampuran dari warna Merah dengan Biru ). 
  3. Warna Tersier. Hasil pencampuran salah satu warna Primer dengan salah satu warna Sekunder atau pencampuran dari tiga warna Primer. Warna dari kelompok ini juga bayak, tapi yang termasuk dalam sistem kode warna Resistor hanya ada satu, yaitu warna Coklat ( pencampuran dari warna Merah, Kuning, dan Biru ).
  4. Warna Netral. Warna penyeimbang, yaitu warna Hitam dan Putih dan hasil pencampuran dari keduanya. Warna Netral sering juga disebut Warna yang tidak berwarna.
Dan satu lagi kelompok warna  yang akan kita gunakan dalam rumus ini, tapi tidak termasuk dalam teori Brewster, yaitu kelompok warna metalik. Kelompok warna metalik terdiri dari Warna Emas, Perak dan  hasil pencampuran 2 warna tersebut dengan warna-warna dari kelompok lainnya.

Jadi berdasarkan kelompok-kelompok warna di atas, dalam rumus ini, kita akan membagi kode warna Resistor menjadi 5 Grup. Seperti berikut ini :

Grup 1 dari kelompok warna primer, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
Grup 2 dari kelompok warna sekunder, yaitu : Warna Oranye, Hijau, dan Ungu.
Grup 3 dari kelompok warna Tersier, yaitu : warna Coklat.
Grup 4 dari kelompok warna, Netral yaitu : Warna Hitam, putih, dan Abu-abu.
Grup 5 dari kelompok warna Metalik, yaitu : Warna Emas dan Perak.

Dengan pembagian Grup seperti ini, kita bisa lebih mudah menghafal kode warna Resistor. Karena setiap grup mempunyai ciri khas.

Grup1 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Genap, kecuali angka 8.
Grup2 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Ganjil, kecuali angka 9.
Grup3 kode warna resistor yang memiliki angka tunggal, yaitu Coklat ( angka 1 ).
Grup4 terdiri dari kode warna Resistor urutan awal ( warna Hitam ) dan 2 kode warna Resistor urutan terakhir ( warna Abu-abu dan Putih ).
Grup5 hanya untuk kode warna toleransi resistor, dan kode warna per kalian desimal yang memiliki angka di bawah nol ( nol koma dan nol koma nol ).

Cara menghafal urutan warna dari masing-masing Grup :

Grup 1. Membayangkan sebuah jarum yang dibakar di atas api lilin. Warna Merah adalah warna ujung jarum yang membara, warna Kuning adalah warna api lilin bagian atas, dan warna Biru warna api lilin bagian bawah. Jadi urutan warnanya dimulai dari atas ke bawah.

Grup 2. Membayangkan sedang mencampur warna-warna yang ada pada Grup1 secara berurutan. Urutan pertama, hasil dari pencampuran warna urutan pertama dan kedua warna Grup1. Urutan kedua, hasil dari pencampuran warna urutan kedua dan ketiga warna Grup1.  warna ketiga, hasil dari pencampuran warna ketiga dan pertama warna grup1.
Rumus nya, 1 Grup2 = 1 + 2 Grup1,  2 Grup2 = 2 + 3 Grup 1,  3 Grup2 = 3 + 1 Grup1.

Grup 3. Tidak perlu membayangkan apa-apa, karena hanya ada satu warna. Yang perlu di ingat adalah Grup ini memiliki jumlah anggota sama dengan angka kode warnanya, yaitu 1.

Grup 4. Mengingat pepatah yang mengatakan  Habis Gelap Terbitlah Terang. Maka urutannya dimulai dari warna yang paling gelap, ke warna yang paling terang.

Grup 5. Membayangkan perbandingan harga benda yang memiliki warna yang sama dengan anggota Grup ini. Urutannya dimulai dari harga yang ter tinggi.

CIRI KHAS KODE WARNA RESISTOR DENGAN NILAI TAHANAN TERTENTU.

Ciri khas kode warna Per kalian desimal atau jumlah nol.

Untuk Resistor dengan kode warna 4 Pita, ciri khasnya ada pada Pita ke tiga.
  • Warna Emas untuk resistor dengan nilai tahanan Satuan Ω ( Nilai 1 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Ω ).
  • Warna Hitam untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ω  ( Nilai 10 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Ω ).
  • Warna Coklat untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ω ( Nilai 100 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1000 Ω ).
  • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Ribuan Ω / Kilo Ω ( Nilai 1 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Kilo Ω ).
  • Warna Oranye untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ribu Ω / Puluhan Kilo Ω ( Nilai 10 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Kilo Ω ).
  • Warna Kuning untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ribu Ω / Ratusan Kilo Ω ( Nilai 100 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Mega Ω ).
  • Warna Hijau untuk resistor dengan nilai tahanan Jutaan Ω / Mega Ω ( Nilai 1 Mega Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Mega Ω ).
  •  Warna Biru untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Juta Ω / Puluhan Mega Ω.
Untuk Resistor  dengan kode warna 5 dan 6 Pita, ciri khasnya ada pada Pita ke empat.
  • Warna Perak untuk resistor dengan nilai tahanan Satuan Ω ( Nilai 1 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Ω ).
  • Warna Emas untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ω ( Nilai10 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Ω ).
  • Warna Hitam untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ω ( Nilai 100 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Kilo Ω ).
  • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Ribuan Ω / Kilo Ω ( Nilai1 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Kilo Ω ).
  • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ribu Ω / Puluhan Kilo Ω ( Nilai 10 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Kilo Ω ).
  • Warna Oranye untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ribu Ω / Ratusan Kilo Ω ( Nilai 100 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Mega Ω ).
  • Warna Kuning untuk resistor dengan nilai tahanan Jutaan Ω / Mega Ω ( Nilai 1 Mega Ω sampai nilai yang mendekati 10 mega Ω ).
  • Warna Hijau untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Juta Ω / Puluhan Mega Ω.

Untuk resistor dengan nilai tahanan di bawah 1 Ω ( Nol Koma dan Nol Koma Nol )

Resistor dengan kode warna 4 Pita.
  • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma, ciri khasnya ada  pita ke tiga yang selalu berwarna Perak.
  • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma Nol, ciri khasnya ada pada pita pertama dan pita ke tiga. pita pertama selalu berwarna hitam dan pita ke tiga selalu berwarna Perak.
Resistor dengan kode warna 5 dan 6 Pita.
  • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma, ciri khasnya ada pada pita pertama dan pita ke empat. Pita pertama selalu berwarna hitam dan pita ke empat selalu berwarna perak.
  • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma Nol, ciri khasnya ada pada pita pertama, kedua dan ke empat. Pita pertama selalu berwarna Hitam, pita kedua juga selalu berwarna Hitam dan pita ke empat selalu berwarna Perak.

NILAI STANDAR RESISTOR.

Nilai standar resistor diterbitkan oleh EIA ( Electronic Industries Alliance ), nilai standar ini ditentukan berdasarkan nilai toleransi. Ada banyak sekali nilai standar yang di terbitkan oleh EIA tersebut, namun kita batasi pembahasan kita dengan nilai standar yang umum beredar di pasaran, khususnya pasar Indonesia.

EIA STANDAR E12.

E12 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor-resistor yang memiliki nilai toleransi 10 %.

Tabel  Resistor Standar E12

Nol Koma Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
0,1 1 10 100
0,12 1,2 12 120
0,15 1,5 15 150
0,18 1,8 18 180
0,22 2,2 22 220
0,27 2,7 27 270
0,33 3,3 33 330
0,39 3,9 39 390
0,47 4,7 47 470
0,56 5,6 56 560
0,68 6,8 68 680
0,82 8,2 82 820

Satuan Kilo Ω
( Ribuan Ω )
Puluhan Kilo Ω
( Puluhan Ribu Ω )
Ratusan Kilo Ω
( Ratusan Ribu Ω )
Satuan Mega Ω
( Jutaan Ω )
1 10 100 1
1,2 12 120 1,2
1,5 15 150 1,5
1,8 18 180 1,8
2,2 22 220 2,2
2,7 27 270 2,7
3,3 33 330 3,3
3,9 39 390 3,9
4,7 47 470 4,7
5,6 56 560 5,6
6,8 68 680 6,8
8,2 82 820 8,2


EIA STANDAR E24

E24 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor yang memiliki nilai toleransi 5 %.

Tabel  Resistor Standar E24
Nol Koma Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
0,1 1 10 100
0.11 1,1 11 110
0,12 1,2 12 120
0,13 1,3 13 130
0,15 1,5 15 150
0,16 1,6 16 160
0,18 1,8 18 180
0,20 2 20 200
0,22 2,2 22 220
0,24 2,4 24 240
0,27 2,7 27 270
0,30 3 30 300
0,33 3,3 33 330
0,36 3,6 36 360
0,39 3,9 39 390
0,43 4,3 43 430
0,47 4,7 47 470
0,51 5,1 51 510
0,56 5,6 56 560
0,62 6,2 62 620
0,68 6,8 68 680
0,75 7,5 75 750
0,82 8,2 82 820
0,91 9,1 91 910

Satuan Kilo Ω
( Ribuan Ω )
Puluhan Kilo Ω
( Puluhan Kilo Ω )
Ratusan Kilo Ω
( Ratusan Ribu Ω )
Mega Ω
( Jutaan Ω )
1 10 100 1
1,1 11 110 1,1
1,2 12 120 1,2
1,3 13 130 1,3
1,5 15 150 1,5
1,6 16 160 1,6
1,8 18 180 1,8
2 20 200 2,0
2,2 22 220 2,2
2,4 24 240 2,4
2,7 27 270 2,7
3 30 300 3,0
3,3 33 330 3,3
3,6 36 360 3,6
3,9 39 390 3,9
4,3 43 430 4,3
4,7 47 470 4,7
5,1 51 510 5,1
5,6 56 560 5,6
6,2 62 620 6,2
6,8 68 680 6,8
7,5 75 750 7,5
8,2 82 820 8,2
0,91 9,1 910 9,1

EIA STANDAR E96

E96 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor-resistor yang memiliki nilai toleransi 1 %.

Tabel Resistor Standar E96

Nol Koma  Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
0,1  1 10 100
0,102 1,02 10.2 102
0,105 1,05 10,5 105
0,107 1,07 10,7 107
0,11 1,1 11  110
0,113 1,13 11,3 113
0,115 1,15 11,5 115
0,118 1,18 11,8 118
0,121 1,21 12,1 121
0,124 1,24 12,4 124
0,127 1,27 12,7 127
0,13 1,3 13  130
0,133 1,33 13,3 133
0,137 1,37 13,7 137
0,14 1,4 14 140
0,143 1,43 14,3 143
0,147 1,47 14,7 147
0,15 1,5 15  150
0,154 1,54 15,4 154
0,158 1,58 15,8 158
0,162 1,62 16,2 162
0,165 1,65 16,5 165
0,169 1,69 16,9 169
0,174 1,74 17,4 174
0,178 1,78 17,8 178
0,182 1,82 18,2 182
0,187 1,87 18,7 187
0,191 1,91 19,1 191
0,196 1,96 19,6 196
0,2 2 20  200
0,205 2,05 20,5 205
0,210 2,1 21 210
0,215 2,15 21,5 215
0,221 2,21 22,1 221
0,226 2,26 22,6 226
0,232 2,32 23,2 232
0,237 2,37 23,7 237
0,243 2,43 24,3 243
0,249 2,49 24,9 249
0,255 2,55 25,5 255
0,261 2,61 26,1 261
0,267 2,67 26,7 267
0,274 2,74 27,4 274
0,280 2,8 28 280
0,287 2,87 28,7 287
0,294 2,94 29,4 294
0,301 3,01 30,1 301
0,309 3,09 30,9 309
0,316 3,16 31,6 316
0,324 3,24 32,4 324
0,332 3,32 33,2 332
0,34 3,4 34 340
0,348 3,48 34,8 348
0,357 3,57 35,7 357
0,365 3,65 36,5 365
0,374 3,74 37,4 374
0,383 3,83 38,3 383
0,392 3,92 39,2 392
0,402 4,02 40,2 402
0,412 4,12 41,2 412
0,422 4,22 42,2 422
0,432 4,32 43,2 432
0,442 4,42 44,2 442
0,453 4,53 45,3 453
0,464 4,64 46,4 464
0,475 4,75 47,5 475
0,487 4,87 48,7 487
0,499 4,99 49,9 499
0,511 5,11 51,1 511
0,523 5,23 52,3 523
0,536 5,36 53,6 536
0,549 5,49 54,9 549
0,562 5,62 56,2 562
0,576 5,76 57,6 576
0,590 5,9 59 590
0,604 6,04 60,4 604
0,619 6,19 61,9 619
0,634 6,34 63,4 634
0,649 6,49 64,9 649
0,665 6,65 66,5 665
0,681 6,81 68,1 681
0,698 6,98 69,8 698
0,715 7,15 71,5 715
0,732 7,32 73,2 732
0,75 7,5 75 750
0,768 7,68 76,8 768
0,787 7,87 78,7 787
0,806 8,06 80,6 806
0,825 8,25 82,5 825
0,845 8,45 84,5 845
0,866 8,66 86,6 866
0,887 887 88,7 887
0,909 9,09 90,9 909
0,931 9,31 93,1 931
0,953 9,53 95,3 953
0,976 9,76 97,6 976

Satuan Kilo Ω
( Ribuan Ω )
Puluhan Kilo Ω
( Puluhan Ribu Ω )
Ratusan Kilo Ω
( Ratusan Ribu Ω )
Mega Ω
( Jutaan Ω )
1 10. 100 1.00
1.02 10.2 102 1.02
1.05 10.5 105 1.05
1.07 10.7 107 1.07
1.1 11 110 1.10
1.13 11.3 113 1.13
1.15 11.5 115 1.15
1.18 11.8 118 1.18
1.21 12.1 121 1.21
1.24 12.4 124 1.24
1.27 12.7 127 1.27
1.3 13 130 1.30
1.33 13.3 133 1.33
1.37 13.7 137 1.37
1.4 14 140 1.40
1.43 14.3 143 1.43
1.47 14.7 147 1.47
1.50 15 150 1.50
1.54 15.4 154 1.54
1.58 15.8 158 1.58
1.62 16.2 162 1.62
1.65 16.5 165 1.65
1.69 16.9 169 1.69
1.74 17.4 174 1.74
1.78 17.8 178 1.78
1.82 18.2 182 1.82
1.87 18.7 187 1.87
1.91 19.1 191 1.91
1.96 19.6 196 1.96
2 20 200 2.00
2.05 20.5 205 2.05
2.1 21 210 2.10
2.15 21.5 215 2.15
2.21 22.1 221 2.21
2.26 22.6 226 2.26
2.32 23.2 232 2.32
2.37 23.7 237 2.37
2.43 24.3 243 2.43
2.49 24.9 249 2.49
2.55 25.5 255 2.55
2.61 26.1 261 2.61
2.67 26.7 267 2.67
2.74 27.4 274 2.74
2.80 28 280 2.80
2.87 28.7 287 2.87
2.94 29.4 294 2.94
3.01 30.1 301 3.01
3.09 30.9 309 3.09
3.16 31.6 316 3.16
3.24 32.4 324 3.24
3.32 33.2 332 3.32
3.4 34 340 3.40
3.48 34.8 348 3.48
3.57 35.7 357 3.57
3.65 36.5 365 3.65
3.74 37.4 374 3.74
3.83 38.3 383 3.83
3.92 39.2 392 3.92
4.02 40.2 402 4.02
4.12 41.2 412 4.12
4.22 42.2 422 4.22
4.32 43.2 432 4.32
4.42 44.2 442 4.42
4.53 45.3 453 4.53
4.64 46.4 464 4.64
4.75 47.5 475 4.75
4.87 48.7 487 4.87
4.99 49.9 499 4.99
5.11 51.1 511 5.11
5.23 52.3 523 5.23
5.36 53.6 536 5.36
5.49 54.9 549 5.49
5.62 56.2 562 5.62
5.76 57.6 576 5.76
5.9 59 590 5.90
6.04 60.4 604 6.04
6.19 61.9 619 6.19
6.34 63.4 634 6.34
6.49 64.9 649 6.49
6.65 66.5 665 6.65
6.81 68.1 681 6.81
6.98 69.8 698 6.98
7.15 71.5 715 7.15
7.32 73.2 732 7.32
7.5 75 750 7.50
7.68 76.8 768 7.68
7.87 78.7 787 7.87
8.06 80.6 806 8.06
8.25 82.5 825 8.25
8.45 84.5 845 8.45
8.66 86.6 866 8.66
8.87 88.7 887 8.87
9.09 90.9 909 9.09
9.31 93.1 931 9.31
9.53 95.3 953 9.53
9.76 97.6 976 9.76


Umumnya, tidak semua nilai Resistor yang ada pada Tabel standar E24 beredar di pasar indonesia, hanya 50 persen nya saja. Pasar Indonesia mengikuti Standar E12 untuk memasarkan resistor-resistor standar E24. Bahkan, ada beberapa toko elektronik di Indonesia yang menjual resistor standar E96 dengan mengikuti nilai resistor yang ada pada tabel standar E12.
Demikian pembahasan kita kali ini, semoga bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Setidaknya, bisa menginspirasi anda untuk melahirkan ide yang lebih cemerlang lagi. Maju terus dunia elektronik Indonesia.