Kamis, 17 April 2014

Inilah Sisi Gelap Pencapresan Jokowi

Headline 
Capres PDIP Joko Widodo - (Foto: inilahcom)


INILAHCOM, Jakarta - PDI Perjuangan (PDIP) dinilai blunder terkait pertemuan dengan Duta Besar (Dubes) Amerika Serikat (AS) Robert O Blacke serta beberapa dubes asing di kediaman pengusaha Jacob Soetoyo.

Pertemuan yang seharusnya dilakukan secara diam-diam alias rahasia itu rupanya tercium oleh media massa. Otomatis, pertemuan tersebut menimbulkan spekulasi jelang Pilpres 2014.

Sebab, pertemuan dengan beberapa dubes asing itu dihadiri langsung oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo (Jokowi) selaku capres partai berlambang banteng moncong putih itu.

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak menilai, pertemuan itu kesalahan besar bagi PDIP. Sebab, hal itu semakin mempertegas dugaan publik terhadap kepentingan asing atas pencapresan Jokowi.

"Itu (pertemuan dubes asing) langkah blunder PDIP. Ini menpertegas sisi gelap pencapresan Jokowi," kata Zaki, kepada INILAHCOM, di Jakarta, Selasa (15/4/2014) malam.

Terungkapnya pertemuan itu, kata Zaki, membuat masyarakat semakin melek dengan ambisi Jokowi menjadi penguasa di Indonesia. Semakin memperjelas ada kepentingan asing di belakang mantan Wali Kota Solo itu.

"Pertemuan tersebut difasilitasi konglomerat besar. Makin jelas pengaruh cukong dalam gerakan pemenangan Jokowi," tegas Zaki.

"Makin jelas bahwa Jokowi hanya sekadar boneka Megawati. Ia diminta hadir dalam pertemuan tersebut oleh Mega, tapi tak kuasa menolak," kata Zaki menduga.

Untuk itu, Capres PDIP itu diminta untuk memperjelas maksud dan tujuan dari pertemuan tersebut. Hal itu guna menghindari dugaan publik terhadap kepentingan asing di Pilpres 2014 nanti.

"Sebagai calon presiden Jokowi berkewajiban menjelaskan kepada publik apa agenda pertemuan tersebut. Semakin ditutupi, semakin menggerus kepercayaan publik," demikian Zaki.

Diketahui, seusai pertemuan itu, Jokowi beserta Megawati dan Puan Maharani tampak terkejut karena telah ditunggu media di halaman rumah Jacob, di Jalan Sircon, Jakarta Selatan.

Jokowi bersama Megawati dan Puan menaiki mobil Mercy B 609 HPM warna putih. Jokowi yang biasa akrab menyapa wartawan, justru malam itu Jokowi tampak bersembunyi dan menghindari awak media. Sementara, Megawati yang duduk di bangku belakang hanya melemparkan senyuman pada awak media.

Adapun tujuh dubes yang ikut hadir terlihat dari beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah yang cukup besar itu; CD 12 merupakan Kedubes AS, CD 15 Vatikan, CD 18 Myanmar, CD 19 RRC, CD 42 Meksiko, CD 48 Turki, dan CD 108 Peru. [mes]

Ada dua blunder yang merugikan PDI Perjuangan dalam pertemuan Permata Hijau yang digelar Senin (14/4/2014) malam lalu. Tetapi yang paling fatal adalah terlibatnya Vatikan dalam pertemuan itu.

Kesalahan pertama adalah terlibatnya Amerika Serikat, melalui duta besarnya Robert O. Blake dalam pertemuan itu. Dalam pandangan saya, kalau pun PDI Perjuangan memandang faktor AS itu begitu signifikan, sikap ‘sumerah’ tersebut tidaklah harus dibuat setelanjang itu ke public. Menjadikannya hanya sebagai ‘rahasia dapur’ tentu saja lebih elok untuk nama besar PDIP yang biasa menampilkan retorika-retorika kemandirian dan anti-asing khas Bung Karno itu di mata public.
Bagi saya, sebagaimana ‘faktor militer’, ‘faktor AS’ hanyalah mitos yang entah mengapa tanpa reserve kita pertahankan. Seolah, tanpa dukungan AS, tak mungkin seseorang bisa menjadi presiden Indonesia.
Mungkin ada benarnya, mengingat fakta sejarah seputar penurunan Bung Karno, naiknya Soeharto dan seterusnya yang selalu melibatkan pembicaraan tentang ‘faktor AS’ itu. Bahkan tak kurang yang terbuka, seperti terungkap dalam biografi mantan Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice. Dalam ‘No Higher Honor: A Memoir of My Years in Washington’ itu Rice tanpa sungkan menilai para presiden Indonesia yang sempat dikenalnya. Misalnya, sebagai tanda persetujuannya atas kemenangan SBY dalam Pemilu 2014--Rice tak satu kata pun menyebut mitra SBY, Jusuf Kalla, Rice mengatakan SBY telah membawa era baru bagi Indonesia.
Tetapi sukar untuk menolak bahwa dalam politik Indonesia, ‘faktor AS’ pun tak lebih dari sekadar mitos. Sama halnya dengan ‘militer’ yang dianggap lebih kapabel, yang dalam banyak hal hanya merujuk Soeharto. Yang lain, maaf kata, justru membuktikan sebaliknya.
Sementara sebaliknya, yang faktual adalah bahwa kepemimpinan mana pun yang mengedepankan mitos, bukanlah kepemimpinan yang cocok untuk dinamis dan tak terprediksinya masa depan. Ia telah menjadi masa lalu yang seharusnya ditinggalkan. Sudah tidak masanya lagi melibatkan ‘wahyu keprabon’ atau mitos minum air kelapa pemberi nasib baik ala Sutawijaya dalam Babad Tanah Jawi untuk urusan kepemimpinan saat ini.
Tetapi tentu saja, yang kedua, yakni melibatkan Vatikan ke dalam pertemuan itu jauh lebih fatal. Orang masih bisa memaklumi terlibatnya AS dengan ke dalam pertemuan, mengingat negara adidaya itu faktor penting dalam percaturan dunia saat ini. Apalagi kalau kita membuka data statistik tentang ketergantungan Indonesia, yang tak hanya melulu soal ekonomi, melainkan juga kebudayaan, sosial, hukum dan demokrasi.
Tetapi Vatikan? Nyaris bisa dikatakan, tak ada kepentingan strategis apa pun yang bisa dijadikan alasan pembenar hadirnya dubes Vatikan pada pertemuan itu. Sebaliknya, hadirnya Dubes Vatikan justru memberi ‘noda’ pada pertemuan.
Yang paling jelas, ia menjadi alasan pembenar (justifikasi) bagi banyak kalangan untuk mengorek rumors lama di sekitar pencalonan Jokowi. Isu yang muncul sejak ia mengincar kursi gubernur DKI Jakarta: isu sektarian keagamaan. Isu yang tak juga lekang di masa Pileg kemarin.
Bukankah kita pun tahu, dengan gampang kita bisa menemukan pamflet, selebaran, baik itu dalam bentuk cetakan maupun yang berseliweran di dunia maya lewat internet dan telepon seluler kita? Bukanlah kita tahu betapa repot Jokowi dan PDI Perjuangan menepis isu primordial yang mengembalikan kita ke tahun-tahun awal kemerdekaan, setidaknya era 1950-60-an itu?
Lalu untuk apa isu tidak cerdas yang membawa bangsa kepada sentimen sempit primordial itu justru dihadirkan kembali secara telanjang dengan terlibatnya Vatikan dalam pertemuan?
Unsur PDI Perjuangankah yang alpa memikirkan akibatnya, dan sengaja mengundang Vatikan ke dalam pertemuan? Jujur saja, saya ragu. Jokowi dan PDI Perjuangan tahu betapa kerasnya isu primordial itu menghantam mereka. Mereka juga tahu betapa sulitnya berkelit.
Tetapi begitu saja menunjuk inisiator pertemuan, Jacob Soetoyo, sebagai pengundang pihak Vatikan pun kurang memiliki alasan kuat. Bagaimana mungkin, Jacob, seorang yang sempat menjadi anggota Dewan Pengawas CSIS dan anggota lembaga terkemuka dunia, Trilateral Commision, semudah itu silap memperhitungkan dampak negatif keterlibatan Vatikan ?
Atau justru semua telah tertata dalam rencana? [dsy]

Setelah Ukraina, Rusia Caplok Transnistria

Headline

INILAH.COM. Moskow -- Setelah mencaplok Semenanjung Crimea, Rusia kini sibuk memisah wilayah Ukraina berpenduduk etnis Rusia. Wilayah mana lagi yang akan dicaplok Rusia?

Karl Penhaul, kolumnis yang menulis untuk CNN, memperkirakan Transnistria akan menjadi wilayah berikut yang dikuasai Rusia.

Transnistria, sekeping tanah yang terjepit antara Moldova dan Ukraina, adalah wilayah merdeka yang tidak diakui negara-negara sekelilingnya.

Luas Transnistria hanya 4.163 kilometer meter persegi, sedikit lebih kecil dari Sumatera Barat, dengan penduduk sekitar 550 ribu. Di peta, Transnistria tidak ubahnya selembar keju yang terjepit roti.

Memerdekakan diri tahun 1990, dan terlibat perang dengan Moldova dua tahun kemudian, Transnistria tidak diakui PBB sebagai negara berdaulat. Akibatnya, Transnistria harus menginduk ke Republik Moldova, dengan status Unit Teritorial Otonomi Transnistria.

Tidak sembarang orang boleh masuk ke wilayah ini. Tidak pula diplomat Barat, AS, apalagi wartawan.

Serdadu di perbatasan Ukraina-Transnistria akan menghardik siapa saja dengan gaya Uni Soviet. Jika bertemu perwira, Anda akan disarankan meminta ijin ke pejabat terkait.

Waktu normal untuk mendapatkan ijin adalah 10 hari. Namun, bukan tidak mungkin jawaban 'no' diberikan dalam 36 jam.

Lebih satu dekade lalu, dan setelah pasukan Rusia memasuki Crimea, Jenderal Philip Breedlove -- komandan tertinggi NATO -- memperingatkan kemungkinan Moskow mengincar wilayah ini.

Naluri militer Breedlove benar. Laporan intelejen menyebutkan lebih sepuluh ribu pasukan Rusia memasuki wilayah timur Ukraina, dan mendekati Transnistria.

Sisa Uni Soviet

Ketika Mikhail Gorbachev mendengungkan glasnost dan perestroijka, penduduk Transnistria menutup telinga. Setelah Uni Soviet runtuh dan Moskwa memasukan wilayah ini ke Moldova, warga Transnistria menolak dan angkat senjata.

Di Tiraspol, salah satu kota di Transnistria, sejumlah jalan masih benama Marx, Engel, dan Lenin. Ada juga Jalan Komunis.

Bendera nasional Transnistria masih menggunakan gambar palu dan arit. Di gedung dewan kota, masih bertengger bintang Soviet, dengan Lenin sebagai malaikat pelindung kota.

Di pasar-pasar dan kerumunan, tidak sulit menemukan pria usia lanjut mengenakan seragam tentara dengan banyak lencana, serta pangkat lengkap di bahu. Terlalu mudah pula menemukan orang mengenakan topi tentara peninggalan Uni Soviet.

Di Transnistria, waktu seolah tak berputar dan dunia masih sama seperti ketika era Perang Dingin. Bagi generasi tua Transnistria, saat terbaik dalam hidup mereka adalah ketika masih bersama Uni Soviet.

"Kami tidak ingin bergabung dengan Moldova," ujar seorang wanita tua. "Kami hanya ingin bersama Rusia, karena hanya Rusia yang melindungi kami."

Wanita tua lainnya mengatakan; "Jika pasukan Rusia datang, kami akan berteriak 'hore'." Lainnya mengatakan; "Pintu selalu terbuka untuk Rusia."

Pertanyaannya, mengapa NATO harus repot-repot memperingatakan Eropa akan kemungkinan invasi Rusia ke Transnistria?

Transnistrian berulang kali meminta izin Moskwa untuk bergabung dengan Rusia. Ketika Transnistria menyatakan merdeka, Moskwa juga tidak bisa mengakui kemerdekaan wilayah itu karena hanya akan membuka konflik dengan Moldova.

Generasi muda Transnistria juga lebih suka mengarahkan pandangan ke Rusia, ketimbang ke Eropa Barat. Sergey dan Katya, mahasiswa fakultas hukum dan IT di Tiraspol, berharap mendapat kerja di Moskwa setelah lulus.

Sheriff Putin

Vladimir Putin, mantan agen KGB dan kini penguasa Rusia saat ini, punya jaringan bisnis hebat di kota-kota di Transnistria. Menggunakan brand name Sheriff, Putin menguasai jaringan supermarket, pompa bensin, dan klub sepak bola FC Sheriff Tiraspol.

Bagi orang Eropa Barat, Transnistria adalah negara dengan kekayaan yang diperoleh dari penyelundupan minuman keras, tembakau, dan pasar senjata bekas Uni Soviet. Orang Transnistria tidak peduli dengan semua itu.

"Kami tidak perlu Eropa Barat. Yang terbaik bagi kami adalah menjadi bagian Rusia," ujar Anna Ivanna, seorang wanita desa.

Menurut Anna, Rusia tidak pernah meninggalkan Transnistria. Setelah perang 1990-1992, 1.200 pasukan Rusia masih bercokol di wilayah itu.

Putin memang tidak perlu menginvasi Transnistria. Ia cukup melobi, atau kalau perlu menekan Moldova, agar wilayah ini kembali ke pangkuan Rusia.

Jika itu terjadi, apa yang akan dilakukan NATO, AS, dan Eropa?

Vietnam Beli Radar Vostok E untuk Mendeteksi Pesawat Siluman

Sebelum pesawat tempur siluman pertama China "J-20" dioperasikan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, Vietnam terlebih dahulu membeli 20 radar Vostok E 2-Dimensional Metric Band Surveillance dari Belarus yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat tempur siluman, Military Analysis yang berbasis di Moskow melaporkan.

Radar Vostok E
Radar Vostok E dalam posisi tempur (Foto : KB radar)

Dikembangkan oleh KB Radar yang berbasis di Belarus, radar Vostok E VHF band merupakan radar pengganti dari sistem radar P-18 saat era Uni Soviet. KB Radar sendiri mengklaim radar Vostok E mampu mendeteksi pesawat tempur siluman seperti F-117A Nighthawk pada jarak 74 kilometer jauhnya saat kondisi electronic jamming (gangguan/kacau elektronik). Dalam kondisi tanpa gangguan, jarak deteksi bisa meningkat hingga 350 kilometer.

Dengan wideband "Kharchenko" square ring unik yang disusun dalam pola kisi berlian, kelincahan frekuensi radar Vostok E akan meningkat terhadap pesawat-pesawat tempur siluman. Dalam situasi tanpa electronic jamming, deteksi radar Vostok E untuk pesawat tempur non siluman seperti F/A 18 Super Hornet bisa sejauh 255 km. Bahkan ketika menghadapi pesawat tempur siluman seperti F-22, radar Vostok E dapat mendeteksinya pada jarak 57 kilometer dan lalu menembak jatuhnya dengan kombinasi sistem pertahanan udara S-300. Radar Vostok E dianggap sebagai penantang dominasi udara dari pesawat siluman Amerika.

Vietnam mungkin akan menjadi negara pertama yang menggunakan sistem radar Vostok E dalam strategi perang asimetris melawan pesawat tempur siluman dari China yaitu J-20 dan J-31 atas sengketa wilayah di Laut Cina Selatan.

Radar Vostok E
Radar Vostok E saat dimobilisasi (Foto : KB Radar)

Pihak Belarus tidak hanya menyetujui akusisisi 20 radar Vostok E oleh Vietnam, tapi juga menawarkan kepada personel pasukan pertahanan udara Vietnam untuk dilatih di Minsk (ibukota Belarus) agar lebih efektif menggunakan sistem radar ini.

Kerjasama antara Vietnam dan Belarus selama ini terdiri dari penelitian dan program pembangunan, pengembangan industri pertahanan dan pelatihan teknis. Dan kerjasama yang terpenting saat ini adalah soal akuisisi 20 radar Vostok E. Dengan kerjasama industri pertahanan dengan Belarus, Vietnam juga berniat meminimalisir ketergantungannya pada alutsista Rusia.

Wow.... Luar Biasa Cantik Senapan Ini

Saat ini manufaktur senjata makin modern, berbagai fitur ditambahkan dan keakuratan ditingkatkan, tapi tanpa disadari pabrikan sudah kehilangan salah satu seni yang berharga di masa lalu, yaitu ukir atau pahat logam.
Perusahaan lelang Rock Island Auction segera akan melelang dua senapan Le Page, yang mana keduanya menampilkan seni sejati senapan dari era 1800-an. Tampilan senjata ini luar biasa cantik. Entah pemahat logam saat ini butuh waktu berapa tahun untuk membuat detail yang mengesankan seperti senjata ini.

http://www.artileri.org/2014/04/wow-luar-biasa-cantik-senjata-ini.html






Lelang akan dibuka pada 2 Mei dan harga senapan diatas ditaksir antara USD 275 ribu-USD 425 ribu. Gambar-gambar lain senapan diatas dengan resolusi tinggi bisa Anda lihat disini dan senapan Le Page yang satunya lagi yang ditaksir antara USD 85 ribu- USD 130 ribu bisa sobat lihat disini. Happy bidding....

Walikota Surabaya Tri Rismaharini

 http://2.bp.blogspot.com/-otjpK5CuDRY/UxChwp988SI/AAAAAAAAEIo/8O8D_jSL4Aw/s1600/Risma.jpeg

Coba lihat saja pakaian yang dia kenakan, sederhana. Make up juga biasa saja. Bahkan anak-anak jalanan bisa bicara langsung dengan dia. Pelacur apalagi. Pelacur bisa sharing langsung dengan dia dan walikota ini juga mau nongkrong di tempat begituan. Merek pakaian, perhiasan dan pakaian kebesaran tidak menunjukkan dia sebagai seorang pejabat tinggi yang memimpin satu kota besar.
Dia juga tidak bisa dibanggakan pelaku bisnis yang ingin berinvestasi maruk sehingga beberapa rencana besar yang sesuai ‘keinginan pasar’ ditolak mentah-mentah demi membela kepentingan rakyatnya.
Dia juga tidak bisa dibanggakan sesama pejabat karena tidak bisa  diajak negosiasi kolusi, prosentase komisi, proyek  dan kepentingan lainnya. Saking tidak dapat dibanggakan oleh sesama pejabat maka wakil rakyat yang harusnya mewakili rakyat,  tidak melibatkan dia untuk pemilihan wakil walikota (http://www.tempo.co/read/news/2014/01/29/078549431/Naiknya-Wakil-Wali-Kota-Surabaya-Tak-Prosedural). 
Ibu Walikota ini tidak dapat dibanggakan oleh sesama politisi elit yang memperjuangkan kepentingan mereka. Dia juga terlalu mau tahu dan selalu menyelesaikan semua masalah dengan cepat tidak ditunda. Terlalu sering jalan bahkan mau mengatur lalu lintas yang terjebak macet. Benar-benar tidak menunjukkan wibawa seorang pejabat jumawa. Ini sangat mempermalukan laki-laki pada umumnya. Oleh sebab itu tidak dapat dibanggakan oleh laki-laki yang harusnya lebih bertanggung jawab.
Dari segi perkembangan model dan kemasyuran seorang wanita, ibu Risma juga tidak pernah wara-wiri di pusat perbelanjaan terkenal apalagi memiliki jadwal belanja di luar negeri.  Tidak mau kongkow atau paling tidak arisan dengan ibu pejabat lain sehingga membanggakan  diri sebagai wanita terhormat. Untuk dikenal dan terlihat amanah, ibu ini juga jarang foto-foto, undang wartawan dan tidak ngurusi sosial media seperti facebook fan, twitteran apalagi instagram.
Dia juga seringkali melupakan kepentingan keluarga  tapi mau menangis memikirkan kepentingan kota. Ya, tidak membanggakan. Bukankah saat yang tepat memikirkan kepentingan keluarga agar setelah tidak menjabat nanti sudah ada dinasti yang meneruskan kekuasaan. Walikota ini hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mau bekerja dengan tulus serta bertanggung jawab sebagai seorang walikota. Tapi di negeri ini  seorang yang tulus   memiliki musuh yang selalu siap menerkam.  Binatang buas saja mati di KBS demi kepentingan yang seliweran di atasnya.  Ini Surabaya Man! Pilkada Gubernurnya saja  kontroversi,  karena ‘terkaman-terkaman’ kepentingan.
Terlalu sulit orang yang tulus dan jujur dapat berkiprah lama dikancah politik Indonesia. Seperti butir pasir  yang dilemparkan pada putaran gasing terlempar keluar dari sistem yang bobrok dan palsu dengan kepentingan mengatas namakan rakyat padahal rampok yang duduk di kursi roda pemerintahan.
Tidak ada yang dapat dibanggakan pada Ibu walikota Surabaya jika dilihat dari kepentingan busuk politisi dan kemewahan kolusi. Tidak dapat dibanggakan kota lainnya karena Surabaya telah menyabet berbagai penghargaan yang tadinya tidak mungkin diperoleh kota ini.

Lebih tidak membanggakan  apabila rakyat terus diam,  dan tidak ada yang berdiri dibelakang orang-orang seperti  ini dalam  menghadapi musuh setiap hari seorang diri. Musuh yang mengatasnamakan wakil rakyat terhormat  (mungkin tidak semua).

Surabaya Dideklarasikan jadi 'Kawasan Bebas Prostitusi'

Surabaya Dideklarasikan jadi 'Kawasan Bebas Prostitusi'

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Pemkot Surabaya, mendeklarasikan wilayahnya sebagai kawasan bebas prostitusi.
Deklarasi itu, dilakukan sebagai tindak lanjut penutupan sejumlah lokalisasi di Kota Surabaya. Walikota Tri Rismaharini menjelaskan, permasalahan lokalisasi seperti Dolly merupakan masalah klasik yang selalu mengiringi walikota Surabaya yang menjabat setiap periode.
Termasuk juga, permasalahan sosial lainnya seperti trafficking (perdagangan anak). Permasalahan sosial tersebut, memiliki benang merah dengan daerah lokalisasi.
"Ketika kita datang ke sekolah yang lokasinya dekat dengan lokalisasi, ada kecenderungan anak didik tatapan matanya kosong dan tanpa semangat. Kita melihat itu, dikarenakan kurangnya semangat belajar dari anak-anak yang dekat dengan praktik seks bebas. Makanya, mereka harus diselamatkan," kata Risma, seusai mendeklarasikan "Surabaya bebas Prostitusi" di Taman Bungkul Surabaya, Minggu (10/11/2013).
Risma menjelaskan, pemkot cukup serius melakukan rehabilitasi terhadap wilayah lokalisasi. Sejauh ini, sudah ada tiga lokalisasi yang sudah ditutup. Yakni lokalisasi Tambakasri, Klakah Rejo, dan Dupak Bangunsari.
Pemkot, berencana menutup lokalisasi Sememi pada Desember 2013, dan pada 2014 pemkot akan melakukan merehabilitasi terhadap kawasan lokalisasi Jarak dan Dolly.
Khusus untuk rehabilitasi lokalisasi Dolly, menurut Risma, sedang melakukan persiapan matang dan harus lengkap karena kawasan lokalisasi Dolly luas dan bahkan disebut sebagai lokalisasi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, pihaknya sudah menginstruksikan kepada dinas terkait untuk siap bergerak dalam program penutupan lokalisasi Dolly nantinya.
"Kami merasa tidak ada gunanya Surabaya bersih, indah dan tamannya banyak, tetapi masih ada masalah sosial seperti Dolly. Karena itu, kita tidak akan menyerah untuk bisa menutup Dolly," ujar Risma.
Terkait akan diapakan kawasan Dolly nantinya  setelah direhabilitasi papar Risma, Pemkot akan menjadikan area lokalisasi yang berada di tengah kota ini sebagai sub distrik unit pengembangan. Ini dikarenakan adanya keyakinan agar warga yang tinggal di sekitar lokalisasi Dolly, tidak khawatir dengan adanya rencana rehabilitasi yang dilakukan pemkot.
Dicontohkan Risma, seperti di kawasan lokalisasi Dupak Bangunsari yang awalnya sempat tidak setuju dengan penutupan, kini merasakan dampak positifnya. "Warga di sekitar Dolly tidak perlu bingung. Lihat warga di Dupak Bangunsari, sekarang produk UKM mereka sudah sampai luar negeri. Saya juga terkejut akan hal itu," tutur Risma.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ingin menutup semua titik lokalisasi prostitusi di Surabaya. Bulan Juni 2014 atau sebelum memasuki bulan puasa, giliran kompleks lokalisasi terbesar yakni Dolly dan Jarak yang akan ditutup. Mengapa wali kota perempuan pertama Surabaya itu "ngotot" menutup lokalisasi di kota Pahlawan?

Wanita yang akrab dipanggil Risma itu menuturkan, awalnya dia tidak yakin mampu menutup lokalisasi yang seolah-olah sudah menjadi ikon kota Surabaya itu. Namun, setelah melihat sendiri dampak sosial yang ditimbulkan akibat praktik prostitusi itu, Risma akhirnya bertekad menghentikan semua aktivitas lokalisasi.

Realitas sosial yang ditangkap Risma di lingkungan lokalisasi itu antara lain, anak-anak kerap menjadi korban. Banyak perempuan di bawah umur yang dipekerjakan, padahal mereka masih dalam usia sekolah.

"Anak-anak juga kerap menjadi korban ketidakharmonisan rumah tangga akibat praktik prostitusi di lokalisasi," ujarnya, Senin (10/3/2014) sore.

Selain itu, lanjut Risma, dia melihat bahwa menjadi PSK di lokalisasi prostitusi ternyata juga bukanlah jawaban atas alasan ekonomi seperti yang diduga sebelumnya. Buktinya, banyak PSK yang sudah bertahun-tahun beroperasi, tetapi juga tidak bisa hidup layak secara ekonomi.

"Ada PSK yang sudah bertahun-tahun beroperasi, namun juga masih banyak utang. Ini artinya menjadi PSK bukanlah suatu pekerjaan," tambahnya.

Wali Kota yang diusung PDI-P itu mengaku sudah menemukan formula untuk mendidik para PSK itu untuk menjadi pelaku ekonomi yang produktif nantinya. Sebelumnya, Risma telah menutup lokalisasi Bangunsari dan Semampir.

Menurut pendataan Pemkot Surabaya, saat ini ada sekitar 1.080 PSK di kompleks lokalisasi Dolly. Mereka aktif di puluhan wisma dengan sekitar 300 lebih mucikari. Pemerintah pusat, Pemprov Jatim, dan Pemkot Surabaya menggelar berbagai program untuk mengembalikan para PSK menjadi wanita harapan yang memiliki pekerjaan tetap yang lebih menjanjikan.

Menengok Armada Kapal Selam "Siluman" Angkatan Laut Israel

Kapal-kapal selam ini akan bergerak secara diam-diam di bawah air, namun jangan sampai ketenangannya ini melengahkan Anda, karena ini murni alat perang canggih dan mematikan.

Kapal selam kelas Dolphin Israel
Salah satu kapal selam kelas Dolphin Angkatan Laut Israel (Foto: Internet)
"Dunia lain", seolah sudah menjadi pemandangan sehari-hari dari Angkatan Laut Israel. Diam-diam, angka pelatihan kapal selam di tubuh Angkatan Laut Israel meningkat tajam dan membuat semakin banyak pelaut yang bisa mengoperasikan kapal selam generasi terbaru Israel ini.
Yang dibicarakan adalah tiga kapal selam diesel-listrik kelas "Dolphin 2" yang memiliki kemampuan bergerak tenang di bawah air. Ketiga kapal selam ini dirancang oleh Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) Jerman, khusus untuk Angkatan Laut Israel. Sudah dua kapal selam yang diterima, satu kapal selam lagi masih dalam order. Kapal selam pertama INS Tannin (Crocodile), diterima tahun lalu dan kapal selam kedua INS Rahav (Demon) diterima April lalu. Kedua kapal selam ini baru akan operasional secara penuh pada 2014 nanti. Sedangkan kapal selam ketiga (tidak disebutkan namanya) saat ini masih menjalani uji coba laut.
Kapal-kapal selam siluman ini akan memberikan Israel keunggulan dalam operasi-operasi rahasia. "Kontribusi kami selama masa damai adalah dengan menambah jumlah intelijen. Kapal selam merupakan alat mata-mata dan kami tidak bisa mengabaikannya," tegas Mayor "Y", seorang komandan pelatihan operasi kapal selam dari basis pelatihan Angkatan Laut Israel. "Selama masa perang, kapal selam akan menjadi salah satu instrumen jarak jauh angkatan laut. Anda tidak akan tahu dimana kapal selam itu berada dan dimana ia akan menenggelamkan Anda," tambah Mayor Y dikutip blog IDF.

"Enam bulan lalu, pelatihan besar untuk kapal selam sudah dimulai, sehingga kami akan memiliki cukup banyak kru untuk menjalankan kapal selam baru, kata Mayor Y. Proses evaluasi untuk merekrut kru kapal selam ini sangat kompetitif. Dari setiap sepuluh orang yang ingin menjadi kru, hanya satu yang diterima.
"Kapal selam baru hampir sama dengan yang sebelumnya (2 kapal), namun lebih besar," kata Mayor Y. Untuk mengantisipasi kedatangan kapal selam tersebut, angkatan laut memperbarui rencana pembelajaran dan silabus untuk melatih operator yang akan berkerja di kapal selam itu. Beberapa kru yang lulus akan berkesempatan untuk turut meresmikan kapal selam baru itu saat tiba.

INS Tannin saat masih uji coba laut di Denmark (Foto:rambo54/militaryphotos)
Menurut Mayor Y, kapal selam kelas "Dolphin 2" adalah kapal selam konvensional paling mutakhir di dunia, katanya. "Saya pikir kami berada di salah satu tingkat tertinggi untuk operasi yang menggunakan kapal selam, baik dari segi kemampuan maupun kesiapan," ujar Mayor Y. Sebelumnya Israel sudah memiliki tiga kapal selam kelas Dolphin (standar) yang juga buatan Jerman. Masing-masing diterima pada tahun 1998, 1999 dan 2000.

Mengabdi di dalam kapal selam merupakan pekerjaan yang sangat rahasia, dan angkatan laut hanya mengungkapkan sedikit kegiatan dari seluruh operasi yang dilakukan. Selalu ada kapal selam di laut. Di mana pun Anda menempatkan jari di peta laut, mungkin ada kapal selam di sana," tegas Mayor Y.

Kapal Selam Kelas Dolphin
Jenis
Kapal selam diesel listrik
Produsen
Howaldtswerke-Deutsche Werft (HDW) Jerman
PenggunaAngkatan Laut Israel
Jumlah selesai
Lima:
- INS Dolphin
- INS Leviathan
- INS Tekumah
- INS Tannin
- INS Rahav
Aktif
Tiga (dua akan aktif pada 2014 dan 1 masih dalam order)
Displacement
- 1.640 ton (surfaced), 1.900 ton (submerged)
- 2.300 ton (Dolphin 2)
Panjang
- 57 m
- 68 m (Dolphin 2)
Lebar6,8 m
Draught
6,2 m
Propulsi
Diesel elektrik, 3 diesel, 1 shaft, 4,243 shp (3,164 kW)
Kecepatan
20 knot
Daya selam
350 m (saat uji coba)
Kru
35+10 kru tambahan
Sensor dan processing system
STN Atlas ISUS 90-55 combat system
Persenjataan
6 × 533 mm (21.0 in) torpedo tubes
4 × 650 mm (26 in) diameter torpedo tubes
Catatan : Spesifikasi di atas adalah untuk Dolphin standar (kecuali yang disebutkan Dolphin 2)