Sabtu, 28 Februari 2015

Tiga Senjata Terbaik Rusia Penangkal Sistem Pertahanan Misil Global AS

Rusia akan ‘melakukan langkah balasan’ atas tindakan AS yang memperluas jangkauan sistem pertahanan misilnya secara global. Demikian ditegaskan Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Rusia Jendral Valery Gerasimov pada akhir Januari lalu. 
Senjata ini akan mengalahkan sistem misil pertahanan AS
Menurut Gerasimov, langkah balasan tersebut berupa peningkatan sistem persenjataan angkatan darat dan laut Rusia untuk menangkal ancaman serangan sistem misil AS. Sang jenderal juga menyebutkan senjata tersebut ‘akan mengalahkan sistem misil pertahanan AS’. Namun demikian, Gerasimov tidak menyebut sistem yang ia maksud secara spesifik. Berikut, RBTH akan membahas tiga senjata terbaik milik Rusia yang berpotensi menjadi senjata andalan untuk melawan sistem pertahanan misil AS.

RS-26 Rubezh

Misil antarbenua terbaru milik Rusia, RS-26 Rubezh, merupakan hasil pengembangan terbaru industri pertahanan Rusia. Proyek ini sangat dirahasiakan, sehingga hanya sedikit informasi yang diketahui mengenai misil ini. Rubezh, atau yang juga dikenal sebagai Avangard, merupakan misil masa depan yang diciptakan berdasarkan misil RS-24 Yars yang saat ini sudah melengkapi perbendaharaan senjata Pasukan Rudal Strategis Rusia.
RS-26 Rubezh
RS-26 Rubezh

Misi berbahan bakar padat ini dilengkapi dengan hulu ledak terpisah. Kuantitas dan bobot hulu ledak yang dapat diangkut oleh misil ini masih belum diketahui. Namun, mengingat misil ini merupakan versi modern dari misil Yars—yang masuk dalam keluarga misil Topol-M—maka diperkirakan Rubezh dibuat untuk mengangkut misil dengan bobot minimal 60 ton. Misil ini hanya akan tersedia dalam versi bergerak, dan kemungkinan kelak akan digunakan untuk menggantikan sistem misil Topol yang mulai menua.

Pihak militer Rusia menyebutkan bahwa uji peluncuran misil ini akan dilakukan pada Maret mendatang. Sebelumnya, uji coba dilakukan secara rahasia, meski pada 2013 informasi mengenai uji coba misil MS-26 di situs uji coba Kapustin Yar bocor ke media. Ketika itu, Staf Jenderal menjelaskan bahwa uji coba tersebut merupakan peluncuran keempat Rubezh.

Berdasarkan keterangan Kolonel Jendral Zarudnitsky, misil baru ini memiliki perlengkapan tempur mutakhir, dan lebih unggul dari segi kapasitas serta karakteristik manuver dibanding sistem pertahanan rudal sebelumnya.

Sarmat

Ukraina menghentikan pasokan suku cadang untuk sistem misil Voevoda milik Rusia. Sementara, AS terus mengembangkan sistem pertahanan misilnya ke seluruh dunia. Hal itu membuat Rusia mau tak mau harus mencari alternatif pengganti Voevoda.

Pada sekitar 2018-2020, Rusia akan menerima misil kelas berat terbaru, Sarmat. Saat ini sistem persenjataan tersebut tengah dikembangkan oleh Pusat Roket Negara Makeyev.
Voevoda Missile
Voevoda Missile

Sistem Topol yang saat ini digunakan oleh Rusia dapat meluncurkan rudal seberat 1,2 ton hingga jarak sembilan ribu kilometer. Sementara, Voevoda dapat meluncurkan misil seberat 7,3 ton hingga jarak 16 ribu kilometer.

Jika data yang bocor ke media benar, Sarmat akan berukuran setengah dari ukuran Voevoda. Berat senjata ini mencapai sekitar seratus ton, sementara Voevoda memiliki berat 211 ton. Sarmat diperkirakan mampu meluncurkan misil berbobot empat hingga lima ton. Selain itu, peluncuran jarak jauh membuat misil Sarmat memiliki waktu yang cukup leluasa, baik sebelum maupun sesudah peluncuran.

Bulava

Misil R-30 Bulava telah diidam-idamkan sejak lama oleh Angkatan Laut Rusia. Kini, misil tersebut telah bergabung dalam perbendaharaan senjata AL Rusia. Kapal selam tempur kelas Borey ini awalnya dibuat untuk mengalahkan kompleks sistem pertahanan musuh. Sistem pertahanan rudal ini dapat membawa sepuluh hulu ledak dan meluncurkan tembakan serentak dari bawah air dengan jarak lebih dari 11 ribu kilometer. Borei bahkan dapat menyerang AS tanpa meninggalkan markas mereka di Armada Laut Utara atau Pasifik Rusia.
Bulava Missile
Bulava Missile

Setiap kapal selam canggih ini dilengkapi dengan 16 misil balistik R-30 Bulava-30 yang siap digunakan. Kapal selam tersebut memiliki fitur hidrodinamis yang unggul dan tingkat kebisingan yang sangat rendah. Hal itu membuat kapal ini dapat dengan mudah melakukan serangan balasan mendadak saat bertempur.

Berdasarkan beberapa laporan, konsep operasional Bulava berbeda dengan sistem Topol-M. Saat hulu ledak Topol-M ditembakan ke target, ia akan hancur berkeping-keping. Sementara, cara kerja Bulava menggunakan prinsip ‘menjalar’. Tiap blok rudal dapat dipisahkan satu per satu dari misil ketika misil tersebut diluncurkan. (RBTH)

ISIS Bangunkan Jepang dari Mimpi

Dibunuhnya dua warga negara Jepang oleh ISIS, Haruna Yukawa dan Kenji Goto, dinilai telah membangunkan Jepang dari mimpi di siang hari, bahwa niat baik dan mulia tidak cukup untuk melindungi mereka dari ancaman teroris seperti ISIS.


“Biarkan mimpi buruk untuk Jepang dimulai," ucap militan ISIS yang melakukan pembunuhan terhadap Kenji Goto dalam rekaman video, seperti dikutip New York Times, Minggu, 1 Februari 2015. Jepang tidak pernah terlibat dalam perang sejak Perang Dunia II.

Jepang pun tidak terlibat dalam berbagai operasi melawan terorisme, dilakukan oleh negara-negara Barat yang menjadi sekutu Jepang, termasuk serangan udara terhadap ISIS di Irak dan Suriah, di mana negara-negara Arab turut serta.

Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe tampak jelas memperlihatkan kemarahan, menanggapi pembunuhan terhadap Kenji Goto, bersumpah bahwa para teroris akan membayar atas tindakan mereka. Pernyataan keras yang tidak pernah dilakukan Jepang sebelumnya.

"Jepang belum pernah terlihat mengekspresikan gaya barat dalam diplomasi mereka sebelumnya," kata Akihisa Nagashima, mantan wakil menteri pertahanan Jepang. "Apakah dia (Abe) berusaha memberi Jepang kemampuan untuk mendukung sumpahnya?"

Abe mengatakan ingin mendiskusikan sebuah kerangka kerja yang memungkinkan militer Jepang melakukan operasi penyelamatan, bagi warga negara mereka yang dalam bahaya di luar negeri, Senin, 2 Februari 2015,

Dia menginginkan legislasi yang mengakhiri larangan bagi militer Jepang untuk terlibat pertempuran di luar negeri, demi membantu para sekutu Jepang yang menjadi sasaran serangan. Pembunuhan dua warganya, tampak bagai serangan 11 September 2001 bagi Jepang.

"Ini waktunya untuk Jepang berhenti bermimpi, bahwa niat baik dan mulia dapat melindungi dari bahaya di dunia luar sana," kata Kunihiko Miyake, mantan diplomat Jepang yang kini menjadi penasihat Abe untuk hubungan luar negeri.

Bagi Jepang, pembunuhan Haruna Yukawa dan Kenji Goto, lebih dari sekedar serangan teroris yang terjadi di Prancis, awal Januari 2015. Sebab selama ini Jepang tidak melakukan sesuatu, yang dapat dinilai sebagai provokasi untuk dibalas oleh kelompok-kelompok teroris.

Sejumlah analis dan diplomat mengatakan, trauma atas pembunuhan dua orang Jepang, akan mendorong Jepang untuk membangun kembali kekuatan militernya. Kekuatan yang pada Perang Dunia II sangat menakutkan, sebelum dihentikan dengan dua bom atom.

Militan ISIS mengancam bahwa tidak ada warga Jepang yang akan aman di seluruh dunia. Ancaman itu tampaknya tidak membuat Jepang yang terkenal dengan budaya samurainya menjadi takut, sebaliknya membangkitkan kemarahan.

Saat ini publik Jepang tampak mendukung penuh keinginan Abe, untuk meningkatkan profil Jepang di Timur Tengah. "Saya tidak melihat sedikit pun tanda orang Jepang ingin mundur. Sebaliknya mereka sangat marah," kata Ichiro Fujisaki, mantan duta besar Jepang untuk AS.

"Sebenarnya ini sungguh mengejutkan, bagaimana orang Jepang bersatu menentang kelompok teroris," tambah Fujisaki. Analis lainnya menambahkan, publik Jepang akan berdiri di sekitar pemimpinnya pada masa krisis, seperti tampak saat Jepang dihantam tsunami pada 2011.

"Tidak ada negara yang aman dari terorisme. Bagaimana kita menghentikan pengaruh ISIS dan menghentikan ekstremisme? Jepang harus memainkan bagian untuk mencapai ini," kata Abe di parlemen. (VivaNews)

Tanpa Bantuan AS, Rusia Akan Lindungi Fasilitas Nuklirnya Sendiri

Rusia telah memutuskan akan melindungi fasilitas nuklirnya sendiri tanpa bantuan Amerika Serikat. Namun, Moskow masih bersedia untuk melanjutkan kerja sama dengan Washington untuk mengontrol keamanan penggunaan nuklir di dunia. Berdasarkan keterangan Badan Nuklir Rusia Rosatom, sebelumnya Amerika Serikat sudah lebih dulu tidak mengacuhkan kerja sama mereka di bidang nuklir. 
Kremlin dan Gedung Putih akan segera menemukan bentuk kerja sama baru di bidang keamanan nuklir, dan pengalaman yang mereka miliki mungkin akan berguna untuk masa depan. Foto: Mikhail Mokrushin/RIA Novosti

Pada Selasa (20/1) lalu, harian The Boston Globe melaporkan bahwa Rusia telah memutuskan tak mau lagi menerima bantuan dari AS untuk melindungi fasilitas nuklirnya. Hal tersebut juga sudah disampaikan secara resmi pada Washington.

Sebelumnya, pada Maret 2014, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan bahwa mereka hendak membatasi kerja sama nuklir dengan Rusia.

Namun, Badan Nuklir Rusia Rosatom menyebutkan Rusia dan AS akan tetap melanjutkan kerja sama untuk mengawasi penggunaan nuklir secara global. “Rusia dan AS memiliki tanggung jawab khusus untuk memastikan keamanan dan keselamatan penggunaan material nuklir, menjamin perlindungan yang mumpuni, dan melindungi agar fasilitas nuklir ini tak sampai ke tangan organisasi teroris,” terang Rosatom melalui pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis (22/1).

Kerja Sama yang Tak Setara

“Pada tahun 1990-an, Rusia tengah dilanda krisis ekonomi dan merasa kesulitan mengelola penggunaan material nuklir. Hal tersebut mengundang perhatian AS,” kenang Kepala Peneliti di Center for Arms Control, Energy, and Environmental Studies Anatoly Dyakov.

Program Kerja Sama Pengurangan Ancaman Nuklir Nunn-Lugar kemudian diadopsi pada 1992. Salah satu tujuan program tersebut adalah meningkatkan sistem perlindungan dan keamanan penggunaan material nuklir yang dibiayai oleh AS dan Rusia. Hasilnya, fasilitas nuklir Rusia menerima perlengkapan baru, dan sistem kontrol serta akuntansi penggunaan nuklir tersebut juga ditingkatkan secara signifikan.

Dengan membantu perlindungan fasilitas nuklir Rusia secara finansial, AS berhak melakukan inspeksi dan mengawasi penggunaan dana yang telah mereka alokasikan. Sementara, Moskow tak memiliki akses yang sama terhadap fasilitas nuklir AS. Hal itulah yang paling dipermasalahkan oleh Kremlin dan membuat Moskow merasa kerja sama tersebut bersifat tak setara.

Sebagian besar pekerjaan yang tercantum pada Program Nunn-Lugar telah selesai pada 2013. Kini, program tersebut akan digantikan oleh ‘kerangka kerja sama bilateral untuk mengurangi ancaman nuklir’ yang baru.

Menurut Dakov, selama ini Moskow sudah menerapkan sistem perlindungan fasilitas nuklir mereka sendiri secara independen, menggunakan dana milik Rusia.

Rusia sempat mengajukan tawaran untuk mengubah kerja sama ke ranah ilmiah dan tertarik untuk mengunjungi fasilitas nuklir AS, namun AS menolak tawaran tersebut.
Terkait Konflik Ukraina

Para ahli menilai terpuruknya hubungan Rusia dan AS akibat krisis Ukraina bukan alasan utama yang menyebabkan pemutusan hubungan kerja sama di bidang nuklir. Sanksi yang diberikan Barat pada Rusia membuat Moskow tergerak untuk mempercepat penerapan sistem perlindungan mandiri pada fasilitas nuklirnya, tanpa mengandalkan bantuan keuangan dari AS.

Pada Nuclear Security Summit 2010, Rusia menegaskan bahwa tiap negara harus bertanggung jawab atas keamanan penggunaan material nuklir mereka masing-masing.

AS sendiri telah membatasi beberapa kerja sama teknis dan ilmiah mereka dengan Rusia mulai 2014, khususnya di bidang nuklir, sejak terjadi konflik di Ukraina. Hal itu berdampak terhadap beberapa proyek penting, salah satunya program kerja sama Rusia-AS untuk mengekspor energi nuklir ke negara lain.

Dyakov menekankan, jika Washington masih tertarik untuk melanjutkan kerja sama dengan Kremlin di bidang keamanan nuklir, kerangka kerja sama tersebut harus dibuat setara.

Sementara para ahli berpendapat, Kremlin dan Gedung Putih akan segera menemukan bentuk kerja sama baru di bidang keamanan nuklir, dan pengalaman yang mereka miliki mungkin akan berguna untuk masa depan. (RBTH)

Inilah Isi Perjanjian Minsk Dalam Konflik Ukraina dan Pemberontak Pro Rusia

Kedua belah pihak (Ukraina dan Pemberontak Pro Rusia) harus mulai menarik senjata berat dari garis depan dalam waktu dua hari dari awal gencatan senjata untuk mendirikan zona penyangga antara 50 dan 140 kilometer (31-87 mil) luas, tergantung pada berbagai senjata.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko yang tampak muram sedang berjabat tangan dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin (Foto: AP)
Presiden Ukraina Petro Poroshenko yang tampak muram sedang berjabat tangan dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin (Foto: AP)

Berdasarkan perjanjian Minsk, Kiev juga akan mulai merebut kembali kontrol atas sekitar 400 kilometer (250 mil) dari perbatasan Rusia yang dikuasai pemberontak Ukraina, tetapi hanya setelah pemilu lokal diadakan.

Perbatasan adalah sepenuhnya di bawah kendali Rusia dan pemberontak, namun menurut Kiev, justru itu digunakan sebagai saluran untuk persediaan separatis.

Wilayah yang dipergang separatis akan diberi otonomi yang akan dibentuk melalui perundingan. (JaringNews)

Uji Coba Pesawat A-100 Akan Dimulai Tahun 2015

Akhirnya diketahui bahwa tahun ini akan dimulai uji coba pesawat peringatan dini (Airborne Early Warning and Control) A-100 “Premiere” buatan Rusia, yang sudah lama dinanti-nantikan oleh Angkatan Udara Rusia. Mulai tahun 2016 nanti, pesawat-pesawat tipe ini akan mulai datang menggantikan pesawat A-50 “Shmel”, yang sudah dipakai sejak pertengahan era 1980-an. Adapun kesamaan antara “Premiere” dengan A-50 hanya sebatas pada penampilan luar saja. 

Uji Coba Pesawat A-100 Akan Dimulai Tahun 2015

A-100 diciptakan atas dasar pesawat pengangkut Il-76MD-90A yang dimodernisasi. Dibandingkan dengan pendahulunya, pesawat A-100 memiliki badan pesawat yang lebih panjang, mesin penggerak baru yang lebih hemat bahan bakar di bawah kedua sayapnya, dan kabin awak pesawat yang lebih didominasi oleh kaca.

Pesawat baru ini dirancang untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan melacak sasaran—baik di udara, darat, maupun di laut—seluruh tipe pesawat tempur, pembom, pesawat penyerbu, serta pesawat khusus dan tanpa awak.

Awal proses uji coba pesawat A-100 sudah diumumkan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Federasi Rusia untuk Angkatan Udara Kolonel Igor Klimov pada tahun ini. Klimov mengatakan, pada tahun 2016 nanti pesawat ini sudah harus masuk ke dalam barisan tentara Rusia untuk diuji coba. Sementara, pada musim gugur 2015 mendatang, pesawat seri pertama Il-76MD-90A akan diserahkan ke pabrik aviasi Taganrog untuk dipasangkan kompleks peralatan radioelektronik.

Batas waktu pengiriman pesawat ini diketahui telah dipercepat. Sebelumnya, pesawat ini dijanjikan masuk ke Angkatan Udara Rusia pada 2017. Hal ini ternyata membuktikan bahwa “Premiere” benar-benar dibutuhkan oleh Angkatan Udara Rusia. Pesawat yang membawa peralatan radioelektronik dengan daya yang sangat besar akan bertindak sebagai “mata”, “telinga”, dan bahkan “pusat otak” bagi pesawat-pesawat tempur lainnya. Karena Rusia saat ini tengah memodernisasi koleksi pesawat tempur miliknya, kemunculan pesawat peringatan dini yang baru pun menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.

Keputusan pengembangkan pesawat peringatan dini terbaru oleh perusahaan TANTK Beriev bersama dengan perusahaan NPO Vega-M telah diambil pada tahun 2004 lalu. Namun, sejarah proyek ini berakar dari tahun 1999, ketika Israel—di bawah tekanan AS—dipaksa untuk membatalkan pengiriman sistem radar dengan antena phased array untuk pesawat A-50I Rusia, yang rencananya akan disuplai ke Tiongkok.

Pada akhirnya, Angkatan Udara Rusia tidak bisa membeli peralatan teknis tersebut. Namun, kontrak ekspor yang ada telah menolong produsen pesawat Rusia. Setahun setelah itu, hubungan kerja sama dengan Israel membuahkan hasil, tetapi dalam arah yang berbeda dan lebih tajam, pesawat Rusia A-50EI dengan sistem radio impuls Doppler EL/W-2090 milik perusahaan Israel Elta berhasil diproduksi dan dikirim ke India. Kemungkinan saat itu Pemerintahan Rusia memutuskan untuk menciptakan teknologi buatan dalam negeri dengan spesifikasi yang sama.

Di waktu bersamaan, pasukan tentara Rusia meminta sesatu yang baru kepada industri aviasi militer. Angkatan bersenjata Rusia menginginkan pesawat tipe ini dilengkapi dengan antena baru yang memiliki cakupan jaringan yang lebih luas dan waktu mengudara yang lebih lama. Berita baik mengenai perkembangan proyek ini baru diterima pada tahun 2011 lalu, ketika penerbangan pertama pesawat A-50E yang telah dimodernisasi dengan sistem elektronik digital dan juga jarak penerbangan yang lebih besar ini, berhasil dilaksanakan.

Hal yang lebih rinci terkait proyek A-100 diungkapkan oleh Panglima Utama Angkatan Udara Rusia Kolonel Jenderal Aleksandr Zelin. Zelin mengatakan kepada wartawan, antena untuk pesawat A-100 sudah siap. “Antena ini benar-benar jauh berbeda daripada milik pendahulunya, A-50. Antena ini dilengkapi dengan 'active electronically scanned array',” kata Zelin menerangkan. Zelin juga menyebutkan, pesawat pengangkut modernisasi tipe Il-76  akan menjadi dasar pembuatan A-100 dan dilengkapi dengan mesin penggerak baru PS-90, yang akan meningkatkan jarak tempuh pesawat ini.

Sama seperti di setiap negara di belahan dunia lainnya, semua yang berhubungan dengan kompleks perangkat radioelektronik di Rusia dirahasiakan. Pada dasarnya, tidak ada yang mengetahui dengan pasti mengenai karakteristik sistem radar “Premiere”.

Informasi yang didapat dari wakil direktur utama perusahaan gabungan Vega—yang menciptakan perangkat radioelektronik untuk kompleks baru pesawat A-100—pada tahun 2012 lalu mengumumkan mengenai A-100 sebagai berikut: “Kami tidak dapat menyebutkan karakteristik teknis-taktis dari pesawat ini karena alasan yang jela. Namun, penambahan sejumlah karakteristik, seperti jarak tempuh, ketajaman dan juga jumlah informasi yang didapat akan jauh lebih baik dibandingkan A-50 dan juga pesawat analog buatan asing lainnya.” (RBTH)

Tiga Senjata Rudal ‘Cerdas’ Terbaru Militer Rusia

KH-35U Uran

Dalam bidang persenjataan presisi jarak jauh, Rusia unggul di beberapa area dibanding AS. Kali ini, RBTH menyajikan tiga senjata rudal utama terbaru yang akan digunakan oleh angkatan bersenjata Rusia mulai tahun ini. 

KH-35U Uran

Senjata utama terbaru militer Rusia adalah rudal bersayap KH-35U Uran. Rudal ini dapat memandu hulunya sendiri, sehingga kebal dari gangguan radar musuh. Senjata ini dapat bekerja dalam modus aktif dan pasif. Pada modus aktif, rudal akan mengaktifkan hulunya dalam sepersekian detik untuk menemukan target. Sementara dalam modus pasif, rudal tidak memindai ruang di sekitarnya untuk mendeteksi target, melainkan hanya menangkap impuls yang dipancarkan oleh target. AS sangat tertarik dengan fitur ini dan ingin membeli hulu otomatis KH-35U untuk rudal antikapal Harpoon mereka.

KH-35U dapat menyerang target pada ketinggian hampir tiga meter di atas permukaan laut—lebih rendah dari dek kapal, yang membuat rudal ini sulit dideteksi oleh stasiun radar. Mengingat semua sistem antipesawat bekerja di area yang lebih tinggi, jika KH-35U terdeteksi pun, ia tetap tak mudah ditembak.

Rudal ini dapat ditempatkan di kapal permukaan dan pada kompleks rudal pantai SSC-6. Kompleks rudal tersebut hanya membutuhkan hitungan menit untuk mencari dan menembak target.

Saat ini, belum ada sistem antipesawat yang mampu mencegat rudal bersayap yang terbang rendah.

KH-31PM

Senjata baru lain yang memperkuat pasukan Rusia adalah KH-31PM, yang juga sangat terkenal di kalangan Angkatan Laut AS. KH-31 adalah rudal yang dibeli Angkatan Laut AS dari Rusia pada periode 90-an sebagai model untuk mengembangkan sistem anti-pesawat bagi kapal mereka. Amerika menggunakan senjata ini untuk mempelajari cara menembak rudal antikapal 3M-54 Tiongkok—yang juga diproduksi oleh Rusia.

KH-31PM

Di Barat, rudal Moskit Rusia tersebut disebut Sanborn karena kecepatannya mencapai lebih dari 2.800 kilometer per jam dan memiliki kekuatan luar biasa untuk menghancurkan musuh. Hingga saat ini, belum ada kapal yang dapat menghindari rudal tersebut. KH-31 sangat mirip dengan Moskit, tetapi berukuran lebih kecil dan harganya lebih murah. Senjata ini digunakan untuk menghancurkan target di atas air, stasiun radar, dan kompleks rudal antipesawat seperti Patriot.

KH-31PM yang baru dapat terbang 260 kilometer lebih jauh dibanding versi sebelumnya. Rudal ini juga memiliki sistem pandu dan mesin baru, yang membuat peluncurannya lebih tak terduga dan lebih mematikan bagi musuh.

3M-55 Yakhont

Sistem persenjataan baru Rusia yang paling mengesankan ialah rudal bersayap 3M-55 Yakhont, yang dijadikan model untuk rudal BraMos Rusia-India. Keistimewaan rudal ini ialah memiliki kecerdasan buatan yang sebanding dengan kecerdasan manusia. Kehebatan tersebut dapat berfungsi ketika menghadapi keadaan "satu rudal-satu kapal" ataupun menghadapi skuadron kapal. Rudal mengklasifikasikan target sesuai tingkat kesulitannya, memilih taktik serangan, dan menciptakan rencana penghancurannya. Dalam rangka menghindari kesalahan memilih manuver dan menyerang target yang ditetapkan, potret elektronik dari semua jenis kapal modern telah dipasang di dalam mesin komputasi yang terdapat pada rudal antikapal ini.

3M-55 Yakhont

Mesin komputasi tersebut juga memiliki data untuk melawan sumber daya tempur elektronik milik musuh, yang dapat mengganggu dan membelokkan rudal menjauh dari target, serta teknik taktis untuk menghindari tembakan pada sistem pertahanan antipesawat mereka. Menurut perancangnya, setelah diluncurkan rudal-rudal itu akan memutuskan sendiri mana yang akan menyerang target dan mana yang hanya akan meniru serangan tersebut untuk mengacaukan sistem antipesawat musuh. Ketika salah satu rudal menghancurkan target utama dalam skuadron, rudal lain menyerang kapal-kapal lain, dan ada kemungkinan menyerang satu sasaran dengan dua rudal. (RBTH)

Pesawat Tempur Su-25: Jaya di Masa Lalu, Tak Lekang Dimakan Waktu

Empat puluh tahun yang lalu, pesawat tempur Su-25 Grach (Rook) terbang untuk pertama kalinya dari sebuah landasan di Kubinka, pinggiran kota Moskow. Pesawat ini merupakan salah satu andalan berbagai angkatan bersenjata di seluruh dunia. Su-25 telah ikut bertempur dalam berbagai konflik dan peperangan. Dan hingga kini, pesawat yang telah mengabdi puluhan tahun tersebut masih menjadi mesin tempur yang sangat ditakuti oleh musuh. 
Jaya di Masa Lalu, Tak Lekang Dimakan Waktu

Saat ini, Rusia memiliki 14 skuadron tempur yang terdiri dari 150 pesawat Su-25, 60 pesawat Su-25SM, 52  pesawat Su-25SM2/SM3, dan 15 pesawat Su-25UB. Rencananya, lebih dari 80 pesawat pada skuadron tersebut akan dimodernisasi menjadi versi SM pada 2020. Sementara, sekitar seratus buah pesawat akan ditaruh di markas militer untuk waktu yang lama.

Su-25 merupakan pesawat bermesin jet ganda dengan bobot 17 ton. Pesawat ini dapat terbang dengan kecepatan hingga 975 kilometer per jam dan menjangkau area pertempuran dalam radius tiga ratus kilometer. Dengan dilengkapi sepuluh hardpoint, Grach dapat dengan sigap meluncurkan serangan dadakan dan melakukan pertahanan. Keunggulan utama pesawat tempur ini terletak pada kemampuannya dalam menggunakan senjata secara efisien. Selain itu, pesawat Su-25 dapat menutup lubang pada pesawat dengan segera menggunakan polyurethane foam.

Membasmi ISIS

Harga pesawat ini relatif murah dan ia tak terlalu membutuhkan perbagai perawatan yang rumit. Itu sebabnya Su-25 sangat laku di pasaran, baik dalam negeri maupun mancanegara. Saat ini, ada 1.300 pesawat Su-25 yang aktif beroperasi bersama berbagai angkatan bersenjata di seluruh belahan dunia.

Pesawat ini pernah digunakan dalam beberapa konflik besar, termasuk saat Perang Georgia dan pertempuran di Ukraina serta Irak. Belum lama ini Menteri Pertahanan Irak menyatakan mereka tengah menunggu 15 buah pasokan pesawat Su-25 untuk membasmi kelompok teroris ISIS.

Angkatan Udara Rusia menggunakan pesawat ini saat berperang dengan Georgia di Osetia Selatan. Kala itu, Georgia memiliki sistem pertahanan udara warisan Soviet yang didapatkan dari Ukraina. Sayangnya, Rusia dilaporkan kehilangan tiga buah pesawat tempur Rook dalam konflik bersenjata tersebut. “Setelah Georgia meluncurkan serangan misil, tiga buah S-25SM terpaksa kembali ke markas dan harus diperbaiki,” kenang Kepala Perancang Sukhoi Vladimir Babak.

Sementara dalam konflik terbaru, beredar kabar bahwa 11 buah Su-25 hancur dan 12 lainnya tidak berfungsi saat menghadapi tentara Ukraina yang memiliki berbagai sistem pertahanan udara mutakhir, termasuk MANPADS produksi abad ke-20.

Hal itu jelas menunjukan bahwa masa kejayaan Su-25 telah diambang akhir. Pesawat ini perlu dimodernisasi dengan menambahkan sistem persenjataan terbaru yang memiliki tingkat akurasi tinggi.

Tapi, di sisi lain Rook masih efektif untuk digunakan melawan kelompok teroris yang tidak memiliki sistem pertahanan udara.

Serangan Udara di Masa Depan

Upaya Rusia memodifikasi Su-25 menjadi versi SM-3 akan memperpanjang masa bakti pesawat ini setidaknya sepuluh tahun lagi. Versi modifikasi pesawat tersebut dilengkapi dengan fitur avionik canggih, termasuk penggunaan sistem navigasi GLONASS dan peningkatan kemampuan penerbangan otomatis dalam segala cuaca tanpa membutuhkan bantuan dari darat.

Pesawat Su-25SM3 pertama bergabung dengan tentara Rusia, tepatnya markas Distrik Militer Selatan, pada Februari 2013. Berdasarkan keterangan Komandan Angkatan Udara Victor Bondarev, modernisasi Su-25 masih akan dilanjutkan, karena kemampuan tempur pesawat ini tak ada tandingannya. “Su-25 masih tetap dibutuhkan oleh pasukan bersenjata Rusia di masa depan,” kata sang komandan pada RIA Novosti.

Salah seorang narasumber dari Komando Pusat Angkatan Udara menyebutkan, pada 2014 pasukan Rusia telah menerima pesawat tempur hasil modifikasi yang secara khusus dirancang untuk ‘menghancurkan dan meluluh-lantakan sistem pertahanan udara’.

Untuk saat ini, masa pensiun Su-25 ditunda ‘hingga waktu yang lebih tepat’. Setelah dimodifikasi agar lebih sesuai dengan kondisi peperangan modern, pesawat ini akan tetap kompetitif, baik di pasar dalam negeri maupun di luar negeri. (RBTH)