Minggu, 04 Januari 2015

Surat Terbuka Presiden SBY Kepada Pemimpin Dunia Tentang Krisis Gaza

gaza

NAMA saya Susilo Bambang Yudhoyono. Saya seorang muslim yang mencintai keadilan, dan yang sekaligus mencintai kedamaian, kemanusiaan dan demokrasi. Hampir sepuluh tahun ini saya memimpin Indonesia, dan beberapa bulan mendatang saya akan mengakhiri tugas saya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Kemarin, setelah pagi harinya bersama rakyat Indonesia merayakan ldul Fitri dengan tenang dan damai, sebuah hari keagamaan yang agung bagi umat Islam, sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata saya. Melalui tayangan televisi nasional dan internasional, hampir setiap menit, saya menyaksikan jatuhnya korban jiwa di Gaza akibat kekerasan dan aksi-aksi militer yang tengah berkecamuk. Hampir semua yang tewas dan yang Iuka-Iuka adalah mereka yang tidak berdosa, tidak berdaya dan tidak bisa menyelamatkan diri dari desingan peluru dan bom-bom maut pencabut nyawa.
Isak tangis ibu-ibu yang kehilangan putra-putrinya, serta jeritan anak-anak yang tiba-tiba kehilangan orang tuanya, sungguh menusuk relung hati saya yang paling dalam. Saya yakin, siapapun dan bangsa mana pun hampir pasti akan mengalami kesedihan dan kepiluan yang sama menyaksikan tragedi kemanusiaan yang tak terperikan itu.
Sebagai seorang Presiden yang saat ini tengah memimpin sebuah negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tentu saya tidak hanya bersedih dan marah.

sby-tengah

Hingga saat ini saya juga aktif melaksanakan diplomasi beserta para menteri dan diplomat Indonesia, termasuk dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas, tetapi situasi yang ada di Gaza kenyataannya bertambah buruk. Oleh karena itu, dari Jakarta, saya harus meneriakkan seruan moral kepada seluruh bangsa di dunia, utamanya para pemimpin dunia, dan utamanya lagi kepada pemimpin Israel dan Hamas, untuk segera menghentikan kekerasan dan tragedi di kawasan itu. Dengan seruan ini saya berharap para pemimpin dunia segera mengambil tanggung jawab bersama dan benar-benar bisa melakukan atau “memaksakan” gencatan senjata dan mengakhiri operasi-operasi militer yang nampaknya makin tidak pandang bulu.
Gencatan senjata itu mesti dilaksanakan sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Dengan gencatan senjata, berarti serangan Israel melalui udara, laut dan darat harus segera dihentikan. Demikian pula tembakan-tembakan roket dari pihak Hamas mesti diakhiri, agar aksi balas membalas atau siklus kekerasan tidak terus berlanjut. Tindakan para pemimpin politik dan militer untuk melanjutkan operasi-operasi militer saat ini hanya akan makin menambah jatuhnya korban jiwa, termasuk anak-anak, kaum perempuan dan golongan lanjut usia.
lni semua sudah menabrak hukum, moral dan etika perang, yang harus dijunjung tinggi di sebuah dunia yang beradab.
Meskipun saya seorang muslim, saya tidak melihat masalah ini dari segi agama. Saya tidak mengaitkan pikiran dan seruan saya ini dengan Islam, Yahudi, Kristen, Katolik dan agama atau keyakinan apa pun. lsu yang kita hadapi ini adalah isu tentang kemanusiaan, moralitas, hukum dan etika perang, serta tindakan dari pihak mana pun yang telah melebihi kepatutannya. Tragedi kemanusiaan dan penderitaan manusia yang tak terperikan ini juga berkaitan dengan rasa tanggung jawab dari para pemimpin, yang baik langsung maupun tidak langsung telah membuat tragedi kemanusiaan ini terus berlangsung.
Terus terang, Indonesia secara konsisten dan tegas mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Dunia harus benar-benar memberikan kepastian bagi terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, serta diakui oleh masyarakat dunia. Juga Palestina merdeka yang hidup berdampingan secara damai dengan Israel, dan juga dengan negara-negara tetangganya. Konsep “dua negara dalam kawasan yang damai” adalah konsep yang saya pandang dan yakini sebagai konsep yang realistis dan bisa diwujudkan.
Dengan tontonan dan contoh buruk tentang konflik, perang dan kekerasan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, atau juga di tahun-tahun sebelumnya, maka anak-anak bangsa mana pun, termasuk anak-anak muda kita, bagai diajarkan ya begitulah kehidupan di dunia yang mesti dijalankan. Padahal, selama hampir sepuluh tahun ini saya mengajak bangsa Indonesia, termasuk umat Islam Indonesia, untuk senantiasa mencintai perdamaian, persaudaraan, toleransi dan kerukunan. Saya juga berjuang dengan gigih untuk memerangi radikalisme, ekstrimisme dan terorisme di bumi Indonesia. Saya juga aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam forum dialog antar agama dan peradabannya baik di Indonesia maupun di berbagai forum internasional.
Saya juga memelopori dan memimpin penyelesaian berbagai konflik di Indonesia secara damai dan demokratis, termasuk konflik di Aceh dan Papua, konflik komunal antar dan intra agama, serta konflik kepentingan dengan negara lain termasuk sengketa perbatasan dengan negara-negara tetangga. Saya juga berupaya sekuat tenaga untuk menjaga dan mempertahankan garis Islam Indonesia yang moderat, rukun dan toleran, di tengah pengaruh global yang sering menyebarluaskan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Saya menyadari bahwa semua itu tidak bisa “to be taken for granted”, melainkan harus terus kita jaga dan upayakan perwujudannya.
Pendek kata saya berupaya sekuat tenaga untuk mengajak bangsa Indonesia agar mencintai perdamaian, menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan, serta tolerans dan bisa membangun persahabatan dan kemitraan dengan bangsa lain. ltulah konon katanya nilai-nilai universal yang diajarkan oleh orang-orang bijak di dunia.
Apa yang terjadi di Gaza dan tempat lain di Timur Tengah atau Afrika Utara dewasa ini, dikaitkan dengan misi dan tantangan yang saya hadapi di Indonesia, bisa dibayangkan betapa beratnya saya mengemban tugas-tugas yang mulia itu. Apa yang harus saya katakan kepada ratusan juta rakyat Indonesia? Bagaimana tidak makin muncul kelompok-kelompok yang radikal di negara kami dan bahkan juga di banyak negara, karena mereka merasa kalah dan dipermalukan, sehingga harus memilih dan menempuh jalannya sendiri-sendiri dalam memperjuangkan keadilan yang diyakininya.
Saya yakin tantangan berat yang saya hadapi ini juga dihadapi oleh banyak pemimpin lain di dunia, termasuk para pemimpin politik, pemimpin pemerintahan, pemimpin organisasi kemanusiaan dan para pemimpin agama. Saya khawatir, karena keacuhan dan kurangnya tanggung jawab kita semua, maka generasi-generasi yang terlahir saat ini kelak akan menjadi generasi yang keras, penuh dendam dan kebencian. Bisa-bisa pula menjadi generasi yang haus darah dan peperangan. Kalau ini yang terlahir dan terjadi di abad ke-21 ini,maka terciptanya perdamaian dan keamanan internasional yang menjadi semangat dan jiwa Perserikatan Bangsa-Bangsa, hanya akan menjadi sesuatu yang sangat ilusif.

sby-tengah-1

Dengan itu semua, pandangan dan usulan konkrit saya sebagai pemimpin Indonesia adalah agar dalam hitungan hari, kalau perlu hitungan jam, para penentu perdamaian dan keamanan dunia, yaitu Dewan Keamanan PBB, utamanya para pemegang Hak Veto, dan negara-negara kunci di kawasan Timur Tengah, segera duduk bersama dan benar-benar bisa memaksakan dilakukannya gencatan senjata. Semangatnya adalah “peace making”. Setelah gencatan senjata dapat diwujudkan,segera diintensifkan bantuan kemanusiaan dan proses politik yang lebih inklusif dan konklusif. Jangan sampai setelah peperangan yang dengan susah payah bisa diakhiri, proses politik itu di lupakan kembali. Jangan mengulangi kesalahan masa lalu.
Dengarkan jeritan rakyat Palestina, utamanya yang tinggal di jalur Gaza yang sudah cukup menderita akibat blokade yang diberlakukan selama ini, serta pandangan Fatah dan Hamas yang semoga makin menyatu, realistis dan konstruktif. Dengarkan pula harapan rakyat Israel agar tidak dihantui oleh rasa takut sepanjang masa setelah tetangganya insya Allah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Konflik kedua bangsa itu akan berakhir, menurut hemat saya, jika kemerdekaan Palestina telah benar-benar dicapai dan kemudian Israel tidak merasa terancam olehnya.
Tentunya Israel yang semakin memiliki hati dan semangat persahabatan, dan bukan yang selalu bersikap superior karena merasa negaranya jauh lebih kuat. Negara lain juga harus peduli, tergerak dan ikut berkontribusi bagi terwujudnya cita-cita mulia ini. Indonesia menawarkan diri dan selalu siap untuk dilibatkan dalam proses pengakhiran tragedi kemanusiaan yang penting ini.
lnilah saudara-saudaraku bangsa sedunia, peluang sejarah yang terbuka. Jangan kita sia-siakan, agar kita tidak dikutuk dan disalahkan oleh generasi mendatang oleh anak cucu kita.
Selamat ldul Fitri 1435 Hijriyah kepada kaum muslimin di Palestina semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya. Juga salam damai dan persahabatan untuk semua umat beragama dan bangsa-bangsa sedunia.

Jakarta, 29 Juli 2014

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO


sumber : http://poskotanews.com/2014/07/31/hl-surat-terbuka-presiden-sby-kepada-pemimpin-dunia-tentang-krisis-gaza/

Sabtu, 03 Januari 2015

Formasi Unik: Su-30, F-22, F-15, MiG-29N, Hawk dan F/A-18 Terbang Bersama


Su-30, F-22, F-15, MiG-29N, Hawk dan F/A-18 Terbang Bersama
Cope Taufan 14 adalah latihan militer dua tahunan yang berlangsung 9-20 Juni di Malaysia, bertujuan meningkatkan kerjasama militer Malaysia dan Amerika Serikat.

Dalam latihan juga menampilkam DACT (Dissimilar Air Combat Training) antara F-15 AS dari 104th Fighter Wing, dari Pangkalan Udara Barnes, Massachusetts, dan pesawat tempur siluman F-22 Raptor dari Wing 154, dari Joint Base Peal Harbor-Hickam, Hawaii, dengan pesawat tempur Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

Pada 18 Juni, Su-30, MiG-29N Fulcrum, BAE Hawk dan F/A-18 Hornet TUDM terbang bersama F-15 Eagle dan F-22 Raptor di pantai Penang untuk sesi dokumentasi. Dibentuknya formasi terbang campuran seperti ini biasanya dilakukan menjelang berakhirnya sebuah latihan multinasional, yang mana masing-masing unit menyertakan pesawatnya.
Su-30, F-22, F-15, MiG-29N, Hawk dan F/A-18 Terbang Bersama
Satu hal yang saya ingin tahu dari gambar formasi terbang diatas, tentang bagaimana perasaan pilot Hawk ketika harus terbang bersama pesawat-pesawat modern tersebut. Semoga pilot itu tetap berbesar hati. :)

(Gambar: U.S. Air Force)

Menhan Tinjau Industri Strategis Radar dan Alat Komunikasi



Menhan tinjau PT LEN
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan Laksda TNI Rachmad Lubis dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemhan Prof. Dr. Ir. Eddy Sumarno Siradj, M.Sc., berturut-turut melakukan peninjauan ke tiga perusahaan industri strategis pembuat radar dan alat telekomunikasi (Alkom), di Bandung, Senin, 29 Desember 2014.

Ke tiga industri strategis yang ditinjau Menhan tersebut yaitu PT Len, PT Inti, dan PT CMI Teknologi. PT Len dan PT Inti merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sedangkan PT CMI Teknologi merupakan perusahaan swasta nasional.

Menhan memulai peninjauannya ke PT Len dan diterima langsung oleh Direktur Utama PT Len Abraham Mose yang didampingi jajarannya. Sebelum peninjauan dan melihat secara langsung fasilitas produksi PT Len, Menhan terlebih dahulu menerima paparan mengenai profil dan sejauh mana kemampuan PT Len dalam mendukung dan memenuhi kebutuhan Alpalhankam (Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan).

Dirut PT Len Abraham Mose menjelaskan, hingga saat ini kinerja PT Len terus mengalami kenaikan baik di sektor bisnis transportasi maupun di sektor pertahanan. Khusus di sektor pertahanan, berbagai produk telah dikembangkan dan diproduksi oleh PT Len baik di kelompok Combat System, Radar, Tactical dan Secure Communication System, hingga Cyber System.

Selama periode 2010 hingga 2014, PT Len telah berkontribusi dalam mendukung pemenuhan alutsista TNI diantaranya mendukung proyek pembangunan kapal PKR (Perusak Kawal Rudal) yaitu terlibat dalam pembuatan beberapa modul software untuk CMS (Combat Management System) PKR, pemenuhan sistem komunikasi pengamanan wilayah perbatasan di Kalimantan Timur dan pembuatan sistem komunikasi terpadu untuk kapal markas KRI Surabaya.
CMS PT LEN

Usai kunjungan ke PT Len, selanjutnya Menhan melanjutkan kunjungannya ke PT Inti dan diterima oleh Direktur Operasi Teknik PT Inti Adiaris. Usai menerima paparan mengenai profil dan kemampuan PT Inti, Menhan dan rombongan juga berkesempatan meninjau fasilitas produksi PT Inti.

Direktur Operasi Teknik PT Inti menyampaikan, bahwa kunjungan Menhan ini merupakan suatu kehormatan bagi PT Inti selaku Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis, karena kunjungan ini merupakan kunjungan Menhan yang pertama ke PT Inti.

Dijelaskannya, meskipun tidak begitu besar keterlibatan PT Inti dalam kegiatan pemenuhan peralatan pertahanan, namun PT Inti secara tidak langsung sudah terlibat dalam kegiatan antara lain membantu PT Pindad menyelesaikan retrofit Tank AMX dalam konteks peralatan komunikasi interkom.

Usai kunjungan di PT Inti, Menhan mengakhiri peninjauannya ke PT CMI dan diterima oleh Dirut PT CMI Rahardjo Pratjihno. Dalam peninjauan ini, Menhan melihat secara langsung bagaimana PT CMI memproduksi alat komunikasi yang dipesan oleh TNI. Menhan meninjau fasilitas PT CMI meliputi ruang mekanik dan fasilitas produksi perakitan radar dan Alkom.

PT CMI Teknologi merupakan perusahaan teknologi swasta yang fokus dalam mendesain dan memproduksi microwave radio. Saat ini, PT CMI sudah memiliki kontrak pengembangan sistem radar militer di Indonesia.

Dalam rangkaian peninjauan ini, Menhan secara umum menyampaikan kesan sangat bangga dapat melihat secara langsung bagaimana produk-produk Alkom dan radar yang dibuat oleh industri strategis. Menurutnya produk dalam negeri tidak kalah dengan produksi dari negara maju lainnya.

Kedepan, Indonesia harus mampu secara mandiri membuat radar dan mengurangi ketergantungan dari negara lain. Karena, radar merupakan sarana yang sangat penting sebagai mata dan telinga bagi negara terutama bagi angkatan bersenjata.

Lebih lanjut Menhan berpesan agar apa yang telah dicapai untuk terus dilanjutkan dan ditingkatkan serta disesuaikan dengan kemajuan teknologi. Selain itu, industri strategis juga harus terus menyiapkan sumber daya manusia secara berlapis dan jangan sampai terputus, sehingga kedepan akan bertambah maju lagi dan harapan Indonesia untuk lebih mandiri akan terwujud.

Sumber: DMC Kemenhan
Kredit gambar: PT LEN

GXV-T Darpa: Mereposisi Armor dan Mengelak dengan Cepat


Konsep GXV-T Darpa

DARPA, salah satu dinas Pentagon yang kerap mengonsep teknologi-teknologi aneh, kini meluncurkan konsep baru kendaraan tempur darat yaitu Ground X-Vehicle Technology (GXV-T).

Salah satu tujuan utama dari program GXV-T DARPA ini adalah meningkatkan survivabilitas kendaraan tempur darat dengan cara meningkatkan kelincahannya. Semakin lincah kendaraan maka akan semakin mampu menghindar dari ancaman yang masuk, baik dengan cara mengelak dengan cepat, atau dengan mengkonfigurasi ulang kendaraan sehingga probabilitas hantaman atau penetrasi ancaman yang masuk menjadi rendah tanpa menjadikan kru di dalamnya celaka.

Video konsep dari DARPA ini mengilustrasikan tiga dari beberapa potensi pertahanan diri GXV-T, yaitu mereposisi armor, hentakan akselerasi, dan suspensi unik yang memungkinkannya bertahan atau menghindar dari ancaman yang masuk.


Keselamatan kendaraan tempur darat dan para awaknya sangatlah ditentukan dari lapisan armor dan manuvernya. Tingkat atau lapisan armor yang dibutuhkan untuk melindungi dari ancaman saat ini telah menjadikan bobot kendaraan bertambah dan tidak juga efektif bertahan dari serangan yang terus menerus. Sedangkan konsep GXV-T merupakan tekonologi revolusioner yang minim menggunakan armor, sukar terdeteksi, dan menghindar atau bertahan dengan cepat dari serangan musuh. Di masa depan, ukuran kendaraan ini mungkin kecil, lincah dan cepat sehingga efisien dan efektif dalam situasi pertempuran yang bervariasi dan tidak terduga.

Menanti Datangnya K9 Thunder

K9 Thunder

Jika Amerika Serikat memiliki artileri Howitzer swagerak 155mm andalan M109 Paladin, Korea Selatan punya K9, kendaraan artileri swagerak yang tak kalah bagusnya. Pada K9 lah korps Artileri TNI AD melirik dan mempersiapkan akuisisinya. Masa-masa realisasi pembangunan kekuatan TNI yang mengacu kepada MEF (Minimum Essential Force) Renstra I memang sudah hampir paripurna, dengan sebagian besar alutsista yang dipesan sudah mulai berdatangan. Korps Artileri TNI AD sendiri kebagian 37 unit Howitzer berbasis truk CAESAR dari Perancis senilai USD 141 juta dan 36 unit sistem artileri roket ASTROS senilai USD 405 juta dari Brasil. Ini berarti Korps Artileri TNI AD bisa memodernisasi dan membentuk 4 batalyon artileri swagerak, diluar sejumlah meriam tarik 105mm Kh-178 dan 155mm Kh-179 yang dibelinya dari Korea Selatan.

Di luar perkiraan, di tengah masa transisi pemerintahan hasil Pemilu 2014, TNI ternyata tak lantas berhenti dan mengambil napas. MEF Renstra 2 yang sudah di ambang pintu perlahan-lahan mulai mengemuka. Alutsista pilihan dan berkualitas kembali disasar untuk menjaga kedaulatan dan meningkatkan wibawa di antara negara kawasan. Satu yang dilirik untuk semakin memperkuat Korps Artileri TNI AD adalah sistem artileri swagerak berpenggerak roda rantai (tracked). Sistem semacam ini hanya dimiliki oleh sedikit negara. Yang paling mendominasi, tentu saja adalah M109 Paladin yang begitu laku dan dipergunakan hampir sebagian besar Negara NATO. Inggris memiliki AS90, dan Jerman Barat menggunakan Panzer Haubitze (PzH) 2000.

Korps Artileri TNI AD memang sangat butuh penyegaran untuk urusan artileri swagerak berbasis roda rantai. Pasalnya, AMX-13 AUF1 105mm yang dimiliki sudah amat terlalu uzur, pabriknya sudah bangkrut, dan suku cadangnya sudah tak lagi tersedia di pasaran. Untuk mendukung manuver gabungan dengan Kavaleri yang sudah dilengkapi MBT Leopard 2A4 dan Infantri Mekanis yang sudah menggunakan Marder 1A3 dan Anoa sudah pasti kepayahan. Apalagi jarak jangkau meriamnya semakin terbatas.

Namun begitu, pemilihan kandidat sistem artileri swagerak harus dilakukan dengan sejumlah pertimbangan yang benar-benar matang. Soal pertama, apalagi kalau bukan hantu embargo di medio 1990an dan awal milenium baru. Jangan sampai alutsista berharga mahal harus mangkrak karena kelangkaan suku cadang, atau tidak bisa digunakan karena larangan negara produsennya. Kedua, sistem yang dibeli tentu saja harus kompatibel dengan segala jenis munisi yang dipergunakan Korps Artileri TNI AD sendiri, mengingat TNI AD menggunakan amunisi yang berbeda-beda negara produsennya walaupun kalibernya sama.

Yang terakhir, TNI AD tentu mengutamakan keseimbangan. Walaupun pemerintahan lalu percaya pada jargon kosong diplomasi "zero enemy thousand friends", kenyataannya situasi geopolitik seringkali memaksa keberpihakan karena keadaan. Apabila kemudian keberpihakan tersebut dapat menimbulkan implikasi negatif bagi postur pertahanan Indonesia, TNI harus siap. Pengadaan alutsista dari multi negara dianggap mampu menjadi solusi, walaupun berdampak kepada logistik dan suku cadang yang harus disiapkan untuk mendukung penggelaran alutsista.

Nah, dari sejumlah kandidat yang dievaluasi, K9 Thunder buatan Korea Selatan kemudian menyeruak sebagai kandidat yang memiliki kans terbesar untuk dieksekusi pembeliannya. Sistem artileri swagerak terbaru ini menawarkan keganasan meriam 155mm dalam sasis yang sepenuhnya dibuat oleh perusahaan Korea Selatan, Samsung Techwin. Dengan sejarah mesra dimana meriam howitzer TNI AD sebagian besar memang diakuisisi dari Korea Selatan, K9 bak melengkapi kebahagiaan. Apalagi K9 Thunder sudah pula menyandang predikat 'battle proven'. Korps Artileri sendiri menargetkan akuisisi 2 yon tambahan sistem artileri berpenggerak rantai untuk memperkuat batalyon artileri medan TNI AD.

K9 Thunder, sang primadona baru
Korea Selatan sendiri sejak lama merupakan pengguna setia M109 Paladin. Tidak mau membeli mentah-mentah, Korea Selatan melisensi M109A2 sebagai K55 dan K55A1. Namun semakin berkembangnya teknologi, Korea Selatan semakin merasa ketinggalan. M109 Paladin sudah mencapai iterasi A6 dengan jarak jangkauan yang semakin jauh, sementara K55A1 sudah jelas kalah jarak. Rival beratnya Korea Utara sudah diketahui memiliki sistem artileri swagerak berbasis sasis tank Type-59 berkode M-1978 Koksan dengan meriam kaliber 170mm.
K9 Thunder
K9 Thunder. Gambar: Samsung Techwin
Untuk mempersempit selisih tersebut, Korea Selatan menugaskan Samsung Techwin (sebelumnya bernama Samsung Defense Aerospace) untuk mengembangkan sistem artileri swagerak sebagai komplemen, dan kelak pengganti, K55 pada 1989. Purwarupa pertama sudah ditampilkan pada 1994, dan pengujian lanjutan dilakukan sampai akhirnya dapat diterima oleh AD Korea Selatan pada 1998. Dengan kendaraan serial pertama masuk dinas aktif pada 2000an, boleh dikatakan usia K9 masihlah cukup muda.
Spesifikasi K9 Thunder
Baca selengkapnya di Arc.web.id

Jumat, 02 Januari 2015

Beriev Be-200 Altair: Pesawat Amfibi Multipurpose Incaran TNI AU

194192

Terkait tugasnya di wilayah lautan, bila selama ini TNI AU baru sebatas melakukan peran intai maritim tanpa dapat melakukan penindakan, maka terkait tren pemberantasan illegal fishing yang sedang dicanangkan pemerintah, TNI AU pun ingin mengambil peran yang lebih strategis. Salah satu wujudnya dengan keinginan dari pihak TNI AU untuk bisa mengoperasikan pesawat amfibi multipurpose buatan Rusia, Beriev Be-200 Altair. Pesawat ini dapat langsung mendarat di laut dan kemudian menerjunkan pasukan untuk melakukan inspeksi ke kapal-kapal yang mencurigakan.
Keinginan mendatangkan pesawat berkemampuan amfibi di dorong atas inisiatif Presiden Joko Widodo untuk memperkuat eksistensi pesawat patroli maritime TNI AU. Ibarat menyambut umpan, KSAU Marsekal IB Putu Dunia menyarankan pesawat yang ideal untuk digunakan adalah jenis Be-200 Altair. Be-200 terbilang sudah battle proven untuk tugas amfibi, pesawat ini pun pernah disewa Indonesia dalam misi pemadaman kebakaran hutan pada tahun 2006. Sebagai pemadam kebakaran, Be-200 dapat membawa 12.000 liter air yang berperan sebagai ‘bom air.’ 12.000 liter air dapat dilepaskan dalam durasi 14 detik.

MChS_Beriev_Be-200_waterbomber 
Beriev_Be-200_svg.svg 
2vxq4d2

Sejatinya, pesawat yang resmi diperkenalkan ke publik pada Paris Air Show 1991, dihadirkan dalam beberapa varian. Bila nantinya TNI AU jadi mengakuisisi Be-200, maka besar kemungkinan yang dibeli adalah versi Be-220 Maritime Patrol. Pesawat yang beroperasi secara fly by wire ini memang jago untuk lepas landas di air. Be-200 dapat lepas landas di air dengan jarak ‘pacu’ 2.300 meter. Kedalaman air untuk mendarat dan lepas landas hanya 2,5 meter. Sementara gelombang laut pun tidak jadi masalah, sepanjang tinggi gelombang tidak lebih dari 1,3 meter. Sebaliknya untuk lepas landas di daratan, dibutuhkan landas pacu sepanjang 1.800 meter.
Dengan kemampuan multipurpose, selain laris disewa sebagai pemadam kebakaran di hutan, Be-200 juga amat ideal mendukung operasi SAR pesawat bisa membawa 42 penumpang. Sedangkan bila berlaku sebagai ambulance udara, pesawat dapat dimuati 30 tandu pasien. Lepas dari itu, pesawat amfibi bermesin jet 2 × Progress D-436TP turbofan, dapat membawa 72 penumpang.
BE-200-Microcutaway 
beriev be-200.2 
Be-200_RA-21511 
IMG_1078 
4542-beriev-be-200-wallpaper-2000x1333

Dari sembilan unit yang telah di produksi, memang belum ada yang diluncurkan dalam varian maritime patrol. Namun Irkut selaku manufaktur pesawat, telah merancang Be-200 dapat mendukung misi AKS (anti kapal selam). Beberapa sensor yang dibenamkan di Be-200 mencakup optic dan thermal, plus radar sea surveillance. Jika Indonesia kelak mengoperasikan varian Be-200, maka Indonesia bakal menjadi pemakai ketiga setelah Rusia dan Azerbaijan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, adalah keharusan untuk mempunyai pesawat patroli berkemampuan amfibi. Untuk tugas mengawal bentang perbatasan yang sangat luas, tak salah kiranya agar segera di datangkan jenis pesawat ini. Hadirnya Be-200 kelak dapat membangkitkan kejayaan armada patroli maritim TNI, yang di masa lalu pernah mengoperasikan pesawat patroli amfibi PBY-5A Catalina dan Grumman Albatros di bawah operasi Skadron 5 TNI AU. Inovasi lain yang tak kalah menarik adalah kapal laut dengan kemampuan terbang WiSE (Wings In Surface Effect) yang sudah di uji cobakan. Tapi sayang, nampak pengambil kebijakan di Republik ini belum begitu tertarik pada terobosan teknologi ini.

Pakar : Rusia Bisa Berubah Jadi Musuh Bebuyutan AS

Meski saat ini hubungan Rusia dan AS secara drastis mendingin, para politikus dan pakar dari kedua negara tetap melanjutkan dialog diplomatik dan berupaya mencari titik temu di antara mereka. Kesimpulan dari diskusi para pemimpin lembaga diplomatik tersebut ialah kriris hubungan bilateral mereka telah berlarut-larut dan mulai hilang kendali. 

Pertemuan para kepala lembaga diplomatik Rusia dan AS yang berlangsung di Roma pada pertengahan Desember menunjukan meski hubungan bilateral mereka saat ini sedang meruncing, kedua negara adidaya nuklir tersebut tetap berusaha mencari titik temu dan siap bekerja sama menyelesaikan isu-isu penting, termasuk masalah di Palestina. Para pakar menilai Moskow dan Washington sama-sama bersedia menurunkan ketegangan hubungan mereka, namun kecil kemungkinan normalisasi skala penuh dapat terjadi dalam jangka waktu menengah.

“Jika krisis ini terus memburuk, akan timbul berbagai masalah serius. Rusia bisa berubah menjadi musuh bebuyutan AS,” kata Andrey Sushentsov dari Vneshnaya Politika berpendapat. Dari perspektif potensi pertempuran bersenjata, Rusia tak akan menimbulkan ancaman serius bagi AS (dengan mengesampingkan aspek risiko perang nuklir), akan tetapi peralihan Rusia masuk ke barisan musuh AS akan menciptakan isu-isu serius dalam proses realisasi kepentingan AS di beberapa wilayah dunia seperti Asia, Eropa, dan Timur Dekat, serta mempersulit proses pengekangan Tiongkok.

Oleh sebab itu, Moskow dan Washington mengambil langkah untuk mencegah ekskalasi terkait isu paling sensitif dalam hubungan bilateral Rusia-AS, yakni situasi di Ukraina. “Langkah pertama yang telah disetujui semua pihak adalah gencatan senjata di Ukraina timur. Saat ini gencatan senjata tersebut sudah berlangsung dan kedua belah pihak telah menarik mundur pasukannya,” terang Sushentsov.

Selain itu, terdapat satu faktor lain yang bisa menjadi sumber kesalahpahaman, yakni realisasi perjanjian kerja sama Ukraina dengan Uni Eropa. Ahli politik Eropa dan Amerika menyakini penandatanganan perjanjian tersebut tidak melanggar kepentingan Moskow. Menurut pakar, hal itu tidak membuat langkah Kiev semakin dekat untuk bergabung dengan Uni Eropa, tapi sebaliknya malah mungkin akan menunda kemungkinan tersebut terwujud.

Normalisasi Hubungan Masih Sulit

Meski AS dan Rusia berhasil berkompromi terkait isu di Ukraina, tetap saja normalisasi hubungan kedua negara ini masih jauh. Hal tersebut dikarenakan dua hal. Pertama, sulit bagi AS dan Rusia untuk membuat modus vivendi (persetujuan dua pihak yang bersengketa) perihal luas wilayah pasca-Uni Soviet secara keseluruhan.

“Kedua pihak memiliki pendekatan yang berbeda mengenai wilayah tersebut. Rusia, baik dalam era Yeltsin maupun era Putin, tetap bergerak untuk mendapatkan pengakuan wilayah bekas Uni Soviet sebagai lingkup kepentingan prioritasnya, sementara AS tidak mengakui klaim tersebut,” papar dosen universitas RGGU Rusia Sergey Markedonov.

Alasan kedua, Rusia dan AS tak dapat membuat modus vivendi secara global. Mereka bekerja sama dalam sejumlah hal seperti di luar angkasa, Arktik, dan Timur Dekat, namun mereka masih belum memiliki struktur hubungan bilateral internal dengan visi strategis yang utuh.

Jika kedua belah pihak tidak mengerahkan upaya serius untuk menciptakan struktur tersebut dalam waktu dekat, maka pakar Rusia berpendapat hanya akan ada dua skenario yang dapat menghentikan perselisihan kekuasaan tersebut. “Pertama, salah satu negara harus menolak memperluas lingkup pengaruhnya. Namun, mereka harus mampu bertahan dari tekanan nasional untuk itu. Skenario kedua adalah jika Moskow dan Washington terpaksa menyatukan kekuatannya untuk menghadapi pesaing yang lebih kuat. Namun pesaing tersebut tidak akan muncul dalam waktu dekat,” kata ahli politik Rusia, kepala lembaga analisis politik Alte Et Certe Andrey Epifantsev.

Ia berpendapat kecil kemungkinan stabilisasi hubungan dapat terjadi berkat kompromi terhadap kondisi saat ini. “Kedua negara memiliki pandangan yang sangat berbeda dalam melihat dunia ini, sedangkan kompromi satu arah yang dicapai melalui keputusan Rusia menghentikan usaha untuk melindungi kepentingannya hanya akan menjadi bentuk kekalahan,” tambah Epifantsev. Menurut sang pakar, Putin tak dapat menyetujui hal tersebut baik dalam situasi politik maupun luar negeri saat ini. (RBTH)