Sabtu, 21 Juni 2014

Seruling 40 ribu tahun, gimana ngitungnya?

Kaum Evolusionis berpendapat, pada sekitar 10.000 tahun yang lalu, umat manusia masih sangat primitif. Benarkah demikian ?
Pendapat Evolusionis diatas, sepertinya hanya sebuah rekaan sejarah. Hal ini dikarenakan, telah ditemukannya benda-benda arkeologis, yang menunjukkan sebelum masa 10.000 tahun yang lalu, umat manusia sudah memiliki peradaban yang maju.
Beberapa contoh, benda arkeologis itu adalah :
Salah satu bukti bahwa manusia telah memiliki kebudayaan selama ribuan tahun, adalah ditemukannya seruling berumur 40.000 tahun ini. Riset ilmiah menunjukkan bahwa seruling seperti ini, berbasis skala 7-not Barat modern, digunakan puluhan ribu tahun silam (Sumber : Zaman Batu (Kebohongan Sejarah)).

Jarum berumur 26 ribu tahun: temuan menarik ini menunjukkan bahwa manusia Neanderthal berpengetahuan menjahit baju sejak puluhan ribu tahun yang lalu (D. Johanson, B. Edgar, From Lucy to Language, h. 99) (Sumber : harunyahya.com)

Bagaimana arkeolog, menghitung usia benda-benda itu?
Para ilmuwan saat ini, telah mengembangkan metode baru untuk menentukan usia benda-benda purbakala tanpa menyebabkan kerusakan.
Menurut Dr. Marvin Rowe, kepala tim peneliti, teknik ini dapat dipakai untuk menentukan umur benda purbakala yang selama ini tersimpan di museum dan terlarang diteliti karena khawatir rusak.
Dr. Rowe menjelaskan metode baru tersebut berupa bentuk lebih lanjut dari radiocarbon dating (penanggalan radiokarbon) yang selama ini digunakan arkeolog untuk memperkirakan umur sebuah benda dengan mengukur kadar radioaktif karbon yang terjadi secara alamiah karbon.
Pada metode yang lama, sedikit sampel objek diambil, misalnya kain atau bagian tulang yang kemudian dibakar untuk mengetahui jejak karbon. Metode baru yang disebut non-destructive carbon dating, sama sekali tidak melibatkan sampel.
Pada metode baru, ilmuwan menempatkan artefak di ruang khusus berplasma di mana sebuah gas bermuatan listrik digunakan dan layar besar menampilkan di layar televisi. Secara perlahan gas mengoksidasi permukaan objek untuk menghasilkan karbon dioksida dengan analisis C-14 tanpa merusak permukaan objek (Sumber : tempointeraktif.com).
Rowe dan rekan-rekannya menggunakan teknik ini untuk menganalisis usia sekitar 20 zat-zat organik yang berbeda. Hasilnya ternyata cocok dengan metode konvensional. Seperti Metode yang lama, metode baru ini mampu menghitung umur objek sampai 50.000 tahun.
Penemuan benda purbakala yang berumur ribuan tahun ini, semakin memberi keyakinan pada kita, bahwa umat manusia, pernah mengalami masa kemajuan kebudayaan puluhan ribu tahun yang silam (Kunjungi : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia dan Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam).
Untuk kemudian Kebudayaan itu hancur, dilanda bencana yang maha dahsyat, yang berakibat Peradaban Umat Manusia, harus kembali ke “titik nol”.

Kamis, 19 Juni 2014

Bendera Kerajaan Majapahit

BENDERA KERAJAAN MAJAPAHIT dan
Sang Saka Gula Kelapa, Sang Merah Putih
                                             
Bendera Kerajaan Majapahit
Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira, di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa, siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela …….Sang Merah-Putih yang perwira, berkibarlah selama-lamanya”.


Lagu diatas diciptakan oleh Ibu Soed tentang bendera Merah-Putih, bendera Indonesia. Bendera Merah-Putih? Sebenarnya hanya terdiri atas dua potong kain saja yang terdiri dari warna Merah berada diatas dan warna Putih berada dibawah yang kemudian dijahit menjadi satu.
Namun kedua potong kain inilah yang menjadi lambang kebesaran bangsa Indonesia, ciri khas Indonesia, serta menjadi lambang kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku yang Bhinneka Tunggal Ika.
Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai dan kepribadian tersendiri, sesuai dengan riwayat sejarah bangsa itu masing-masing.
Demikian halnya dengan Sang Merah Putih bagi bangsa Indonesia, warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dan dibuat secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang sama lamanya dengan sejarah perkembangan bangsa Indonesia.
Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Warna merah mirip dengan warna gula jawa/gula aren dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa.
Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah, yang ditanam di gua garba.
Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul Abang Putih), ternyata Majapahit mempunyai bendera kerajaan yaitu bendera Merah-Putih dan Prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Gula Kelapa.
Gula Kelapa itu berwarna Merah dan terbuat dari sari buah Kelapa yang berwarna Putih. Ada juga yang menyebutkan bahwa prajurit Majapahit dinamakan Prajurit Getih-Getah seperti yang kita ketahui bahwa Getih itu berwarna Merah dan Getah berwarna Putih.
Adapun makna dari bendera Merah-Putih ada dua yaitu Merah berati Berani dan Putih berarti Suci, belakangan ini ada juga yang menyebutkan bahwa merah-putih itu melambangkan darah merah dan tulang putih yang menyatu dalam jiwa raga kita.
Sebelum Majapahit, kerajaan Kadiri telah memakai panji-panji merah putih.
Sang Merah-Putih selalu berkibar dan disambut dengan sangat syahdu dan penuh perasaan hormat pada setiap hari Nasional maupun hari-hari kemenangan dalam bidang prestasi, serta upacara lainnya. Bendera kebangsaan bukan hanya sebagai lambang ataupun ciri khas bangsa Indonesia, tetapi dari pada itu Sang Merah-Putih telah menjadi bagian dari bagian setiap insan Indonesia. Dia telah mendarah daging, menjadi sumsum yang mengalir selamanya dalam diri rakyat Indonesia.
Dua potong kain Dwi Warna Merah dan Putih yang kita kenal sekarang sebagai Bendera Kebangsaan Bangsa Indonesia ini telah dikukuhkan sebagai bendera kebangsaan bangsa Indonesia.
Merah yang bermakna berani karena benar dan Putih yang bermakna suci. Pengorbanan yang besar telah ditorehkan rakyat Indonesia untuk Sang Merah-Putih ! Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah kebangsaan sejak 17 Agustus 1945 Sang Merah-Putih berkibar diseluruh tanah air dan tanggal 29 September 1950 berkibar di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Bila kita melihat deretan bendera yang dikibarkan dari berpuluh-puluh bangsa di atas tiang, maka terlintas di hati kita bahwa masing-masing warna atau gambar yang terdapat di dalamnya mengandung arti, nilai, dan kepribadian sendiri-sendiri, sesuai dengan riwayat bangsa masing-masing.
Demikian pula dengan bendera merah putih bagi Bangsa Indonesia. Warna merah dan putih mempunyai arti yang sangat dalam, sebab kedua warna tersebut tidak begitu saja dipilih dengan cuma-cuma, melainkan melalui proses sejarah yang begitu panjang dalam perkembangan Bangsa Indonesia.
Menurut sejarah, Bangsa yang sekarang mendiami daerah yang kita kenal dengan Indonesia, memasuki wilayah Nusantara ketika terjadi perpindahan orang-orang Austronesia sekitar 6000 tahun yang lalu datang ke Indonesia Timur dan Barat melalui tanah Semenanjung dan Philipina.
Pada zaman itu manusia memiliki cara penghormatan atau pemujaan terhadap matahari dan bulan.
Matahari dianggap sebagai lambang warna merah dan bulan sebagai lambang warna putih. Zaman itu disebut juga zaman Aditya Candra. Aditya berarti Matahari dan Candra berarti Bulan.
Penghormatan dan pemujaan tidak saja di kawasan Nusantara, namun juga di seluruh Kepulauan Austronesia, di Samudra Hindia, dan Pasifik.
Sekitar 4000 tahun yang lalu terjadi perpindahan kedua, yaitu masuknya orang Indonesia kuno dari Asia Tenggara dan kemudian berbaur dengan pendatang yang terlebih dahulu masuk ke Nusantara. Perpaduan dan pembauran inilah yang kemudian melahirkan turunan yang sekarang kita kenal sebagai Bangsa Indonesia.
Pada zaman itu ada kepercayaan yang memuliakan zat hidup atau zat kesaktian bagi setiap makhluk hidup yaitu getih-getah. Getih-Getah yang menjiwai segala apa yang hidup sebagai sumbernya berwarna merah dan putih.
Getih (dalam Bahasa Jawa/Sunda) berarti darah berwarna merah, yaitu zat yang memberikan hidup bagi tumbuh-tumbuhan, manusia, dan hewan, dan Getah tumbuh-tumbuhan berwarna putih. Demikian kepercayaan yang terdapat di Kepulauan Austronesia dan Asia Tenggara.
Pada permulaan masehi selama dua abad, rakyat di Kepulauan Nusantara mempunyai kepandaian membuat ukiran dan pahatan dari kayu, batu, dan lainnya, yang kemudian ditambah dengan kepandaian mendapat pengaruh dari kebudayaan Dong Song dalam membuat alat-alat dari logam terutama dari perunggu dan besi.
Salah satu hasil yang terkenal ialah pembuatan genderang besar dari perunggu yang disebut nekara dan tersebar hampir di seluruh Nusantara. Di Pulau Bali genderang ini disebut Nekara Bulan Pejeng yang disimpan dalam pura.
Pada nekara tersebut di antaranya terdapat lukisan orang menari dengan hiasan bendera dan umbul-umbul dari bulu burung.
Demikian juga di Gunung Kidul sebelah selatan Yogyakarta terdapat makam berupa waruga dengan lukisan bendera merah putih berkibar di belakang seorang perwira menunggang kerbau, seperti yang terdapat di kaki Gunung Dompu.
Sejak kapan bangsa-bangsa di dunia mulai memakai bendera sebagai identitas bangsanya?
Berdasarkan catatan sejarah dapat dikemukakan bahwa awal mula orang menggunakan bendera dimulai dengan memakai lencana atau emblem, kemudian berkembang menjadi tanda untuk kelompok atau satuan dalam bentuk kulit atau kain yang dapat berkibar dan mudah dilihat dari jauh. Berdasarkan penelitian akan hasil-hasil benda kuno ada petunjuk bahwa Bangsa Mesir telah menggunakan bendera pada kapal-kapalnya, yaitu sebagai batas dari satu wilayah yang telah dikuasainya dan dicatat dalam daftar.
Demikian juga Bangsa Cina di zaman kaisar Chou tahun 1122 sebelum masehi.
Bendera itu terikat pada tongkat dan bagian puncaknya terdapat ukiran atau totem, di bawah totem inilah diikatkan sepotong kain yang merupakan dekorasi. Bentuk semacam itu didapati pada kebudayaan kuno yang terdapat di sekitar Laut Tengah.
Hal itu diperkuat juga dengan adanya istilah bendera yang terdapat dalam kitab Injil. Bendera bagi raja tampak sangat jelas, sebab pada puncak tiang terdapat sebuah symbol dari kekuasaan dan penguasaan suatu wilayah taklukannya.
Ukiran totem yang terdapat pada puncak atau tiang mempunyai arti magis yang ada hubungnnya dengan dewa-dewa. Sifat pokok bendera terbawa hingga sekarang ini.
Pada abad XIX tentara Napoleon I dan II juga menggunakan bendera dengan memakai lambang garuda di puncak tiang. Perlu diingat bahwa tidak semua bendera mempunyai arti dan ada hubungannya dengan religi.
Bangsa Punisia dan Yunani menggunakan bendera sangat sederhana yaitu untuk kepentingan perang atau menunjukkan kehadiran raja atau opsir, dan juga pejabat tinggi negara.
Bendera Yunani umumnya terdiri dari sebuah tiang dengan kayu salib atau lintang yang pada puncaknya terdapat bulatan. Dikenal juga perkataan vaxillum (kain segi empat yang pinggirnya berwarna ungu, merah, atau biru) digantung pada kayu silang di atas tombak atau lembing.
Ada lagi yang dinamakan labarum yang merupakan kain sutra bersulam benang emas dan biasanya khusus dipakai untuk Raja Bangsa Inggris menggunakan bendera sejak abad VIII. Sampai abad pertengahan terdapat bendera yang menarik perhatian yaitu bendera “gunfano” yang dipakai Bangsa Germania, terdiri dari kain bergambar lencana pada ujung tombak, dan dari sinilah lahir bendera Prancis yang bernama “fonfano”.
Bangsa Viking hampir sama dengan itu, tetapi bergambar naga atau burung, dikibarkan sebagai tanda menang atau kalah dalam suatu pertempuran yang sedang berlangsung. Mengenai lambang-lambang yang menyertai bendera banyak juga corak ragamnya, seperti Bangsa Rumania pernah memakai lambang burung dari logam, dan Jerman kemudian memakai lambang burung garuda, sementara Jerman memakai bendera yang bersulam gambar ular naga.
Tata cara pengibaran dan pemaSångån bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, kibaran bendera putih sebagai tanda menyerah (dalam peperangan) dan sebagai tanda damai rupanya pada saat itu sudah dikenal dan etika ini sampai sekarang masih digunakan oleh beberapa Negara di dunia.
Pada abad VII di Nusantara ini terdapat beberapa kerajaan. Di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya yang pada hakikatnya baru merupakan kerajaan dengan kekuasaan terbatas, satu sama lainnya belum mempunyai kesatuan wilayah. Baru pada abad VIII terdapat kerajaan yang wilayahnya meliputi seluruh Nusantara yaitu Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung sampai abad XII.
Salah satu peninggalannya adalah Candi Borobudur, dibangun pada tahun 824 Masehi dan pada salah satu relief pada dindingnya terdapat “pataka di atas lukisan dengan tiga orang pengawal membawa bendera merah putih sedang berkibar”.
Adanya ukiran pada dinding Candi Borobudur (dibangun pada awal abad ke- 9) menjadi salah-satu bukti awal beliau, di mana pada ukiran tersebut menggambarkan tiga orang hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, di duga melambangkan warna Merah dan Putih.
Keterangan untuk ukiran itu menyebutnya sebagai Pataka atau Bendera. Catatan-catatan lain sekitar Borobudur juga sering menyebut bunga Tunjung Mabang (Merah) dan Tunjung Maputeh (Putih).
Ukiran yang sama juga tampak di Candi Mendut, tidak jauh Candi Borobudur, yang kurang lebih bertarikh sama.
Dari bukti ukiran Candi Borobudur ini, Prof. H. Muhammad Yamin dengan rajin mengumpulkan banyak bukti sejarah lain yang dapat di kaitkan dengan pemujaan terhadap lambang, warna Merah dan Putih di setiap celah budaya Nusantara.
Di bekas kerajaan Sriwijaya tampak pula berbagai peninggalan dengan unsur-unsur warna Merah dan Putih.
Antonio Pigafetta, seorang pencatat dalam pelayaran Marcopolo di abad 16, dalam kamus kecilnya yang berisi 426 kata-kata Indonesia, memasukan entri Cain Mera dan Cain Pute, yang di terjemahkan sebagai Al Panno Rosso et Al Panno Bianco.
Bila tidak sering melihat kombinasi Merah-Putih sebagai satu kesatuan, mungkinkah Pigafetta memasukkannya sebagai sebuah entri ?
Pada Candi Prambanan di Jawa Tengah juga terdapat lukisan Hanoman terbakar ekornya yang melambangkan warna merah (api) dan warna putih pada bulu badannya. Hanoman = kera berbulu putih. Hal tersebut sebagai peninggalan sejarah di abad X yang telah mengenal warna merah dan putih.
Prabu Airlangga, digambarkan sedang mengendarai burung besar, yaitu Burung Garuda yang juga dikenal sebagau Burung Merah Putih. Demikian juga pada tahun 898 sampai 910 Raja Balitung yang berkuasa untuk pertama kalinya menyebut dirinya sebagai gelar Garuda Muka, maka sejak masa itu warna merah putih maupun lambang Garuda telah mendapat tempat di hati Rakyat Indonesia.
Kerajaan Singasari berdiri pada tahun 1222 sampai 1292 setelah Kerajaan Kediri, mengalami kemunduran. Raja Jayakatwang dari Kediri saat melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Singasari di bawah tampuk kekuasaan Raja Kertanegara sudah menggunakan Bendera Merah Putih pada tahun 1292.
Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.
Pada saat itu tentara Singasari sedang dikirim ke Semenanjung Melayu atau Pamelayu. Jayakatwang mengatur siasat mengirimkan tentaranya dengan mengibarkan panji-panji berwarna merah putih dan gamelan kearah selatan Gunung Kawi.
Kidung Pararaton menerangkan:
Samangka siraji jayakathong mangkat marep ing Tumapel, sanjata kang saka lor ing Tumapel, wong Deha naghala hala, tunggul kalawan tatabuhan penuh
[Sekarang raja Jaya Kathong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang Daha yang tidak baik, berbendera dan bunyi bunyian penuh].
Pasukan inilah yang kemudian berhadapan dengan Pasukan Singasari , padahal pasukan Singasari yang terbaik dipusatkan untuk menghadang musuh di sekitar Gunung Penanggungan. Kejadian tersebut ditulis dalam suatu piagam yang lebih dikenal dengan nama Piagam Butak.
Butak adalah nama gunung tempat ditemukannya piagam tersebut terletak di sebelah selatan Kota Mojokerto. Pasukan Singasari dipimpin oleh R. Wijaya dan Ardaraja (anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara). R. Wijaya memperoleh hadiah sebidang tanah di Desa Tarik, 12 km sebelah timur Mojokerto.
Berkibarlah warna merah dan putih sebagai bendera pada tahun 1292 dalam Piagam Butak yang kemudian dikenal dengan Piagam Merah-Putih, namun masih terdapat salinannya.
Demikian perkembangan selanjutnya pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, menunjukkan bahwa putri Dara Jingga dan Dara Pethak yang dibawa oleh tentara Pamalayu juga mangandung unsur warna merah dan putih (jingga=merah, dan pethak=putih).
Tempat raja Hayam Wuruk bersemayam, pada waktu itu keratonnya juga disebut sebagai Keraton Merah-Putih, sebab tembok yang melingkari kerajaan itu terdiri dari batu bata merah dan lantainya berwarna putih.
Empu Prapanca pengarang buku Negarakertagama menceritakan tentang digunakannya warna merah-putih pada upacara kebesaran Raja Hayam Wuruk. Kereta pembesar–pembesar yang menghadiri pesta, banyak dihiasi merah-putih, seperti yang dikendarai oleh Putri raja Lasem.
Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXXIII: 1.
An mangka kottaman sri-narapati siniwing tiktawilwaikanatha
Saksat candreng sarat kastawan ira n-agawe tusta ning sarwwaloka
Lwir padma ng durjjana lwir kumuda sahana sang sajjanasih teke twas
Bhrtya mwang kosa len wahana gaja turagadanya himper samudra.
[Begitulah keluhuran Sri Baginda ekananta di Wilwatika,
Terpuji bagaikan bulan di musim gugur, terlalu indah terpandang,
Berani laksana tunjung merah, suci bagaikan teratai putih,
Abdi, harta, kereta, gajah, kuda berlimpah-limpah bagai samudera.]
Kereta putri Daha digambari buah maja warna merah dengan dasar putih, maka dapat disimpulkan bahwa zaman Majapahit warna merah-putih sudah merupakan warna yang dianggap mulia dan diagungkan. Salah satu peninggalan Majapahit adalah cincin warna merah putih yang menurut ceritanya sabagai penghubung antara Majapahit dengan Mataram sebagai kelanjutan.
Dalam Keraton Solo terdapat panji-panji peninggalan Brawijaya yaitu Raja Majapahit terakhir. Panji-panji tersebut berdasar kain putih dan bertuliskan arab jawa yang digaris atasnya warna merah. Hasil penelitian panitia kepujanggaan Yogyakarta berkesimpulan antara lain nama bendera itu adalah Sang Såkå Gulå Kelåpå. dilihat dari warna merah dan putih.
Gula warna merah artinya berani, dan kelapa warna putih artinya suci.
Di Sumatra Barat menurut sebuah tambo yang telah turun temurun hingga sekarang ini masih sering dikibarkan bendera dengan tiga warna, yaitu hitam mewakili golongan penghulu atau penjaga adat, kuning mewakili golongan alim ulama, sedangkan merah mewakili golongan hulu balang. Ketiga warna itu sebenarnya merupakan peninggalan Kerajaan Minang pada abad XIV yaitu Raja Adityawarman.
Juga di Sulawesi di daerah Bone dan Sopeng dahulu dikenal Woromporang yang berwarna putih disertai dua umbul-umbul di kiri dan kanannya. Bendera tersebut tidak hanya berkibar di daratan, tetapi juga di samudera, di atas tiang armada Bugis yang terkenal.
Bagi masyarakat Batak terdapat kebudayaan memakai ulos semacam kain yang khusus ditenun dengan motif tersendiri. Nenek moyang orang Batak menganggap ulos sebgai lambang yang akan mendatangkan kesejahteraan jasmani dan rohani serta membawa arti khusus bagi yang menggunakannya.
Dalam aliran agama asli Batak dikenal dengan kepercayaan monotheisme yang bersifat primitive, bahwa kosmos merupakan kesatuan tritunggal, yaitu benua atas dilambangkan dengan warna merah dan benua bawah dilambangkan dengan warna hitam. Warna warna ketiga itu banyak kita jumpai pada barang-barang yang suci atau pada hiasan-hiasan rumah adat.
Demikian pula pada ulos terdapat warna dasar yang tiga tadi yaitu hitam sebagai warna dasar sedangkan merah dan putihnya sebagai motif atau hiasannya. Di beberapa daerah di Nusantara ini terdapat kebiasaan yang hampir sama yaitu kebiasaan memakai selendang sebagai pelengkap pakaian kaum perempuan.
Ada kalanya pemakaian selendang itu ditentukan pemakaiannya pada setiap ada upacara-upacara, dan sebagian besar dari moti-motifnya berwarna merah dan putih.
Ketika terjadi perang Diponegoro pada tahun 1825-1830 di tengah-tengah pasukan Diponegoro yang beribu-ribu juga terlihat kibaran bendera merah-putih, demikian juga di lereng-lereng gunung dan desa-desa yang dikuasai Pangeran Diponegoro banyak terlihat kibaran bendera merah-putih.
Ibarat gelombang samudera yang tak kunjung reda perjuangan Rakyat Indonesia sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, putra-putra Indonesia yang dipimpin Sultan Agung dari Mataram, Sultan Agêng Tirtayasa dari Banten, Sultan Hasanudin, Sisingamangaraja, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Pangeran Antasari, Pattimura, Diponegoro dan banyak lagi putra Indonesia yang berjuang untuk mempertahankan kedaulatan bangsa, sekalipun pihak penjajah dan kekuatan asing lainnya berusaha menindasnya, namun semangat kebangsaan tidak terpadamkan.
Empat warna utama dalam mitologi jawa, yakni Merah sebagai lambang amarah, Putih sebagai lambang Mutmainnah, Kuning sebagai lambang Supiah, dan Hitam sebagai lambang Luwainnah. Dua keraton di Solo, misalnya menggunakan lambang-lambang warna itu sebagai benderanya.
Keraton Susuhunan Paku Buwono memakai simbol Timur-Selatan yang dilambangkan dengan warna Gulå-Kelåpå atau Merah-Putih. Sedangkan Keraton Mangku Negoro memakai simbol Barat-Utara yang dilambangkan dengan warna Hijau-Kuning. Getaran warna Hijau sama dengan warna Hitam lambang Luwainnah.
Warna Merah dan Putih tidak hanya di pakai sebagai lambang penting oleh kerajaan Mataram. Pada abad ke-16, dua bilah cincin berpermata Merah dan Putih diwariskan oleh Raja Majapahit kepada Ratu Jepara yang bernama Kalinyamat.
Kapal-kapal perang Ratu Kalinyamat ketika melakukan penyerbuan melawan orang-orang Portugis di perairan Laut Jawa, pada tiang-tiang utama kapal berkibar bendera Merah Putih.
Di kerajaan Mataram sendiri, umbul-umbul Gulå-Kelåpå yang berwana Merah-Putih terus dimuliakan oleh Sultan Agung serta Raja-Raja yang meneruskannya.
Perlawanan rakyat yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro pada abad ke-19 di mulai dengan barisan rakyat yang mengibarkan umbul-umbul Merah-Putih berkibar di mana-mana.
Rakyat berkeyakinan bahwa Merah-Putih adalah pelindung mereka dari segala marabahaya. Pada abad ke-19 itu pula, para pemimpin dan pengikut gerakkan Paderi di Sumatera Barat banyak yang mengenakan sorban berwarna Merah dengan jubah berwarna Putih, untuk menandai gerakan perlawanan kaum Paderi terhadap Belanda.
Kata tunggul, dwaja atau pataka sangat lazim digunakan dalam kitab jawa kuno atau kitab Ramayana. Gambar pataka yang terdapat pada Candi Borobudur, oleh seorang pelukis berkebangsaan Jerman dilukiskan dengan warna merah putih.
Pada abad XX perjuangan Bangsa Indonesia makin terarah dan menyadari akan adanya persatuan dan kesatuan perjuangan menentang kekuatan asing, kesadaran berbangsa dan bernegara mulai menyatu dengan timbulnya gerakan kebangsaan Budi Utomo pada 1908 sebagai salah satu tonggak sejarah.
Kemudian pada tahun 1922 di Yogyakarta berdiri sebuah perguruan nasional Taman Siswa dibawah pimpinan Suwardi Suryaningrat. Perguruan itu telah mengibarkan bendera merah putih dengan latar dasar warna hijau yang tercantum dalam salah satu lagu antara lain:
Dari Barat Sampai ke Timur, Pulau-pulau Indonesia, Nama Kamu Sangatlah Mashur Dilingkungi Merah-putih. Itulah makna bendera yang dikibarkan Perguruan Taman Siswa.
Ketika terjadi perang di Aceh, pejuang-pejuang Aceh telah menggunakan bendera perang berupa umbul-umbul dengan warna merah dan putih, di bagian belakang diaplikasikan gambar pedang, bulan sabit, matahari, dan bintang serta beberapa ayat suci Al Qur’an.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia yang berada di Negeri Belanda pada 1922 juga telah mengibarkan bendera merah-putih yang di tengahnya bergambar kepala kerbau, pada kulit buku yang berjudul Indonesia Merdeka. Buku ini membawa pengaruh bangkitnya semangat kebangsaan untuk mencapai Indonesia Merdeka.
Demikian seterusnya pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia dibawah pimpinan Ir. Soekarno yang bertujuan mencapai kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia. Partai tersebut mengibarkan bendera merah putih yang di tengahnya bergambar banteng.
Kongres Pemuda pada tahun 1928 merupakan detik yang sangat bersejarah dengan lahirnya “Soempah Pemoeda”. Satu keputusan sejarah yang sangat berani dan tepat, karena kekuatan penjajah pada waktu itu selalu menindas segala kegiatan yang bersifat kebangsaan. Sumpah Pemuda tersebut adalah tidak lain merupakan tekad untuk bersatu, karena persatuan Indonesia merupakan pendorong ke arah tercapainya kemerdekaan. Semangat persatuan tergambar jelas dalam “Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia” yang berbunyi :
Pertama : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA YANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga : KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Pada kongres tersebut untuk pertama kalinya digunakan hiasan merah-putih tanpa gambar atau tulisan, sebagai warna bendera kebangsaan dan untuk pertama kalinya pula diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh penciptanya sendiri WR Supratman.
Pada saat kongres pemuda berlangsung, suasana merah-putih telah berkibar di dada peserta, yang dibuktikan dengan panitia kongres mengenakan “kokarde” (semacam tanda panitia) dengan warna merah putih yang dipasang di dada kiri. Demikian juga pada anggota padvinder atau pandu yang ikut aktif dalam kongres menggunakan dasi berwarna merah-putih.
Kegiatan pandu, suatu organisasi kepanduan yang bersifat nasional dan menunjukkan identitas kebangsaan dengan menggunakan dasi dan bendera merah-putih.
Perlu disadari bahwa Polisi Belanda (PID) termasuk Van der Plass tokohnya sangat ketat memperhatikan gerak-gerik peserta kongres, sehingga panitia sangat berhati-hati serta membatasi diri demi kelangsungan kongres. Suasana merah putih yang dibuat para pandu menyebabkan pemerintah penjajah melarang dilangsungkannya pawai pandu, khawatir pawai bisa berubah menjadi semacam penggalangan kekuatan massa.
Pengibaran Bendera Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dilarang pada masa pendudukan Jepang, karena ia mengetahui pasti bahwa hal tersebut dapat membangkitkan semangat kebangsaan yang nantinya menuju pada kemerdekaan.
Kemudian pada tahun 1944 lagu Indonesia Raya dan Bendera Merah-Putih diizinkan untuk berkibar lagi setelah kedudukan Jepang terdesak. Bahkan pada waktu itu pula dibentuk panitia yang bertugas menyelidiki lagu kebangsaan serta arti dan ukuran bendera merah-putih.
Detik-detik yang sangat bersejarah adalah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah pembacaan teks proklamasi, baru dikibarkan bendera Merah-Putih, yang kemudian disahkan pada 18 Agustus 1945. Bendera yang dikibarkan tersebut kemudian ditetapkan dengan nama Sang Saka Merah Putih.
Kemudian pada 29 September 1950 berkibarlah Sang Merah Putih di depan Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pengakuan kedaulatan dan kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh badan dunia.
Bendera Merah-Putih mempunyai persamaan dengan bendera Kerajaan Monako, yaitu sebuah Negara kecil di bagian selatan Prancis, tapi masih ada perbedaannya. Bendera Kerajaan Monako di bagian tengah terdapat lambang kerajaan dan ukurannya dengan perbandingan 2,5 : 3, sedangkan bendera merah putih dengan perbandingan 2 : 3 (lebar 2 meter, panjang 3 meter) sesuai Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 1958.
Kerajaan Monako menggunakan bendera bukan sebagai lambang tertinggi karena merupakan sebuah kerajaan, sedangkan bagi Indonesia bendera merah putih merupakan lambang tertinggi.
Bendera Indonesia, Merah Putih, sering diartikan “berani” dan “suci”. Apakah ini pemaknaan budaya modern atau budaya Indonesia promodern? Mengapa kini bangsa Indonesia memilih simbol merah dan putih sebagai jati diri? Mengapa merah di atas dan putih di bawah, bukan sebaliknya? Dari mana simbol ini berasal?
Berbagai pertanyaan itu tak pernah diajukan orang sejak Mohammad Yamin menjelaskannya dalam buku yang tak pernah dicetak ulang. 6000 Tahun Sang Saka Merah Putih, tahun 1958. Dijelaskan, warna merah simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan. Merah putih bermakna “zat hidup”. Hanya tidak dijelaskan makna “zat hidup”.
Buku ini ingin membuktikan, Merah Putih sudah menjadi simbol bangsa Indonesia sejak kedatangan mereka di kepulauan Nusantara 6.000 tahun lampau.
Makna merah-putih tidak cukup ditelusuri dari jejak arkeologi bahwa warna merah, putih, dan hitam dapat dijumpai pada berbagai peninggalan prasejarah, candi, dan rumah adat.
Artefak-artefak itu hanya ungkapan pikiran kolektif suku-suku di Indonesia. Maka, arkeologi pikiran kolektif inilah yang harus digali dan masuk otoritas antropologi-budaya atau antropologi-seni. Alam pikiran semacam itu masih dapat dijumpai di lingkungan masyarakat adat sampai sekarang.
Warna merah, putih, hitam, kuning, dan campuran warna- warna itu banyak dijumpai pada ragam hias kain tenun, batik, gerabah, anyaman, dan olesan pada tubuh, yang menunjukkan keterbatasan penggunaan warna- warna pada bangsa Indonesia.
Kaum orientalis menuduh bangsa ini buta warna di tengah alamnya yang kaya warna. Benarkah bangsa ini buta warna? Atau bangsa ini lebih rohaniah dibandingkan dengan manusia modern yang lebih duniawi dengan pemujaan aneka warna yang seolah tak terbatas?
Alam rohani dan duniawi. Alam rohani lebih esensi, lebih sederhana, lebih tunggal. Sedangkan alam duniawi lebih eksisten, kompleks, dan plural.
Bangsa Indonesia pramodern memandang hidup dari arah rohani daripada duniawi. Inilah sebabnya penggunaan simbol warna lebih sederhana ke arah tunggal. Jika disebut buta warna, berarti buta duniawi, tetapi kaya rohani.
Berbagai perbedaan hanya dilihat esensinya pada perbedaan dasar, yakni laki-laki dan perempuan. Semua hal yang dikenal manusia hanya dapat dikategorikan dalam dualisme-antagonistik, laki-perempuan. Matahari itu lelaki, bulan perempuan. Dan puluhan ribu kategori lain.
Pemisahan “lelaki” – “perempuan” itu tidak baik karena akan impoten. Potensi atau “zat hidup” baru muncul jika paSångån-paSångån dualistik itu diharmonikan, dikawinkan, ditunggalkan. Itu sebabnya tunggalnya merah dan putih menjadi dwitunggal. Satu tetapi dua, dua tetapi tunggal. Dwitunggal merah-putih menjadi potensi, zat hidup.
Harmoni bukan sintesis. Sintesis merah-putih adalah merah jambu. Bendera Indonesia tetap Merah Putih, dwitunggal.
Dalam sintesis tidak diakui perbedaan karena yang dua lenyap menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti yang plural menjadi satu entitas. Yang plural tetap plural, hanya ditunggalkan menjadi zat hidup. Sebuah kontradiksi, paradoks, yang tidak logis menurut pikiran modern.
Dalam pikiran modern, Anda harus memilih merah atau putih atau merah jambu. Lelaki atau perempuan atau banci.
Dalam pikiran pramodern Indonesia, ketiganya diakui adanya, merah, putih, merah jambu. Merah jambu itulah Yang Tunggal, paradoks, Zat Hidup, karena Yang Tunggal itu hakikatnya Paradoks. Jika semua ini berasal dari Yang Tunggal, dan jika semua ini dualistik, Yang Tunggal mengandung kedua-duanya alias paradoks absolut yang tak terpahami manusia.
Tetapi itulah Zat Hidup yang memungkinkan segalanya ini ada.
Yang Tunggal itu metafisik, potensi, being. Yang Tunggal itu menjadikan Diri plural (becoming) dalam berbagai paSångån dualistik. Inilah pikiran monistik dan emanasi, berseberangan dengan pikiran agama-agama samawi. Harus diingat, merah-putih telah berusia 6.000 tahun, jauh sebelum agama-agama besar memasuki kepulauan ini. Warna merah, putih, dan hitam ada di batu-batu prasejarah, candi, panji perang.
Putih adalah simbol langit atau Dunia Atas, merah simbol dunia manusia, dan hitam simbol Bumi atau Dunia Bawah. Warna-warna itu simbol kosmos, warna-warna tiga dunia.
Alam pikiran ini hanya muncul di masyarakat agraris. Obsesi mereka adalah tumbuhnya tanaman (padi, palawija) untuk keperluan hidup manusia. Tanaman baru tumbuh jika ada harmoni antara langit dan bumi, antara hujan dan tanah.
Antara putih dan hitam sehingga muncul merah. Inilah yang menyebabkan masyarakat tani di Indonesia “buta warna”.
Buta warna semacam itu ada kain-kain tenun, kain batik, perisai Asmat, hiasan rumah adat. Meski dasarnya triwarna putih, merah, hitam, terjemahannya dapat beragam. Putih menjadi kuning. Hitam menjadi biru atau biru tua. Merah menjadi coklat. Itulah warna-warna Indonesia.
Kehidupan dan kematian. Antropolog Australia, Penelope Graham, dalam penelitiannya di Flores Timur (1991) menemukan makna merah dan putih agak lain. Warna merah dan putih dihubungkan dengan darah. Ungkapan mereka, “darah tidak sama”, ada darah putih dan darah merah.
Darah putih manusia itu dingin dan darah merah panas. Darah putih itu zat hidup dan darah merah zat mati. Darah putih manusia mendatangkan kehidupan baru, kelahiran. Darah merah mendatangkan kematian.
Darah putih yang tercurah dari lelaki dan perempuan menimbulkan kehidupan baru, tetapi darah merah yang tercurah dari lelaki dan perempuan berarti kematian.
Makna ini cenderung mengembalikan putih untuk perempuan dan merah untuk lelaki, karena hanya kaum lelaki yang berperang. Mungkin inilah hubungan antara warna merah dan keberanian. Merah adalah berani (membela kehidupan) dan putih adalah suci karena mengandung “zat hidup”.
Mengapa merah di atas dan putih di bawah? Mengapa tidak dibalik? Bukankah merah itu alam manusia dan putih Dunia Atas? Merah itu berani (mati) dan putih itu hidup? Merah itu lelaki dan putih perempuan? Merah matahari dan putih bulan?
Merah panas dan putih dingin? Artinya, langit-putih-perempuan mendukung manusia-merah-lelaki. Asal manusia itu dari langit. Akar manusia di atas. Itulah sangkan-paran, asal dan akhir kehidupan.
Beringin terbalik waringin sungsang. Isi berasal dari Kosong. Imanen dari yang transenden. Merah berasal dari putih, lelaki berasal dari perempuan.
Jelas, Merah-Putih dari pemikiran primordial Indonesia.
Merah-putih itu “zat hidup”, potensi, daya-daya paradoksal yang menyeimbangkan segala hal: impoten menjadi poten, tak berdaya menjadi penuh daya, tidak subur menjadi subur, kekurangan menjadi kecukupan, sakit menjadi sembuh. Merah-putih adalah harapan keselamatan. Dia adalah daya-daya sendiri, positif dan negatif menjadi tunggal.
Siapakah yang menentukan Merah-Putih sebagai simbol Indonesia? Apakah ia muncul dari bawah sadar kolektif bangsa? Muncul secara intuisi dari kedalaman arkeotip bangsa?
Kita tidak tahu, karena merah-putih diterima begitu saja sebagai syarat bangsa modern untuk memiliki tanda kebangsaannya. Merah-Putih adalah jiwa Indonesia.

Raden Wijaya

RADEN WIJAYA, DYAH SANGGRĀMAWIJAYĀ ŚRI MAHARAJĀ KĔRTARĀJASĀ JAYĀWARDHANĀ
(1293 – 1309)

Nararya Sanggramawijaya

1. Penobatan Raden Wijaya sebagai Raja Pertama Wilwatikta
Kertarajasa Jayawardhana atau disebut juga Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit sekaligus raja Majapahit pertama yang memerintah pada tahun 1293-1309. Dengan gelar Nararya Sanggramawijaya Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana atau biasa juga dengan gelar Prabu Kertarajasa Jayawardana.

Raden Wijaya merupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15, - Serat Pararaton, atau Kitab Pararaton adalah sebuah kitab  yang ditulis dalam bahasa Kawi yang berisi tentang sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit -.
Kadang Pararaton juga menyebutnya sebagai Raden Harsawijaya. Sedangkan pada Kitab
Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan.
 
Nama asli Raden Wijaya yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam Prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.
Menurut Pararaton, Raden Wijaya merupakan putra dari Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.
Setelah Rakyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari dan membawa Raden Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya seharusnya menjadi raja ke-27 Kerajaan Sunda Galuh. Sebaliknya, ia mendirikan Majapahit setelah tewasnya Kertanegara, sebagai raja Singhasari terakhir, yang merupakan sepupu ibunya.
Raden Wijaya dalam Prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa.
Menurut Nagarakretagama, Raden Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Kubilai Khan, sebagai wujud penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampainya di Majapahit, bukannya mempersiapkan upeti, Wijaya dan pasukannya malah menghabisi kedua perwira dan para pengawal dari Mongol yang menyertainya. Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya memimpin pasukan tempurnya menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa di Daha di mana pasukan Mongol sedang berpesta kemenangan.
Pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari meninggalkan banyak korban. Serangan mendadak yang tidak disadari itu membuat Ike Mese kaget tidak kepalang tanggung.
Tiga ribu pasukan Kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa dengan meninggalkan banyak korban.
Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya, harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara (Ujunggaluh). Dari sini mereka berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou.
Adalah Lembu Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang bekerja sama dengan orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, yang melakukan penumpasan itu.
Kekalahan balatentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Cina. Sebelumnya, mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia. Selain di Jawa, pasukan Kubilai Khan juga pernah hancur saat akan menyerbu daratan Jepang. Akan tetapi, kehancuran ini bukan disebabkan oleh kekuatan militer bangsa Jepang melainkan oleh terpaan badai sangat kencang yang memporak-porandakan armada kapal kerajaan dan membunuh hampir seluruh prajurit di dalamnya.
Menurut Pararaton, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Pertempuran berakhir di Pelabuhan Ujunggaluh (Tanjung Perak sekarang) dengan kemenangan pasukan Raden Wijaya.
Pada pertempuran ini dicatat dalam sejarah Majapahit, Sang Saka Gula Kelapa dikibarkan bersama umbu-umbul calon kerajaan yang akan lahir di atas kepala para prajurit Jawa. Peristiwa itu sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar, yang merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.
Berkibarnya Sang Såkå Gulå-Kêlåpå, yang disebut juga Sang Saka Merah-Putih atau Sang Såkå Gêtih-Gêtah sebagai bendera pada tahun 1292 itu disebut dalam Piagam Butak atau Prasasti Butak yang kemudian dikenal sebagai Piagam Merah Putih.
Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya.
Akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.
Pada tahun 1215Ç/1293M Raden Wijaya membangun keraton baru di wilayah Trik, kemudian menyatakan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan Wilwatikta atau Majapahit.
Raden Wijaya kemudian menobatkan dirinya menjadi raja pertama Majapahit. Menurut Kidung Harsa Wijaya, penobatan tersebut terjadi pada purneng kartikamasa panca dasi sukleng catur atau tanggal 15 bulan Kartika tahun 1216 Ç, atau 10 November 1293 M, yang menurut Prasasti Kudadu, nama abhiseka beliau adalah Kĕrtarājasa Jayāwardhanā bergelar Nararyā Dyah Sanggrāmawijayā Śri Maharajā Kĕrtarājasa Jayāwardhanā Anantawikramottungga-dewa.
Mengapa Baginda Prabu Nararyā Dyah Sanggrāmawijayā memakai nama abhiseka Kĕrtarājasa Jayāwardhanā? Dijelaskan pada Prasasti berangka tahun 1305 itu pada Bagian II. Ditulis bahwa nama beliau terdiri dari sepuluh suku kata kĕrtajasa jawardha, yang dikelompokkan menjadi empat kata kĕrta, rājasa, jayā, dan wardhanā.
Unsur kĕrta berarti Baginda Prabu memperbaiki Jawadwipa dari kekacauan, yang ditimbulkan oleh para penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit. Oleh karena itu bagi rakyat Wilwatikta Baginda laksana Surya yang menerangi bumi.
Unsur rājasa mengandung arti bhwa Baginda berjaya mengubah suasana kegelapan menjadi terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap lkawan-lawannya. Dengan kata lain Baginda adalah pengempur musuh.
Unsur jayā mengandung arti bahwa Sri Prabu memilik lambang kemenangan berupa tomba berujung tiga Trisulamuka sebagai senjata Dewa Syiwa, karena senjata iniliah maka seluruh musuh-musuhnya hancur.
Unsur wardhanā, mengandung arti bahwa Baginda Prabu mengayomi segala agama, memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Majapahit untuk menjalankan ajaran agamanya dengan leluasa; di sisi lain Baginda Prabu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit.
Nāgaraktāgama mewartakan pengangkatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit, ini terjadi pada tahun 1216 Ç.
Ri pejah nrpa jayakatwang awa tikang jagat alilang
Masaruparawi sakabda rika nararyya sira ratu
Siniwing pura ri majhapahit anuraga jaya ripu
Tinelah nrpa krtarajasa jayawarddhana nrpati.
[Sepeninggal Jayakatwang jagad gilang-gemilang cemerlang kembali
Tahun Saka Masaruparawi (1216 Ç) beliau menjadi raja,
Disembah di Majapahit, kesayangan rakyat, pelebur musuh,
Bergelar Sri Narapati Kretarajasa Jayawardana.]
Nararya Dyah Sanggramawijaya dalam Prasasti Balawi berangka tahun 1305 M menyatakan dirinya sebagai Wangsarajasa. Dengan demikian, ia tak pernah sekali pun berniat hendak mendirikan “dinasti” atau “wangas” baru, melainkan meneruskan dinasti yang telah dibangun Ken Arok, buyutnya.
Rajasawangsa adalah dinasti yang didirikan oleh Nararya Sangramawijaya. Ada yang menarik dalam hal ini: Nararya Sangramawijaya tidak menamakan dinastinya dengan sebutan, misalnya Wijayawangsa, melainkan Rajasawangsa.
Penamaan dinasti ini terbukti dari Piagam Kertarajasa Jayawardhana tahun 1305, sebuah lempengan satu baris yang berbunyi: “Rajasawangsa, penolong orang utama, pahlawan gagah berani dalam peperangan ….
Dengan demikian, Sanggramawijaya tidak bermaksud mendirikan wangsa atau dinasti baru yang disebut dengan unsur namanya, melainkan melanjutkan Kerajaan Singasari yang terputus oleh Jayakatwang tahun 1292.
Nama abhiseka Nararya Sanggramawijaya mengandung unsur “rajasa”, nama pendiri Singasari, Ken Arok. Dengan jalan demikian terlihat kesetiaan Sanggramawijaya terhadap Singasari.
Dalam memerintah, Wijaya mengangkat para pengikutnya yang dulu setia dalam perjuangan mendirikan Majapahit. Nambi diangkat sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai Patih Daha, Arya Wiraraja dan Ranggalawe diangkat sebagai Pasangguhan (jabatan yang setara dengan hulubalang raja).
Pada 1294 Raden Wijaya juga memberikan anugerah kepada pemimpin Desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Madura.

2. Pernikahan
Menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (1296 M) dan Nāgaraktāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari, Keempat anak Kertanegara tersebut adalah:
(1) Dyah Sri Tribhūwaneśwari, dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari.
Dalam Nāgaraktāgama nama Tribhuwaneswari sering disingkat Tribhuwana. Ia adalah putri sulung Kertanagara raja terakhir Singasari. Dikisahkan pada saat Singasari runtuh akibat pemberontakan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari.
Rombongan Raden Wijaya kemudian menyeberang ke Sumenep meminta perlindungan Arya Wiraraja. Dalam perjalanan menuju Sumenep, Tribhuwaneswari sering dibantu oleh Lembu Sora, abdi setia Raden Wijaya Raden Wijaya.
Jika pasangan suami istri tersebut letih, Lembu Sora menyediakan punggungnya sebagai alas duduk. Jika menyeberang rawa-rawa Lembu Sora, menyediakan diri menggendong Tribhuwana.
Raden Wijaya kemudian bersekutu dengan Arya Wiraraja untuk menjatuhkan Jayakatwang. Ketika Raden Wijaya berangkat ke Kadiri pura-pura menyerah pada Jayakatwang, Tribhuwana ditinggal di Sumenep. Baru setelah Raden Wijaya mendapatkan hutan Trik untuk dibuka menjadi desa Majapahit, Tribhuwana datang dengan diantar Ranggalawe putra Arya Wiraraja.
Berita ini terdapat dalam Kidung Panji Wijayakarama.
Sepeninggal pasukan Mongol tahun 1293, Kerajaan Majapahit berdiri dengan Raden Wijaya sebagai raja pertama. Tribhuwana tentu saja menjadi permaisuri utama, ditinjau dari gelarnya yaitu Tribhuwana-iswari.
Namun demikian, Pararaton menyebutkan, istri Raden Wijaya yang dituakan di istana bernama Dara Pethak putri dari Kerajaan Dharmasraya, yang melahirkan Jayanagara sang putra Mahkota.
Menurut prasasti Kertarajasa (1305), Tribhuwaneswari disebut sebagai ibu Jayanagara. Dari berita tersebut dapat diperkirakan Jayanagara adalah anak kandung Dara Pethak yang kemudian menjadi anak angkat Tribhuwaneswari sang permaisuri utama.
Hal ini menyebabkan Jayanagara mendapat hak atas takhta sehingga kemudian menjadi raja kedua Majapahit tahun 1309-1328.
Setelah Wafat Tribhuwaneswari dimuliakan di Candi Rimbi di sebelah barat daya Mojokerto, yang diwujudkan sebagai Parwati.
(2). Dyah Dewi Narendraduhitā dengan gelar Śri Mahādewi Dyah Dewi Narendraduhitā, tidak berputra; adalah putri ketiga dari Raja Singasari Kertanagara, dan merupakan istri kedua Raden Wijaya.
(3).  Dyah Dewi Prajnyāparamitā dengan gelar Śri Jayendra Dyah Dewi Prajnyāparamitā, atau sering disingkat dengan nama Prajña Paramita atau Pradnya Paramita adalah putri keempat dari Raja Kertanegara dan merupakan istri ketiga dari Raden Wijaya, namun tidak memberikan keturunan.
Disebutkan bahwa Prajña Paramita adalah istri yang paling setia di antara kelima istri Raden Wijaya.
(4). Dyah Dewi Gayatri, diangkat sebagai rajapatni dengan gelar Śri Rājendradewi Dyah Dewi Gayatri, adalah istri ke empat dari Raden Wijaya, dari Gayatri lahir Tribhuwanatunggadewi yang kelak berkedudukan di Jiwana (Kahuripan), Bhre Kahuripan, dan Rajadewi Maharajasa, yang diangkat sebagai Bhre Daha.
Tribhuwanatunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.
Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwaneswari saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.
Dalam Nāgaraktāgama pupuh 2 (1) menguraikan bahwa putri Gayatri (Rajapatni) wafat pada tahun 1350 pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. 12 tahun setelah meninggalnya Gayatri dilaksanakan upacara srada dan dimuliakan candi di candi Boyolangu di desa Kamal Pandak tahun 1362 dengan nama Prajnyaparamita Puri.
Baik tanah candi maupun arcanya diberkati oleh pendeta Jnyanawidi.
Sementara itu, dari Gayatri lahir pula dua orang putri bernama Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Dyah Wiyat alias Rajadewi Maharajasa adalah putri bungsu Raden Wijaya, yang lahir dari Gayatri. Ia memiliki kakak kandung bernama Dyah Gitarja, dan kakak tiri bernama Jayanagara.
Pararaton mengisahkan Jayanagara yang menjadi raja kedua, merasa takut takhtanya terancam, sehingga Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat dilarang menikah. Baru setelah ia meninggal tahun 1328, para Ksatriya berdatangan melamar kedua putri tersebut.
Setelah diadakan sayembara, diperoleh dua orang Ksatriya, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.
Selain keempat putri Kertanegara, Raden Wijaya beristrikan Dara Pethak.
Menurut Pararaton, sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit, datang pasukan Kebo Anabrang yang pada tahun 1275 dikirim Kertanegara menaklukkan Pulau Sumatra. Pasukan tersebut membawa dua orang putri Mauliwarmadewa dari Kerajaan Dharmasraya bernama Dara Jingga dan Dara Pethak sebagai persembahan untuk Kertanegara.
Nama Dara Pethak berarti merpati putih. Menurut Kronik Cina, pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, sehingga dapat diperkirakan pertemuan antara Raden Wijaya dan Dara Pethak terjadi tanggal 4 Mei 1293.
Karena Kertanegara sudah meninggal, maka ahli warisnya, yaitu Raden Wijaya mengambil Dara Pethak sebagai istri, sedang Dara Jingga diserahkan kepada Adwayabrahma atau Mahesa Arema yang dikenal dengan panggilan Kebo Anabrang, seorang pejabat Singasari yang dulu dikirim ke Sumatra tahun 1286.
Dara Pethak pandai mengambil hati Raden Wijaya sehingga ia dijadikan sebagai istri tinuheng pura, atau istri yang dituakan di istana.
Padahal menurut Nāgaraktāgama, Raden Wijaya sudah memiliki empat orang istri, dan semuanya adalah putri Kertanegara.
Pengangkatan Dara Pethak sebagai istri tertua mungkin karena hanya dirinya saja yang melahirkan anak laki-laki, yaitu Jayanegara. Sedangkan menurut Nāgaraktāgama, ibu Jayanegara bernama Indreswari. Nama ini dianggap sebagai gelar resmi Dara Pethak.
Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja.
Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Sedangkan menurut Pararaton, ia hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja, serta seorang putri dari Kerajaan Malayu bernama Dara Pethak.
Menurut prasasti Sukamerta dan prasasti Balawi, Raden Wijaya memiliki seorang putra dari Tribhuwaneswari bernama Jayanagara. Sedangkan menurut Pararaton Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Pethak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Jayanagara atau Kalagěmět, dan menurut Nāgaraktāgama adalah putra Indreswari.
Namun demikian ada juga pendapat lain, dimana Raden Wijaya juga mengambil Dara Jingga yang juga salah seorang putri Kerajaan Melayu sebagai istrinya selain dari Dara Pethak, yaitu Dara Jingga.
Dara Jingga juga dikenal memiliki sebutan sira alaki dewa — dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa, karena dia diperisteri oleh raja bergelar yang ‘dewa’ dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera.
Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Kěrtanāgara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan.
Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, Śrimat Tribhūwanarāja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasāri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.
Pernikahan dengan keempat putri Kertanegara ternyata dikandung maksud untuk meredam kemungkinan terjadinya pemberontakan dengan tujuan mencegah terjadinya perebutan kekuasaan antaranggota keluarga raja.

3. Kepemimpinan Raden Wijaya
Dalam memimpin Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya dikenal memerintah dengan tegas dan bijak. Kepemimpinan Kertarajasa dianggap cukup bijaksana, dengan mengangkat para pengikutnya dulu yang setia dalam perjuangan dengan memberikan kedudukan dan hadiah yang pantas kepada para pendukungnya.
Aria Wiraraja yang banyak berjasa ikut mendirikan Majapahit, diberi daerah khusus (Madura) dan diberi diberi kekuasaan atas daerah Lumajang hingga Blambangan. Disamping itu Arya Wiraraja dan Ranggalawe diangkat sebagai pasangguhan,
Nambi (putera Arya Wiraraja) diangkat menjadi patih (perdana menteri), Ranggalawe diangkat sebagai Adipati Tuban, dan Lembu Sora sebagai patih Dhaha (Kadiri).
Pada tahun 1294 Wijaya juga memberikan anugerah tanah di Surabaya kepada pemimpin desa Kudadu yang dulu melindunginya saat pelarian menuju Pulau Madura.
Babad Tanah Jawi mewartakan:
Sawisé jumênêng Nåtå, Sang Prabu anggêganjar marang sakabèhing kawulå kang mauné labuh marang panjênêngané. Wiråråjå dibagèhi tanah Lumajang sauruté. Putriné Kartånagårå papat pisan dadi garwané Sang Prabu, lan isi ånå garwå paminggir siji sakå tanah Melayu aran Sri Indrèsywari.
Sâkå garwå paminggir iki Sang Prabu kagungan putrå R. Kaligêmêt, kang bèsuké nggêntos kaprabon, ajêjuluk Jåyånagårå, sêkå Prameswari Sang Prabu pêputrå putri loro. Ing taun 1295 R. Kalagêmêt lagi yuswå sâtaun wus diangkat dadi pangèran pati lan dadi ratu ing Kadhiri, ibuné kang ngêmbani nyêkêl pråjå Kadhiri.
Ing nalikå panjênêngané Prabu Kêrtarêjåså Jåyåwardhånå iku, Tanah Jåwå karo Cinå bêcik manèh, pêrdagangané gêdhé, wong Cinå têkå ing Tanah Jåwå nggåwå mas, salåkå, mêrjan, sutrå biru, sutrå kêmbang-kêmbangan, bålå-pêcah lan dandanan wêsi. Sâkå ing Tanah Jåwå, Cinå kulak: bêras, kopi kapri, rami, bumbon crakên luwih-luwih mricå, barang barang mas utåwå salåkå, bångså dandanan kuningan utåwå têmbågå, tênunan kapas lan sutrå, wêlirang, gading, culå warak, kayu warnå-warnå, manuk jåkåtuwå lan barang nam-naman.
4. Tata Pemerintahan Raden Wijaya
Berikut adalah nama-nama jabatan dan pejabat pemerintahan Majapahit pada Jaman pemerintahan Raja Kertarajasa sesuai Piagam Penanggungan tahun 1296, yang mengacu pada jabatan pemerintahan masa Kerajaan Kadiri dan Singasari. [Catatan: Yang dicetak miring (italicize), adalah sebutan nama jabatan, bukan nama pejabatnya].
(1). Rakryan Mahamentri Katrini.
Jabatan ini merupakan jabatan yang telah ada sebelumnya. Sejak zaman Mataram Kuno, yakni pada masa Rakai Kayuwangi, jabatan ini tetap ada pada zaman Kerajaan Singasari, hingga ke masa Majapahit.
Penjabat-penjabat ini terdiri dari tiga orang yakni:
  • Rakryan Mahamantri i Hino, dijabat oleh Dyah Pamasi.
  • Rakryan Mahamantri i Halu, dijabat oleh Dyah Singlar.
  • Rakryan Mahamantri i Sirikan, dijabat oleh Dyah Palisir.
Ketiga penjabat ini mempunyai kedudukan penting setelah raja, dan mereka menerima perintah langsung dari raja. Namun, mereka bukanlah pelaksana-pelaksana dari perintah raja; titah tersebut kemudian disampaikan kepada pejabat-pejabat lain yang ada di bawahnya.
Rakryan Mahamantri i Hinolah yang terpenting dan tertinggi. Ia mempunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti). Oleh sebab itu, banyak para sejarahwan yang menduga jabatan ini dipegang oleh putra mahkota.
(2). Rakryan Mantri ri Pakirakiran.
Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah, disebut Sang Panca ring Wilwatika atau Mantri Amancanagara, yakni lima orang rakryan yang disebut Para Tanda Rakryan, yaitu:
  • Rakryan Mahapatih Majapahit atau Mantri Mukya: Pu Tambi,
  • Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan): Pu Rentang,
  • Rakryan Kanuruhan (Penghubung dan Tugas-tugas Protokol Istana): Pu Elam,
  • Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan): Pu Wahana, dan
  • Rakryan Rangga (Wakil Panglima Kerajaan): Pu Sasi.
Jabatan-jabatan tersebut kalau di abad ke-20 atau 21 ini, adalah:
  • Rakryan Mahapatih Majapahit atau Mantri Mukya, = Perdana Menteri.
  • Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan) = Menteri Dalam Negeri.
  • Rakryan Kanuruhan (Penghubung dan Tugas-tugas Protokol Istana), dapat disebut sebagai Pejabat Penghubung antar Lembaga Negara.
  • Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan) = Menteri/Panglima Angkatan Bersenjata atau Panglima Tentara Nasional.
  • Rakryan Rangga (Wakil Panglima Kerajaan) = Wakil Panglima Tentara Nasional.
(3). Patih Negara Bawahan.
  • Rakryan Patih Daha: Empu Sora.
  • Rakryan Demung Daha: Empu Rakat.
  • Rakryan Tumenggung Daha: Empu Pamor.
  • Rakryan Rangga Daha: Empu Dipa.
(4). Pejabat Hukum Keagamaan:
Rakryan Mahamantri Agung Pranaraja, yang membawahi lima pendeta Syiwa dan Budha dengan sebutan Dang Acarya, Sebutan ini khusus diperuntukkan bagi para pendeta Syiwa dan Buddha yang diangkat sebagai dharmadhyaksa (hakim tinggi) atau upapatti (pembantu dharmadhyaksa kesiwaan dan dharmadhyaksa kebuddhaan):
  • Dharmadyaksa Kasaiwan: Dang Acarya Agraja.
  • Dharmadyaksa Kasogatan: Dang Acarya Ginantaka.
  • Sang Pemegat ring Pamotan: Dang Acarya Anggaraksa.
  • Sang Pemegat ring Jambi: Dang Acarya Rudra.
  • Sang Pemegat ring Tirwan: Panji Paragata.
(5). Pasangguhan.
Jabatan hulubalang keraton. Pada zaman awal Majapahit, ada empat orang pasangguhan:
  • Pasangguhan: Sang Arya Wiraraja.
  • Pasangguhan Rakryan Mantri Dwipantara: Sang Arya Adikara.
  • Mapasanggahan Sang Pranaraja Rakryan Mantri: Mpu Siana.
  • Mapasanggahan Sang Nayapati: Mpu Lunggah.
(6). Dharmaputra.
Dharmaputra adalah suatu jabatan khusus yang dibentuk oleh Raden Wijaya. Berjumlah tujuh orang, yaitu:
  • Ra Kuti,
  • Ra Semi,
  • Ra Tanca,
  • Ra Wedeng,
  • Ra Yuyu,
  • Ra Banyak, dan
  • Ra Pangsa,
yang semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan Jayanegara (raja kedua Majapahit).
Tidak diketahui dengan pasti apa tugas dan wewenang Dharmaputra. Pararaton hanya mengatakan kalau para anggota Dharmaputra disebut sebagai pangalasan wineh suka, yang artinya “pegawai istimewa yang disayang raja”. Mereka diangkat oleh Raden Wijaya dan tidak diketahui lagi keberadaannya setelah tahun 1328.
(7). Juru Pangalasan.
Selama masa pemerintahan Raden Wijaya, jabatan Juru Pengalasan, yaitu pejabat tinggi daerah mancanegara, mungkin semacam ‘Duta Besar’ atau ‘Utusan Khusus’, dijabat sendiri oleh Sang Prabu dengan sebutan Rakryan Juru Kertarajasa Jayawardana atau Rakryan Mantri Sanggramawijaya Kertarajasa Jayawardhana.
5. Siapa Radèn Wijaya?
Radèn Wijaya adalah nama yang lazim dipakai para sejarahwan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Radèn Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar Radèn belum populer.
Nāgaraktāgama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Radèn. Istilah Radèn sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan, menjadi Rahadyan dan akhirnya Radèn.
Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam Prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1204. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.
Menurut Pararaton, Radèn Wijaya adalah putra Mahisa Campaka Narasingha Murti Ratu Anggabaya, Kerajaan Singasari semasa Singasari diperintah oleh Wisnu Wardhana.
Menurut Naskah Wangsakerta pada Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Radèn Wijaya atau Sanggramawijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal (Dyah Singamurti, menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara Dyah Lembu Tal adalah seorang perempuan).
Ayahnya adalah putra Prabu Buru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal tidak ingin tinggal di Pakuan, tetapi pulang ke Singasari membawa serta putranya Radèn Wijaya.
Dengan demikian, Radèn Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa. [Catatan:Sebagian besar sejarahwan meragukan keaslian naskah Wangsakerta ini].
Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda.
Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.
Babad Tanah Jåwi (XXIV) Cariyos Prabu Bråwijåyå lan têdhak turunipun
Gantos ingkang cinariyos Sang Prabu Bråwijåyå wontên ing Måjåpahit, saking karsanipun ingkang nganggit sêrat punikå aran ngaturakên ingkang nurunakên kawiwitan saking Karaton Jênggålå, ingkang jumênêng nåtå Radèn Rawisrênggå, pêputrå Radèn Laléyan jumênêng nåtå wonten ing Pajajaran, dangunipun satus taun. Pêputrå Radèn Bondhansari, ugi lêstantun jumênêng nåtå wontên ing Pajajaran, pêputrå Radèn Bondhanwangi pêputrå sêkawan.
Ingkang pâmbarêp putri, ananging pikantuk supatanipun ingkang råmå dados wadat botên kénging pålåkråmå, tinundhung ingkang råmå lajêng mratåpå wontên rêdi, têmahan mêrnyanyang dados bangsanipun lêlêmbut, inggih punikå jumênêng ratu wontên ing sêgårå kidul, ingkang pinaraban Kanjêng Ratu Kidul.
Ingkang panênggak ugi putri ananging kathah sakitipun sartå gadhah cacat bisu botên sagêd caturan, ingkang råmå sangêt lingsêmipun. Putri wau binucal dhatêng pulå Harmus, pinupu dening Sang Ratu Kêlan, dados ndhérèk golongan bångså wolung nagari, inggih punikå Spanyol saurutipun.
Ingkang nomêr tigå kakung, pêparab Jåkå Sêsuruh lan tunggal råmå-ibu. Wontên malih putranipun ingkang nomêr sêkawan, tunggal råmå bèntên ibu, ugi kakung pêparab Radèn Siyung Wanårå.
Sasêdanipun Sang Prabu Bondhanwangi ingkang nggantosi jumênêng nåtå putrå ingkang wuragil jêjuluk Radèn Siyung Wanårå. Déné Radèn Sêsuruh jumênêng nåtå wontên ing Måjåpahit. Karaton ing Pajajaran tumuli sirnå, putranipun Prabu Siyung Wanårå lajêng ngratu dhatêng Majapahit, dados ratunipun namung sêtunggal wontên ing Måjåpahit kémawon.
Menurut Pararaton, Radèn Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singasari. Menurut Nāgaraktāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.
Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.
Antara Pararaton dan Nāgaraktāgama ada celah satu generasi: ada dan tidak ada Dyah Lembu Tal. Pararaton menyebut Wijaya putra Mahisa Campaka alias Narasinghamurti, sedangkan Nāgaraktāgama menyebut Wijaya cucu Narasinghamurti.
Berita Nāgaraktāgama sejalan dengan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dalam hal Dyah Lembu Tal sebagai orang tua Wijaya, namun tidak dalam hal jenis kelaminnya.
Berdasarkan catatan sejarah dari sumber lain yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya bahwa Radèn Wijaya atau Radèn Jaka Tanduran atau Radèn Sesuruh atau Prabu Brawana merupakan putra ke-7 pasangan Prabu Sundha Hanyakrawati/Prabu Harjakusuma atau Prabu Pamekas di Pajajaran dari Permaisuri Dewi Ambarsari yang merupakan putri dari Prabu Dewamantala di Kerajaan Galuh.
Mengenai berita adanya perselisihan diantara para keturunan Prabu Pamekas adalah hal yang mungkin dapat dibenarkan dikarenakan masing-masing berambisi untuk meneruskan tahta.
Diceritakan dari sumber lain dimana terjadi peselisihan diantara Radèn Wijaya dengan saudaranya yaitu Radèn Siyung Wanara atau Jaka Tambi atau Arya Banyakwidhe yang merupakan putra ke-9 dari pasangan Prabu Pamekas dengan selir dan kemudian Siyung Wanara menjadi Raja di Pajajaran dengan gelar Prabu Sri Maha Sekti.
Rakeyan Jayadarma salah seorang pangeran kerajaan Sunda dinikahkan dengan putri Mahisa Campaka dari Tumapel Jawa Timur, bernama Dyah Lembu Tal. Dari pernikahan Rakeyan Jayadarma, ia mempunyai seorang anak yang diberi nama Sang Nararya Sanggramawijaya atau sering disebut Radèn Wijaya.
Namun karena Jayadarma wafat pada usia muda, sehingga Dyah Lembu Tal memohon ijin untuk tinggal di Tumapel bersama putranya.
Berita di atas berlawanan dengan Nāgaraktāgama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti.
Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya.
Perlu diketahui bahwa catatan dari tanah Sunda tentang kaitan antara Radèn Wijaya dengan Rakeyan Jayadarma ini hanya pendapat minoritas sejarawan. Kelemahan utamanya adalah nama Dyah Lembu Tal adalah nama laki-laki, yang umumnya diterima sebagai ayah dari Radèn Wijaya.
Radèn Wijaya setelah dewasa ia menjadi senapati Singasari, pada waktu itu diperintah oleh Kertanegara, hingga pada suatu ketika ia mampu mendirikan negara Majapahit. Radèn Wijaya didalam Babad Tanah Jawi dikenal juga dengan nama Jaka Susuruh dari Pajajaran, karena ia memang lahir di Pakuan.
Dalam Pustaka Nusantara III dijelaskan, bahwa Darmasiksa masih menyaksikan Radèn Wijaya, cucunya mengalahkan Jayakatwang, raja Singasari. Kemudian dengan taktis ia mampu menyergap dan mengusir laskar Kubilai Khan dari Jawa Timur.
Kemudian empat hari pasca pengusiran pasukan Cina, atau pada 1293 M, Radèn Wijaya dinobatkan menjadi raja Wilwatika dengan gelar Kertarajasa Jayawardana.
Peristiwa yang juga direkam didalam Pustaka Nusantara III tentang Darmariksa memberikan nasehat kepada Radèn Wijaya, cucunya. Ketika itu Radèn Wijaya berkunjung ke Pakuan dan mempersembahkan hadiah kepada kakeknya, sebagai berikut :
Haywa ta sira kedo athawamerep ngalindih Bhumi Sunda mapan wus kinaliliran ring ki sanak ira dlahanyang ngku wus angemasi.
Hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngawang kottaman ri puyut katisayan mwang jayacatrum, ngke pinaka mahaprabu.
Ika hana ta daksina sakeng Hyang Tunggal mwang dumadi seratanya.
Ikang Sayogyanya rajya Jawa lawan rajya Sunda paraspasarpana atuntunan tangan silih asih pantara ning padulur.
Yatanyan tan pratibandeng nyakrawati rajya sowangsowang.
Yatanyan siddha hitasukha. Yan rajya Sunda duh kantara, wilwatika sakopayana maweh carana; mangkana juga rajya Sunda ring Wilwatikta.)
(Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada Saudaramu bila kelak aku telah tiada.
Sekalipun negaramu telah menjadi besar dan jaya serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, keluar biasaan dan keperkasaan mu kelak sebagai raja besar.
Ini adalah anugrah dari Yang Maha Esa dan menjadi ketentuan yang telah tersurat.
Sudah selayaknya kerajaan Jawa dengan kerajaan Sunda saling membantu, bekerjasama dan saling mengasihi antara anggota keluarga.
Karena itu janganlah beselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing.
Bila demikian akan menjadi keselamatan dankebahagiaan yang sempurna.
Bila kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit).
Dari uraian di atas tentunya dapat disimpulkan, bahwa Darmasiksa memiliki peranan yang cukup besar terhadap keutuhan Sunda. Dilakukan tidak menggunakan kekuatan militer, melainkan dengan cara Diplomasi.
Kiranya keindahan kepemimpinan Darmasiksa patut dicontoh oleh generasi berikutnya. Selain ia ahli agama dan memegang erat tetekon keyakinannya, ia pun mampu menjalankan fungsinya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
Radèn Wijaya (atau dikenal dengan Nararya Sanggramawijaya) yang bergelar Kertarajasa Jayawardhana yang merupakan keturunan langsung dari wangsa Rajasa adalah pendiri dan raja pertama Majapahit (1293-1309).
Radèn Wijaya adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, raja ke 26 dari Kerajaan Sunda Galuh, dan Dyah Lembu Tal/Dyah Singhamurti, seorang putri Singasari. Ken Arok, raja pertama (1222-1227) Singasari menikahi Ken Dedes, dan memiliki anak: Mahesa Wong Ateleng.
Lalu ia memiliki anak: Mahesa Cempaka yang bergelar Narasinghamurti. Kemudian memiliki putri: Dyah Lembu Tal diberi gelar Dyah Singhamurti.
Rakeyan Jayadarma. Ia adalah raja ke-26 Kerajaan Sunda Galuh, anak dari Prabu Guru Dharmasiksa, raja ke-25 dari Kerajaan Sunda Galuh. Setelah Rakeyan Jayadarma diracun oleh salah seorang bawahannya, dan tewas, Dyah Lembu Tal kembali ke Singasari bersama Radèn Wijaya.
Radèn Wijaya seharusnya menjadi raja ke 27 Kerajaan Sunda Galuh. Sebaliknya, ia mendirikan Majapahit di tahun 1293, setelah tewasnya raja Kertanegara, raja Singasari terakhir, yang merupakan mertuanya, dan juga sepupu ibunya.
Dialah Radèn Wijaya yang disebut sebagai Jaka Susuruh dari Pajajaran. Ia dibesarkan di lingkungan kerajaan Singasari, menjadi raja pertama di Majapahit.
Di antara naskah-naskah di atas, Nāgaraktāgamalah yang paling dapat dipercaya, karena naskah ini ditulis tahun 1365, hanya berselang 56 tahun setelah kematian Radèn Wijaya. Berita dalam Nāgaraktāgama diperkuat oleh prasasti Balawi yang diterbitkan langsung oleh Radèn Wijaya sendiri tahun 1305.
Dalam prasasti itu Radèn Wijaya menyatakan dirinya sebagai keturunan Wangsa Rajasa. Menurut Nāgaraktāgama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti.
Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa, penguasa pertama Kerajaan Singasari.

6. Berdirinya Keraton Majapahit menurut Kitab Babad
Konon, dahulu ada seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri ke wilayah Pulau Jawa sebelah timur. Pangeran itu bernama Radèn Jaka Sesuruh.
Ia melarikan diri karena Kerajaan Pajajaran dikuasai pemberontak yang bernama Ciung Wanara.
Ciung Wanara sebenarnya masih putra Raja Pajajaran sendiri. Ia lahir dari salah satu istri (selir) Raja Pajajaran karena diramalkan kehadirannya akan membawa akibat buruk, saat bayi Ciung Wanara dibuang oleh Raja Pajajaran.
Setelah dewasa, ia bermaksud untuk balas dendam. Oleh karena itu, Ciung menyerbu Pajajaran dan menguasai.
Radèn Jaka Sesuruh terus berlari ke timur. Ia ingin ke puncak Gunung Kombang. Ia ingin meminta petunjuk kepada nenek pertapa itu. Apa yang dilakukannya sekarang.
Di tengah perjalanan Radèn Jaka Sesuruh merasa kehausan perutnya juga sudah berkali-kali merasa lapar. Beruntung ia, karena tidak jauh ada sebuah rumah dan rumah itu besar, namun sangat sederhana yang atapnya dari rumbia dan dinding nya dari kulit kayu kering kemudian Radèn Jaka mendatangi rumah itu.
Seorang pemuda membukakan pintu saat Radèn Jaka Sesuruh selesai mengetok pintu.
Siapakah Tuan? ada keperluan apakah tuan datang kerumah saya?“, tanya pemuda itu.
Aku adalah pengembara dan aku ingin meminta air minum dan sedikit makan jika ada. bolehkah?
Tentu boleh tuan! Mari silakan masuk!
Radèn Jaka sesuruh kemudian masuk kedalam rumah, di dalam rumah ada dua orang pemuda dan seorang gadis.
Perkenalkan Tuan. nama saya Jaka Wirun. Dua pemuda dan gadis itu adalah adik-adik saya, dua pemuda itu bernama Jaka Nambi dan Jaka Bandar sedang seorang gadis itu bernama Rara Uwuh. Lalu, siapakah nama Tuan?” Tanya Jaka Wirun.
Namaku Radèn Jaka sesuruh. Aku berasal dari kerajaan Pajajaran.
Oh maafkan hamba, Radèn! hamba tidak tahu kalau anda seorang pangeran dari Pajajaran. Ayo Rara Uwuh segera siapkan makanan dan minuman untuk Radèn Ini!
Rara Uwuh segera menyiapkan apa yang diinginkan Radèn Jaka Sesuruh.
Radèn Jaka sesuruh segera meminum air minumnya lalu mengisi sedikit makan untuk mengisi perutnya.
Apakah Gunung Kombang masih jauh dari sini?” tanya Radèn Jaka sesuruh setelah memakan dan minumnya.
Tidak begitu jauh, Radèn. Namun berbahaya kalau Radèn pergi ksana sekarang, hari sebentar lagi malam. Sebaiknya, Radèn menginap dulu disini besok pagi-pagi kami antar Radèn kesana!” kata Jaka Wirun.
Untuk apa kalian mengantarku?” tanya Radèn Jaka sesuruh ingin tahu.
Kami ingin menjadi pengikut Radèn, kami lihat Radèn sendirian mungkin kami bisa membantu Radèn nanti.
Radèn Jaka sesuruh membenarkan kata-kata Jaka Wirun. Akhirnya, Radèn Jaka sesuruh memperbolehkan Jaka Wirun dan saudaranya menjadi pengikutnya.
Malampun berlalu pagi telah datang dan Radèn Jaka Sesuruh berangkat menuju Gunung Kombang di iringi Jaka Wirun dan ketiga saudaranya kemudian mereka sampai ke puncak Gunung Kombang dan seorang nenek pertapa menyambut kedatangan mereka.
Radèn, aku sudah tahu maksud kedatanganmu, sekarang Radèn teruslah berjalan ke timur berhentilah saat Radèn menemukan sebuah pohon maja yang buahnya hanya sebuah dan aku akan memberikan Radèn dua ekor burung perkutut yang mana burung itu yang akan menunjukkan dimana letak pohon maja itu kemudian bukalah hutan di sekitar pohon maja tersebut jadikan sebuah perkampungan yang mana disitu Radèn akan menjadi orang besar!” kata nenek pertama yang kemudian menghilang.
Sehilangnya nenek pertapa datanglah dua ekor burung perkutut kedua burung perkutut tersebut berputar-putar diatas kepala Radèn Jaka Sesuruh kemudian burung perkutut tersebut terbang pelan kea timur.
Ayo kita ikuti kedua burung itu!” ajak Radèn Jaka Sesuruh pada Jaka Wirun dan ketiga saudaranya.
Mereka mengikuti kedua ekor burung perkutut itu terbang setelah cukup lama akhirnya kedua burung itu hinggap di suatu pohon dan itulah pohon maja dan pada saat itupohon itu sedang berbuah dan hanya satu buahnya.
Kita telah sampai, lihatlah itu pohon maja buahnya hanya satu dan keduaa pohon itu hinggap di dahannya,” kata Radèn Jaka Sesuruh.
Untunglah sudah sampai, aku haus sekali biarlah kita makan buah itu mungkin, bisa menghilangkan rasa hausku!” kata Jaka Wirun.
Ia mengambil buah maja itu kemudian membelah dan membaginya dengan saudara-saudaranya. Namun, apa yang terjadi saat mereka memakan buah maja tersebut?
Buah maja tersebut ternyata pahit rasanya, Jaka Wirun segera memuntahkan buah tersebut yang mana telah terlanjur memakannnya.
Buah maja ini rasanya pahit! Maja pahit!” teriak Jaka Wirun.
Radèn Jaka Sesuruh tergerak hatinya mendengar teriakan Jaka Wirun itu kemudian Ia memandangi sekeliling.
Kalian jadi saksinya,tempat ini aku namakan Majapahit! ayo sekarang kita mendirikan tempat menginap seadanya dulu. Mulai besok kita akan menebangi pepohonan untuk membuatkan padepokan.
Keesokan harinya mereka memulai menebangi pepohonan. Setelah beberapa lama, terbukalah hutan itu. Rumah-rumah segera dibangun dari batang-batang pohon sisa tebangan maka, jadilah hutan itu menjadi sebuah dusun kecil dan lama-lama banyak pendatang baru yang ingin bergabung.
Jadilah Majapahit sebuah desa yang ramai semakin lama semakin banyak pendatang baru. Radèn Jaka Sesuruh mengajak mereka membangun mereka agar lebih maju.
Majapahitpun akhirnya menjadi kerajaan dan Radèn Jaka Sesuruh diangkat menjadi rajanya yang mana bergelar Prabu Brawijaya. Prabu Wijaaya mengangkat Jaka Wirun menjadi patihnya, sedangkan Jaka Nambi diangkat menjadi penasehat raja, kemudian Jaka Bandar diangkat menjadi panglima perang dan Rara Uwuh diangkat menjdi kepala dayang-dayang.

7. Radèn Wijaya mangkat
Akhir hayat Sang Prabu Sri Kertarajasa ditulis dalam Pararaton: ia mendapat penyakit bisul berbengkak. Ia wafat di Antapura, wafat pada tahun 1257M.
Sedangkan Nāgaraktāgama Pupuh 47 (3) mengabarkan bahwa Sang Prabu mangkat pada tahun 1231 Ç atau 1309 M, beliau dimakamkan di Antahpura dan dicandikan di Simping sebagai Harihara, atau perpaduan Wisnu dan Syiwa.
ring saka ma-try-aruna lina nirang narendra
drak pinratista jinawimba sireng puri jro
antahpura ywa panelah nikanang sudharmma
saiwapratista sira teki muwah ri simping.
[Tahun Saka matryaruna (1231 Ç), Sang prabu mangkat,
disemayamkan di dalam pura,
Antahpura, begitu nama tempat peristirahatan beliau,
Dan di Simping ditegakkan arca Siwa.]
Radèn Wijaya wafat pada tahun 1231 Ç / 1309 M. Beliau didharmakan sebagai Harihara, di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis, yakni perwujudan Radèn Wijaya sebagai Syiwa dan Wisnu dalam satu arca.
Arca Inilah yang disebut dalam Nagarakrtagama sebagai arca Saiwa dari Candi Simping (Candi Sumberjati), Blitar, Jawa Timur.
Candi Simping, disebut juga candi Sumberjati adalah makam raja Radèn Wijaya Sri Kertarajasa Jayawardhana. Keterangan ini terdapat pada kitab Negara Kertagama yang ditulis Empu Prapanca. Oleh karena itu bisa dipahami raja Hayam Wuruk dalam kunjungannya ke daerah Blitar beberapa kali mampir di candi ini. Bahkan Hayamwuruk dan Mahapatihnya, Gajahmada pernah menginap di candi ini.
Candi Sumberjati ini terletak didesa Sumberjati, Kecamatan Surah Wadang, Daerah Kademangan, Blitar Selatan. Dari arah Blitar kita ke jalan raya ke Tulung Agung, setelah melewati jembatan sungai Brantas, melintas ke kiri melalui jalan desa, penduduk setempat cukup faham lokasinya.
Saat ini candi Simping masih dalam keadaan berupa reruntuhan, namun pada saatnya, merupakan persemayaman abu jenazah Radèn Wijaya (1293 – 1309 M), negeri kerajaan Majapahit dalam perwujudannya sebagai Hari-Hara (gabungan Wishnu dan Shiwa).
Candi ini disebut-sebut di naskah Nāgaraktāgama, dan direnovasi oleh Raja Hayamwuruk pada tahun 1285 Syaka (1363 M), kontruksi gambar yang dibuat oleh Dinas Kepurbakalaan menggambarkan candi ini indah dan ramping meninggi.
Pada batur candi setinggi 75 cm, panjang 600 cm dan lebar 750 cm ini terpahat relief berbagai macam binatang. Di antaranya Singa, angsa, merak, burung garuda, babi hutan dan kera. Di sisi barat ada tangga yang dulu digunakan sebagai jalan masuk ke ruang candi.
Di tengah-tengah batur candi ini terdapat batu berbentuk kubus dengan ukuran 75 cmx 75 cm x 75 cm. Pada bagian atas batu ini dipahat relief kura-kura dan naga yang saling mengkait mengitari batu tersebut.
Tak jelas apa guna atau fungsi batu berbentuk kubus ini.
Para sejarahwan memperkirakan batu ini berfungsi sebagai tempat sesajian untuk para desa. Pada badan candi yang direkontruksi di halaman candi terdapat hiasan-hiasan bermotif sulur-suluran dan bunga.
Sementara pada mustaka candi terdapat pelipit-pelipit garis dan bingkai padma (bunga teratai). Dari rentuhan yang ada diperkirakan bentuk candi Simping ini ramping sebagaimana bentuk jandi-candi Jawa Timuran.
Di atas pintu utama dipahat kepala Kala yang kelihatan menyeramkan sebagai penjaga pintu Pahatan kepala kara ini, seperti umumnya kepala Kara model Jawa Timuran, tidak dilengkapi dengan Makara.
Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat cerukan yang masing-masing di atasnya juga terpahat patung Kala. Pahatan (patung) kepala Kala ini sekarang nampak berserakan di halaman candi.
Di halaman candi sebelah timur laut terdapat tiga buah Lingga-Yoni kecil. Tak jelas Lingga-Yoni ini dulu ditempatkan dimana. Hanya saja anehnya, pada bagian bawah Lingga untuk menancapkan ke Yoni ini tidak berbentuk silinder, tetapi segi empat.
Sedangkan dibagian atas bersegi delapan. Di dekat Lingga-Toni ini ada beberapa patung yang tak jelas patung siapa karena kepalanya sudah tidak ada sehingga tidak bisa dikenali.
Di sudut tenggara halaman candi terdapat patung singa yang duduk di atas padmasana. Sayang patung singa ini kepalanya sudah tidak ada, tinggalm badanya saja. Sedangkan di sebelah selatan batur candi terdapat sebuah lingga miniatur candi. Diduga kuat di sini ada patung Hari Hara yang kini tersimpan di musium Jakarta.
Kondisi Candi Simping tidak memungkinkan untuk dipugar. karena terlalu banyak bagian candi yang hilang.
Pujasastra Nāgaraktāgama menyebutkan candi itu merupakan tempat Radèn Wijaya diperabukan. Akan tetapi, kitab itu juga menyebutkan bahwa Radèn Wijaya diperabukan di Candi Brau Trowulan.
Candi itu juga memiliki relief jenis pradasina, relief yang dibaca searah jarum jam. Biasanya relief pradasina tidak digunakan pada candi yang berfungsi sebagai makam.
Peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta menulis bahwa kakawin Nāgaraktāgama mencatat Krtarajasa meninggal pada tahun 1231 Ç (1309 M) dan didharmakan di Simping dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis
Di Candi Simping itu sebenarnya ada arca setinggi 2 meter yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
Dalam Nāgaraktāgama disebutkan Hayam Wuruk berkunjung beberapa kali, hingga pada tahun Saka 1285 (1363 M) memindahkan candi makam Krtarajasa.
Makam Siti Inggil dipercaya merupakan tempat persinggahan dan pertapaan Raja ke-1 Majapahit Radèn Wijaya Kertajaya Jayawardhana. Dulu ceritanya adalah sebuah punden di Dusun Kedungwulan yang diberi nama “Lemah Geneng” yang artinya Siti Inggil.
Di depan makam Siti Inggil terdapat dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan Sapu Jagat sehingga makam ini dikeramatkan dan sering dikunjungi wisatawan lokal maupun asing setiap Jum’at Legi.
Lokasinya berada di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan.
Diyakini pula oleh yang berpendapat lain, bahwa Radèn Wijaya tidak dimakamkan, beliau moksa.
Batu nisan di Bejijong dibuat jauh setelah Majapahit runtuh, nampak dari usia karbon batu nisan dan nisan tersebut dibuat bercorak islam karena mungkin saja yang membuat atau yang berinisiatif membuat nisan beragama Islam.
Setelah Kertarajasa wafat tahun 1309, Jayanagara menjadi raja Majapahit, dan gelar Bhre Daha (II) disandang oleh Rajadewi.
8. Pemberontakan
[Peristiwa penting yang terjadi dalam masa pemerintahan Śri Maharajâ Kêrtarâjasâ Jayâwardhanâ]
Dalam Piagam Kudadu disebutkan bagaimana watak Raden Wijaya sebagai panglima perang yang menunaikan tugas dari Raja Kertanagara. Dalam pengabdiannya ia menunjukkan kedisiplinan serta kesetian kepada perintah yang diberikan dan menunaikan tugas tiada tercela. Demikian pula terhadap teman teman seperjuangannya Raden wijaya memberikan kedudukan yang tinggi kepada para pengikutnya sesuai dengan jasa yang selama masa perjuangan. Namun rasa keadilan bagi masing – masing orang berbeda beda.
Setelah Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja timbullah rentetan ketiadakpuasan di antara pengikut pengikutnya. Peristiwa penting penting tersebut sebagai berikut:
(1). Ranggalawe
Ranggalawe atau Rangga Lawe adalah Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara, atau Arya Adikara adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Majapahit, namun meninggal dan ditempatkan oleh negara sebagai pemberontak.
Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.
Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Ranggalawe memiliki dua orang istri bernama Martaraga dan Tirtawati. Mertuanya adalah gurunya sendiri, bernama Ki Ajar Pelandongan. Dari Martaraga lahir seorang putra bernama Kuda Anjampiani.
Kedua naskah di atas menyebut ayah Ranggalawe adalah Arya Wiraraja. Sementara itu, Pararaton menyebut Arya Wiraraja adalah ayah Nambi. Kidung Harsawijaya juga menyebutkan kalau putra Wiraraja yang dikirim untuk membantu pembukaan Hutan Trik adalah Nambi, sedangkan Ranggalawe adalah perwira Kerajaan Singasari yang kemudian menjadi patih pertama Majapahit.
Uraian Kidung Harsawijaya terbukti keliru karena berdasarkan Prasasti Sukamreta tahun 1296 diketahui nama patih pertama Majapahit adalah Nambi, bukan Ranggalawe.
Nama ayah Nambi menurut Kidung Sorandaka adalah Pranaraja. Brandes menganggap Pranaraja dan Wiraraja adalah orang yang sama. Namun, menurut Muljana keduanya sama-sama disebut dalam Prasasti Kudadu sebagai dua orang tokoh yang berbeda. Menurut Muljana, Nambi adalah putra Pranaraja, sedangkan Ranggalawe adalah putra Wiraraja. Hal ini ditandai dengan kemunculan nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara dalam Prasasti Kudadu.
Pertemuan pertama dengan Raden Wijaya terjadi ketika Ranggalawe diutus oleh ayahnya yaitu Arya Wiraraja yang menjabat sebagai Bupati Madura untuk mengantar Tribhuwaneswari dari Sumenep ke Majapahit bersama Banyak Kapuk dan Mahesa Pawagal utusan Raden Wijaya.
Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Trik menjadi sebuah desa pemukiman yang nantinya bernama Majapahit. Sejak saat itulah keduanya menjadi sahabat yang sangat dekat.
Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang raja Kadiri.
Penyerangan ke Kadiri terjadi tahun 1293, Ranggalawe berada dalam gabungan pasukan Majapahit dan Mongol yang menggempur benteng timur kota Kadiri. Pemimpin benteng bernama Sagara Winotan, gugur dalam pertempuran itu dibunuh Ranggalawe.
Dalam hal lain Ranggalawe juga mempunyai arti: rangga berarti ksatria atau punggawa kerajaan dan lawe merupakan sinonim dari benang, yang berarti “wenang“, bermakna kawenangan, atau “kekuasaan“.
Ranggalawe mempunyai watak yang agak grasa-grusu, bicaranya lantang namun mempunyai kelebihan dalam hal menyusun siasat perang dan dalam pertempuran ia adalah seorang pemberani dan ahli menggunakan senjata. Namun dibalik sifatnya yang kasar, Ranggalawe adalah seseorang yang berani, jujur dan mempunyai tekad besar yaitu berani mempertaruhkan jiwanya untuk membela Raden Wijaya.
Setelah Kadiri runtuh, Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit. Menurut Kidung Ranggalawe, atas jasa-jasanya, Ranggalawe diangkat sebagai bupati Tuban yang merupakan pelabuhan utama Jawa Timur saat itu.
Prasasti Kudadu (1294) yang memuat daftar nama para pejabat awal Majapahit, ternyata tidak mencantumkan nama Ranggalawe. Yang ada ialah nama Arya Adikara dan Arya Wiraraja. Menurut Pararaton, Arya Adikara adalah nama lain Arya Wiraraja. Namun Prasasti Kudadu menyebutkan dengan jelas bahwa keduanya adalah nama dua orang yang berbeda.
Dalam tradisi Jawa ada istilah nunggak semi, yaitu nama ayah dipakai anak. Jadi, nama Arya Adikara yang merupakan nama lain Arya Wiraraja, kemudian dipakai sebagai nama gelar Ranggalawe ketika diangkat sebagai pejabat Majapahit.
Dalam Prasasti Kudadu, ayah dan anak tersebut menjabat sebagai pasangguhan. Masing-masing bergelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka dan Rakryan Mantri Dwipantara Arya Adikara.
Kisah pemberontakan Ranggalawe yang merupakan perang saudara pertama di Majapahit disebutkan dalam Pararaton terjadi tahun 1295, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Ranggalawe. Pemberontakan itu dipicu oleh ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai rakryan patih Majapahit.
Menurut Ranggalawe, jabatan patih sebaiknya diserahkan kepada Lembu Sora yang dinilainya jauh lebih cakap dan berjasa dalam perjuangan dari pada Nambi.
Ranggalawe juga mendapat hasutan dari tokoh licik bernama Mahapati sehingga ia bertekad menghadap Raden Wijaya di ibu kota menuntut penggantian Nambi oleh Lembu Sora, namun Lembu Sora justru tetap mendukung Nambi.
Di paseban agung di hadapan Sri Baginda Prabu Kĕrtarājasā, Ranggalawe menyampaikan ketidak-setujuannya datas diangkatnya Nambi sebagai rakryan patih Majapahit.
Bagi hamba sudah sangat jelas, bahwa kehendak Sang Prabu mengangkat Nambi sebagai patih amangkubumi adalah keputusan yang salah, jika Sang Prabu memandang Lembu Sora sebagai orang yang tidak memenuhi syarat untuk itu, maka hendaknya Sang Prabu dapat mempertimbangkan dengan yang lain, tetapi bukan Nambi yang harus diangkat sebagai rakryan patih.”
Mengapa justru Nambi yang Paduka angkat. Paduka telah menyaksikan sendiri perilaku dan tindak tanduk Nambi di masa-masa lalu. Ia orang yang sangat mengecewakan, dungu, bodoh, penakut, rendah budi, tidak memiliki keahlian apa-apa. Pasti nantinya akan lebih merepotkan Paduka. Ia akan merosotkan kedudukan negara, dan merendahkan wibawa Paduka sebagai raja yang dijunjung tinggi di Majapahit ini.”
Setelah menghina dan merendahkan nama Nambi dihadapan Raden Wijaya akhirnya Ranggalawe menantang Nambi untuk mengadu senjata, mendengar tantangan tersebut Nambi menjadi marah sehingga pertengkaran mulutpun tak terhindarkan diantara kedua belah pihak.
Semua menteri yang hadir termasuk Mahesa Arema si Kebo Anabrang (Pemimpin pasukan Singasari dalam Ekspedisi Pamalayu) tidak bisa menyembunyikan kemarahan akibat perbuatan Ranggalawe yang dianggap melanggar tata krama di hadapan Sang Prabu Kĕrtarājasā dan menantang untuk mengadu senjata.
Karena tuntutannya tidak dihiraukan, Ranggalawe kemudian membuat kekacauan di halaman istana. Lembu Sora sebagai pamannya keluar menasihati Ranggalawe yang merupakan keponakannya sendiri, untuk meminta maaf kepada Raja.
Ranggalawe mengakui kesalahannya bahwa ia telah berbuat terlalu lancang dan sebagai hukumannya ia minta untuk dibunuh saja. Sora tidak memenuhi permintaan keponakannya dan menasehatinya untuk mengingat segala kebaikan Prabu Kĕrtarājasā dimana Ranggalawe diberikan kebebasan untuk keluar masuk Istana siang maupun malam. Mendengar nasehat tersebut akhirnya Ranggalawe memilih pulang ke Tuban.
Mahapati kemudian ganti menghasut Nambi dengan mengatakan kalau Ranggalawe sedang menyusun pemberontakan. Maka berangkatlah Nambi atas izin raja, memimpin pasukan menyerang Tuban. Dalam pasukan itu ikut serta Lembu Sora dan Kebo Anabrang.
Dalam Kidung Ranggalawe diketahui bahwa Arya Wiraraja yang merupakan ayah dari Ranggalawe menetap di Tuban, ketika mendengar putranya telah pulang dari Majapahit ia langsung menemuinya.
Dari tingkah laku putranya Arya Wiraraja menangkap sesuatu yang tidak baik akan terjadi kepada anaknya. Arya Wiraraja kemudian menanyakan apa yang telah terjadi ketika menghadap sang Prabu.
Ketika mendengar penjelasan yang disampaikan putranya, Arya Wiraraja terdiam dan hatinya ‘mendua’ mana yang harus dipilih cinta kepada anak atau setia kepada Sang Prabu.
Arya Wiraraja kemudian menasehati anaknya untuk tetap setia kepada Sang Prabu karena berkhianat akan mempunyai akibat yang sangat berat dalam lingkaran tumimbal lahir (kelahiran kembali). Segala cedera kepada siapapun akan mempunyai akibat yang jelek.
Mendengar nasehat ayahnya Ranggalawe terdiam dan mengakui kesalahannya, insyaf akan kebenarannya namun darah kesatria yang mengalir dalam dirinya mengharuskan dirinya untuk tidak tetap berada di garis perjuangannya dan keperwirayudaan tersebut akan dipertahankan sampai mati.
Ia tidak sudi mundur. Adalah sudah menjadi hukum bahwa dunia ini tidak langggeng, dan suatu ketika pasti akan ditinggalkan, tidak ada suatu yang tetap di dunia ini, dan semua akan menuju mati. Yang diharap hanya memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang.
Sebaliknya jika kalah, kematian yang didapat. Pantang bagai seorang perwira apalagi bagi seorang adipati takut menghadapi bahaya.
Telah tertanam dalam hatinya bahwa Lembu Sora dan Rangga Lawe adalah seorang pejuang perwira yudha, yang darma-baktinya kepada negara telah dibuktikan di awal-awal perjuangan, menderita dan bersusah payah, lårå-låpå, babad alas trik, berjuang mendirikan kerajaan yang kelak menjadi sebuah kerajaan besar Majapahit. Keperwiraan yudha itu harus dipertahankan bahkan dengan jiwanya.
Tidak ada maksud sedikitpun di hatinya meminta balas jasa atau menuntut hak, karena perjuangannya dahulu, kepada Baginda Prabu Śri Maharajā Kĕrtarājasā Jayāwardhanā yang dijunjung dan ditegak-hormati di tahta Majapahit.
Andaikatapun ia harus mati, dan tatkala tumimbal-lahir kelak, berada dalam kedudukan yang lebih baik, meski harus sampai tujuh kali.
Sang Aria Wiraraja terdiam, ia segan menjawab, dalam hatinya ia kecewa karena nasehatnya diabaikan. Setelah nasehatnya tidak didengar oleh putranya, Arya Wiraraja kemudian memanggil para Menteri, Kepala Desa, Akuwu dan Demang untuk mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan dari Majapahit.
Mereka mengharapkan agar Nambilah yang nantinya memimpin pasukan dari Majapahit karena Nambilah orang yang paling mereka cari.
Para pengikut Ranggalawe di daerah Majapahit kemudian meninggalkan daerahnya menuju daerah Tuban, namun ketika mereka hendak menyeberangi sungai Tambak Beras, air sungai sedang pasang sehingga mereka dapat disusul oleh pasukan dari Majapahit di bawah pimpinan Nambi. Mereka semua akhirnya dapat dihancurkan oleh pasukan dari Majapahit.
Hari hari berikutnya pagi pagi sekali pasukan dari Majapahit menyeberangi sungai Tambak Beras untuk mencapai Tuban. Mantri Gagarangan dan Tambak Baya dari Tuban memberitahukan kepada Ranggalawe bahwa pasukan Majapahit telah tiba dan segera Ranggalawe memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan dari Majapahit.
Mendengar datangnya serangan, Ranggalawe kemudian mohon pamit kepada istrinya untuk menghadapi pasukan dari Majapahit. Martaraga berusaha mencegah kepergian suaminya karena mempunyai firasat bahwa sesuatu yang tidak baik akan menimpa suaminya. Oleh mertuanya sendiri yaitu Ki Ajar Pelandongan, Ranggalawe juga dibujuk agar mengurungkan niatnya untuk maju ke medan pertempuran namun sekali lagi bujukan tersebut tidak dihiraukan oleh Ranggalawe.
Ranggalawe kemudian terjun ke medan pertempuran melawan pasukan dari Majapahit, ia bertemu dengan orang yang diharap harapkan yaitu Patih Nambi. Patih Nambi mengendarai kuda Brahma Cikur sedangkan Ranggalawe mengendai kuda Mega Lamat. Pertempuran kedua orang tersebut berjalan dengan hebatnya.
Akhirnya kuda Brahma Cikur berhasil ditikam oleh Ranggalawe namun Patih Nambi berhasil mengelak dan lari menyelamatkan diri kearah selatan. Ranggalawe bersama pasukannya kemudian melakukan pengejaran sampai di sungai Tambak Beras.
Ranggalawe berniat untuk menyeberangi sungai Tambak Beras namun ditahan oleh para pengikutnya karena daerah diseberang sungai adalah wilayah Majapahit, lagi pula belum semua kekuatan tentara Majapahit dikerahkan ke medan perang, Ranggalawe akhirnya menurut.
Pertempuran antara pasukan Majapahit dibawah Pimpinan Nambi dengan pasukan Ranggalawe terjadi didaerah Tosan, Kidang Glatik, Siddi, Cek Muringgang dan Klabang Curing berakhir sampai malam hari.
Berita kekalahan pasukan dari Majapahit kemudian disampaikan Hangsa Terik ke hadapan Raden Wijaya. Betapa kecewanya Raden Wijaya mendengar kabar tersebut dan bersumpah akan membumihanguskan Kota Majapahit jika tidak berhasil mengalahkan Ranggalawe.
Segera beliau mengirim Kala Angerak, Setan Kobar, Buta Angasak dan Juru Prakasa untuk memulihkan kembali kekuatan pasukan dari Majapahit yang telah tercerai berai dan menyelidiki sampai dimana kekuatan musuh.
Sementara keberangkatan 10.000 pasukan tambahan dari Majapahit telah dipersiapkan dipimpin sendiri oleh Prabu Kĕrtarājasā, beliau mendapat laporan dari 4 orang mata-mata yang dikirim ke medan pertempuran tentang kekuatan pasukan dari Ranggalawe.
Akhirnya pertempuran pasukan tambahan yang dipimpin oleh Prabu Kĕrtarājasā dengan pasukan dari Ranggalawe berkobar kembali, pertempuran berjalan dengan sengit dimana korban berjatuhan diantara dikedua belah pihak.
Sementara itu untuk menghindari makin banyaknya korban yang berjatuhan, Sora minta ijin kepada Prabu Kĕrtarājasā untuk menghadapi Ranggalawe. Prabu Kĕrtarājasā mengijinkan, akhirnya Ranggalawe dikepung dari tiga arah yaitu Kebo Anabrang dari arah timur, Gagak Sarkara dari arah barat dan Majang Mekar dari arah utara.
Perkelahian sengit kemudian terjadi dari arah timur dimana kebo Anabrang terlibat pertempuran dengan Ranggalawe. Kuda Kebo Anabrang berhasil dilumpuhkan oleh Ranggalawe namun penunggannya berhasil menyelamatkan diri.
Hari selanjutnya untuk kedua kalinya kembali Kebo Anabrang terlibat pertempuran dengan Ranggalawe. Pertempuran ini terjadi di seberang sungai Tambak Beras.
Pertempuran berjalan dengan hebatnya dimana masing masing kedua belah pihak mengeluarkan puncak ilmu kanuragan yang dimilikinya untuk melumpuhkan lawannya. Pertempuran kemudian dilanjutkan di dalam air dimana Ranggalawe berhasil mendesak Kebo Anabrang sampai ketengah sungai namun dengan sigap berhasil menikam kuda tunggangan Ranggalawe.
Di dalam kidung Ranggalawe dikisahkan bahwa ikan-ikan berlompatan dan air di sekitar tempat itu menjadi seolah-olah mendidih. Buih-buih bergolak dengan hebatnya di antara bayangan hitam yang timbul-tenggelam bersama-sama. Bahkan kedua bayangan itu akhirnya seolah-olah berpadu menjadi satu dan bergolak bukan main hebatnya. Mereka bergulat, saling banting didalam air berusaha menenggelamkan lawannya.
Sampai akhirnya Ranggalawe terpeleset dari batu tempat berpijaknya sehingga hal tersebut berhasil dimanfaatkan oleh Kebo Anabrang untuk menenggelamkannya di dalam air. Kepalanya tercekik di bawah ketiak Kebo Anabrang. Ranggalawe kehabisan napas dan Ranggalawe pralaya di tempat iru.
Melihat keponakannya tewas di tangan Kebo Anabrang secara mengenaskan hati Lembu Sora menjadi panas sehingga dengan serta merta melompat ke dalam sungai untuk menikam Kebo Anabrang dengan keris dari belakang. Keris tersebut tembus sampai ke dada, mayat Kebo Anabrang kemudian mengapung di atas sungai.
Demikianlah akhir hidup Ranggalawe Sang Arya Adikara dan Kebo Anabrang Mahesa Arema yang sama sama tewas di sungai Tambak Beras, Pembunuhan terhadap rekan sepasukan inilah yang kelak menjadi penyebab kematian Lembu Sora tahun 1300. Mereka gugur karena fitnah yang keji seseorang.
Jenasah Ranggalawe dan Kebo Anabrang kemudian dibawa ke Majapahit untuk diupacarakan secara terhormat, bagaimanapun juga Sang Prabu Śri Maharajâ Kêrtarâjasâ Jayâwardhanâ merasa berutang budi kepada keduanya dan mengingat jasa besar kedua tokoh tersebut.
Ranggalawe adalah seorang pahlawan pemberani yang siap mengorbankan seluruh jiwa raganya pada masa awal berdirinya kerajaan Majapahit, sedangkan Kebo Anabrang adalah pemimpin pasukan Singasari yang sukses menaklukkan Melayu pada jaman pemerintahan Prabu Kertanagara yang terkenal dengan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275.
Kisah pemberontakan Ranggalawe tidak terdapat dalam Nāgaraktāgama. Hal itu dapat dimaklumi mengingat Nāgaraktāgama merupakan kitab pujian tentang kebesaran Majapahit.
Setelah Ranggalawe gugur tahun 1295, Arya Wiraraja merasa sakit hati dan memutuskan untuk menghadap Prabu Kĕrtarājasā untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menagih Sang Prabu semasa perjuangan, yaitu membagi wilayah kerajaan menjadi dua.
Janji tersebut kemudian dipenuhi oleh Prabu Kĕrtarājasā sehingga kemudian memutuskan membagi wilayah kerajaan menjadi dua: Bagian Timur terus keselatan sampai pantai diserahkan kepada Arya Wiraraja kemudian menjadi raja dengan ibukota Lumajang.
Bagian Barat masih dikuasai oleh Raja Kĕrtarājasā dengan Ibukota Majapahit. Sejak saat itulah Daerah Majapahit timur merupakan Negara merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit.
Bagi masyarakat Tuban, tokoh Ranggalawe bukanlah pemberontak, tetapi pahlawan keadilan. Sikapnya memprotes pengangkatan Nambi, karena figur Nambi kurang tepat memangku jabatan setinggi itu.
Nambi tidak begitu besar jasanya terhadap Majapahit. Masih banyak orang lain yang lebih tepat seperti Lembu Sora, Dyah Singlar, Arya Adikara, dan tentunya dirinya sendiri.
Ranggalawe layak menganggap dirinya pantas memangku jabatan itu. Anak Bupati Sumenep Arya Wiraraja ini besar jasanya terhadap Majapahit. Ayahnya yang melindungi Kĕrtarājasā Jayawardhana ketika melarikan diri dari kejaran Jayakatwang setelah Kerajaan Singasari jatuh.
Ranggalawe yang ikut membuka Hutan Trik yang kelak menjadi Kerajaan Majapahit. Dia juga ikut mengusir pasukan Tartar maupun menumpas pasukan Jayakatwang. Bagi masyarakat Tuban, Ranggalawe adalah korban ontran-ontran politik tingkat tinggi.
Dalangnya adalah Mahapati, seorang pembesar yang berambisi menjadi patih amangkubumi.
Pararaton menyebut pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1295, namun dikisahkan sesudah kematian Raden Wijaya. Menurut naskah ini, pemberontakan tersebut bersamaan dengan Jayanegara naik takhta.
Menurut Nāgaraktāgama, Raden Wijaya meninggal dunia dan digantikan kedudukannya oleh Jayanagara terjadi pada tahun 1309. Akibatnya, sebagian sejarahwan berpendapat bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada tahun 1309, bukan 1295.
Seolah-olah pengarang Pararaton melakukan kesalahan dalam penyebutan angka tahun.
Namun Nāgaraktāgama juga mengisahkan bahwa pada tahun 1295 Jayanagara diangkat sebagai yuwaraja atau “raja muda” di istana Daha.
Selain itu Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe dengan jelas menceritakan bahwa pemberontakan Ranggalawe terjadi pada masa pemerintahan Raden Wijaya, bukan Jayanagara.
Fakta lain menunjukkan, nama Arya Wiraraja dan Arya Adikara sama-sama terdapat dalam prasasti Kudadu tahun 1294, namun kemudian keduanya sama-sama tidak terdapat lagi dalam prasasti Sukamreta tahun 1296.
Ini pertanda bahwa Arya Adikara alias Ranggalawe kemungkinan besar memang meninggal pada tahun 1295, sedangkan Arya Wiraraja diduga mengundurkan diri dari pemerintahan setelah kematian anaknya itu.
Jadi, kematian Ranggalawe terjadi pada tahun 1295 bertepatan dengan pengangkatan Jayanagara putra Raden Wijaya sebagai raja muda. Dalam hal ini pengarang Pararaton tidak melakukan kesalahan dalam menyebut tahun, hanya saja salah menempatkan pembahasan peristiwa tersebut.
Sementara itu Nāgaraktāgama yang dalam banyak hal memiliki data lebih akurat dibanding Pararaton sama sekali tidak membahas pemberontakan Ranggalawe. Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, yaitu Mpu Prapanca merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib.
Nama besar Ranggalawe rupanya melekat dalam ingatan masyarakat Jawa. Penulis Serat Damarwulan atau Serat Kanda, mengenal adanya nama Ranggalawe namun tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kisah hidupnya.
Maka, ia pun menempatkan tokoh Ranggalawe hidup sezaman dengan Damarwulan dan Menak Jingga. Damarwulan sendiri merupakan tokoh fiksi, karena kisahnya tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah, serta tidak memiliki prasasti pendukung.
Dalam versi dongeng ini, Ranggalawe dikisahkan sebagai adipati Tuban yang juga merangkap sebagai panglima angkatan perang Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Kencanawungu.
Ketika Majapahit diserang oleh Menak Jingga adipati Blambangan, Ranggalawe ditugasi untuk menghadangnya. Dalam perang tersebut, Menak Jingga tidak mampu membunuh Ranggalawe karena selalu terlindung oleh payung pusakanya.
Maka, Menak Jingga pun terlebih dulu membunuh abdi pemegang payung Ranggalawe yang bernama Wongsopati. Baru kemudian, Ranggalawe dapat ditewaskan oleh Menak Jingga. Tokoh Ranggalawe dalam kisah ini memiliki dua orang putra, bernama Siralawe dan Buntarlawe, yang masing-masing kemudian menjadi bupati di Tuban dan Bojonegoro.
Ranggalawe adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit, namun meninggal dan ditempatkan sebagai pemberontak Negara Majapahit yang baru berdiri itu.
Ia dianggap pemberontak pertama dalam sejarah kerajaan itu. Meskipun demikian, karena jasanya yang besar, Sang Prabu Śri Maharajâ Kêrtarâjasâ Jayâwardhanâ tetap menghormatinya dengan melakukan upacara besar bagi pahlawannya dan juga sahabat dekatnya itu.
Dan nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban hingga sekarang.
 2. Kebo Anabrang
Kebo Anabrang yang gugur secara mengenaskan ditikam keris oleh Lembu Sora paman Ranggalawe yang menjadi panas melihat keponakannya tewas dalam pertempuran di Sungai Tambak Beras dibunuh Kebo Anabrang.
Keris tersebut tembus sampai ke dada, jasad Kebo Anabrang kemudian mengapung di atas sungai. Demikianlah akhir hidup Kebo Anabrang Sang Mahesa Arema yang tewas di sungai Tambak Beras bersama Ranggalawe. Pembunuhan terjadi karena fitnah yang keji seseorang.
Jenasah Ranggalawe dan Kebo Anabrang kemudian dibawa ke Majapahit untuk diupacarakan secara terhormat, bagaimanapun juga Sang Prabu Śri Maharajâ Kêrtarâjasâ Jayâwardhanâ merasa berutang budi kepada keduanya dan mengingat jasa besar kedua tokoh tersebut.
Ranggalawe adalah seorang pahlawan pemberani yang siap mengorbankan seluruh jiwa raganya pada masa awal pembentukan Majapahit, sedangkan Kebo Anabrang adalah pemimpin pasukan Singasari yang sukses menaklukkan Melayu pada jaman pemerintahan Prabu Kertanagara yang terkenal dengan Ekspedisi Pamalayu tahun 1275.
Mahesa Anabrang, atau juga disebut dengan nama Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah nama julukan yang, yang artinya ialah “kerbau yang menyeberang”, adalah seorang senapati Kerajaan Singasari yang diutus untuk menjalin persahabatan dengan kerajaan Malayu, dan dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu.
Di tahun 1288, Mahesa Anabrang telah menaklukkan seluruh wilayah Melayu, termasuk Kerajaan Melayu Jambi dan Sriwijaya.
Dia disebut juga Kebo Arema atau Mahesa Arema yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka.
Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singasari.
Pujasastra Nāgaraktāgama Pupuh 41 (5) pun hanya mengabarkan:
Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu.
[Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu].
Siapa yang disuruh, Kitab Pujasatra Nāgaraktāgama tersebut tidak menjelaskan.
Demikian halnya dengan Kidung Pararaton:
Sapanjeneng Sri Krettanagara, anghilangaken kalana, haran kalana, haran bhaya. Huwus ing kalana mati, angutus ing kawulan ira, angadona maring Malayu, sumangka akdhik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.
[Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba sahayanya, untuk pergi menyerang Melayu].
Diduga kuat Mahesa Anabrang ini adalah orang yang sama dengan tokoh yang dikenal sebagai Adwaya Brahman atau Adwayawarman, ayah dari Adityawarman yang disebutkan dalam Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Limo Kaum, dekat Batusangkar, Sumatera Barat.
Tertulis bahwa batu prasasti itu: “dikeluarkan oleh Adityawarman, yang merupakan putra dari Adwayawarman dari keluarga Indra. Dinyatakan juga bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa).”
Menurut piagam Jawa Kuno Amoghapasa tahun 1286 Mahamentri Adwaya Brahman adalah keturunan Raja Kertanagara sehingga masih memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat dengan Putri Gayatri yang merupakan putri bungsu Kertanagara istri dari Raden Wijaya.
Panglima Ekspedisi Pamalayu
Pada tahun 1275 Kertanagara raja Singasari mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Pengiriman pasukan ini terkenal dengan sebutan Ekspedisi Pamalayu.
Nama pemimpin pasukan Ekspedisi Pamalayu ditemukan dalam Kidung Panji Wijayakrama, yaitu Mahisa Anabrang. Dapat dipastikan kalau ini bukan nama asli. Kiranya pengarang kidung tersebut juga tidak mengetahui dengan pasti siapa nama asli sang pemimpin pasukan tempur Singasari itu.
Ekspedisi Pamalayu memperoleh keberhasilan. Nāgaraktāgama mencatat Melayu masuk ke dalam daftar jajahan Singasari selain Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura. Pasukan Pamalayu kembali ke Jawa tahun 1293.
Pada prasasti Padangroco tertulis bahwa, arca Amoghapasa dikawal dari Jawa oleh 14 orang, termasuk Adwayabrahma (nama lain Mahisa Arema si Kebo Anabrang) yang ditulis paling awal.
Adwayabrahma sendiri menjabat sebagai Rakryan Mahamantri pada pemerintahan Prabu Kertanagara. Pada zaman itu, jabatan ini merupakan jabatan tingkat tinggi atau gelar kehormatan yang hanya boleh disandang oleh kerabat raja. Mungkin yang dimaksud dengan istilah “dewa” dalam Pararaton adalah jabatan Rakryan Mahamantri ini.
Jadi, Dara Jingga diserahkan kepada seorang Rakryan Mahamantri bernama Adwayabrahma, sehingga lahirlah Adityawarman.
Dari pernikahan Mahisa Anabrang dengan Dara Jingga memiliki putra: (menurut Babad Arya Tabanan):
a. Arya Cakradara (kelak adalah suami Tribuana Wujayatunggadewi);
b. Arya Damar (Raja di Palembang);
c. Arya Kenceng (Raja Tabanan, Bali);
d. Arya Kutawandira;
e. Arya Sentong.
Merekalah yang kemudian bersama-sama Gajah Mada, berperang untuk menaklukkan Kerajaan Bedahulu di Bali pada sekitar tahun 1340. Empat putra yang terakhir menetap dan mempunyai keturunan di Bali.
Arya Kenceng kemudian menurunkan raja-raja Tabanan dan Badung (wilayahnya kira-kira meliputi Kabupaten Badung dan Kotamadya Denpasar sekarang) yang terkenal dengan Perang Puputan ketika menghadapi penjajah Belanda pada tahun 1906.
Kemudian muncul anggapan bahwa Adwayabrahma pemimpin rombongan Amoghapasa identik dengan Mahisa Anabrang komandan Pamalayu. Sebenarnya identifikasi ini cukup menarik. Mahisa Anabrang adalah pahlawan penakluk Melayu. Jadi cukup wajar kalau Raden Wijaya menyerahkan Dara Jingga kepadanya sebagi penghargaan.
Nama tokoh ini juga ditemukan pada prasasti yang tertulis di alas arca Amoghapasa, yang ditemukan di Padang Roco, dekat Sei Langsat, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Tertulis bahwa arca itu adalah hadiah perkawinan Kertanagara kepada seorang bangsawan Sumatera, “bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi” dan bahwa “Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma” adalah salah seorang pengawal arca tersebut.
Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Pethak beserta keluarganya kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Prabu Kertanagara yaitu raja yang mengutusnya.
Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Prabu Kertanagara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, Raja Kadiri. Jayakatwang itu sendiri telah tewas dibunuh pasukan Mongol yang akhirnya diserang oleh Raden Wijaya.
Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang merupakan lanjutan dari Kerajaan Singasari. Oleh karena itu, Dara Pethak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanagara, raja ke-2 Majapahit.
Dengan kata lain, raja ke-2 Majapahit adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.
Perjalanan Mahesa Anabrang dalam kancah politik Majapahit sendiri terbilang singkat. Ia terlibat dalam penumpasan pemberontakan Ranggalawe tahun 1295 dan gugur dalam tugas di tangan Lembu Sora, paman Ranggalawe.
Dara Jingga adalah putri dari Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan sira alaki dewa -dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa dinikahi oleh Adwaya Brahman (Kebo Anabrang), pemimpin Ekspedisi Pamalayu.
Setelah beberapa lama di Majapahit, akhirnya Dara Jingga memutuskan kembali ke Dharmasraya. Dara Jingga juga dikenal sebagai Bundo Kanduang dalam Hikayat Minangkabau.

(3). Lembu Sora
Lembu Sora atau Mpu Sora atau Ken Sora atau Andaka Sora adalah salah satu pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar dalam berdirinya Kerajaan Majapahit, namun mati sebagai pemberontak pada tahun 1300.
Peristiwa sejarah ini terdapat dalam Kidung Sorandaka.
Pararaton menyebut Sora sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia. Ia mengawal Raden Wijaya saat menghindari kejaran pasukan Jayakatwang tahun 1292, di mana ia menyediakan punggungnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya saat beristirahat, serta menggendong istri Raden Wijaya saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.
Pada tahun 1293 Raden Wijaya dibantu pasukan Mongol menyerang Jayakatwang di Kadiri. Dalam perang itu, Sora menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh Patih Kadiri Kebo Mundarang.
Dalam siasat selanjutnya, Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol yang sedang berpesta pora merayakan jatuhnya Kadiri. Dalam pertempuran tersebut, Sora dan keponakannya yang bernama Ranggalawe berhasil menghabisi orang-orang Mongol tersebut.
Menurut Pararaton, setelah Jayakatwang berhasil dikalahkan dan pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese diusir dari Pulau Jawa. Peristiwa itu ditengarai sebagai kemenangan besar pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar. Peristiwa pengusiran tentara Tartar itu merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Nusantara dari penjajahan atau intervensi tentara asing.
[Lihat kembali kisah hari lahirnya Kota Surabaya: Pertempuran terakhir dan peristiwa pengusiran pasukan tentara Mongol itu diduga terjadi pada tanggal 31 Mei 1293, yang ditandai dengan sesanti surå ing bhåyå yang berarti "keberanian menghadapi bahaya" yang diambil dari babak dikalahkannya pasukan tentara Mongol/Tartar oleh pasukan tentara Jawa pimpinan Raden Wijaya, yang akhirnya tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Surabaya, dan diperingati hingga sekarang.]
Dalam Prasasti Gunung Butak atau Piagam Merah-Putih tahun 1216 Ç atau 1294 M, yang menandai peritiwa tersebut, Raden Wijaya disebut sebagai “Raja yang dipujikan sebagai pahlawan besar yang utama”.
Dalam Prasasti Gunung Pananggungan oleh Kertarajasa tahun 1218 Ç atau 1296 M, Raden Wijaya disebut sebagai “Pahlawan di antara Pahlawan”.
Setelah kemenangan tersebut, Raden Wijaya mendirikan pun mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.
Naskah Pararaton menyebutkan jabatan Lembu Sora dalam kerajaan baru tersebut adalah rakryan demung.
Berita di atas kurang tepat karena dalam prasasti Sukamreta tahun 1296, tertulis nama rakryan demung Majapahit adalah Mpu Renteng, sedangkan Mpu Sora menjabat sebagai rakryan patih ri Daha, atau patih bawahan di Kadiri.
Keputusan tersebut memicu pemberontakan Ranggalawe tahun 1295. Menurut Ranggalawe, Lembu Sora lebih pantas menjabat sebagai Rakryan Patih Majapahit dari pada Nambi. Meskipun Ranggalawe adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung Raden Wijaya supaya tetap mempertahankan Nambi sebagai patih Majapahit.
Dalam peristiwe pemberontakan Ranggalawe, Sora bertindak sebagai penasehat raja, dimana Sora memberikan nasehat kepada raja agar jangan sekali kali menuruti apa kemauan Ranggalawe serta dalam pertempuran bertindak sebagai senapati yang memberikan perintah untuk mengepung Ranggalawe dari 3 arah.
Siasat ini berhasil sehingga pemberontakan Ranggalawe dapat dipadamkan. Berdasarkan fakta tersebut sudah sepantasnya Sora menjadi abdi kesayangan Raden Wijaya dan menduduki posisi yang terhormat dalam masa pemerintahan Raden Wijaya.
Namun dalam perjalanan hidupnya selalu ada rintangan, ada yang iri hati dengan mengungkapkan segala kekurangan yang ia miliki kehadapan Sang Prabu.
Sebagai mana yang kita ketahui bahwa Mahapati sebagai Menteri, ia seorang tokoh licik yang mengincar jabatan patih yang berambisi untuk menduduki posisi sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit, pada saat itu yang menduduki posisi tersebut adalah patih Nambi, namun untuk mencari kesalahan yang mengakibatkan jatuhnya kedudukan Nambi belum berhasil.
Salah seorang tokoh yang mempunyai hubungan erat dengan Sang Prabu dan berpengaruh besar yaitu Sora. Andaikata Nambi jatuh maka calon utama penggantinya pastilah Lembu Sora.
Demikianlah menurut rencananya Lembu Sora harus disingkirkan terlebih dahulu, untuk tujuan tersebut ia memperoleh tuduhan yang jitu yaitu pembunuhan Kebo Anabrang yang merupakan rekan sepasukan dalam peristiwa pemberontakan Ranggalawe.
Sebelum menjalankan siasatnya Mahapati berusaha bersahabat dengan para Menteri lainnya sehingga ia dapat menjadi orang kepercayaan Sang Prabu Kĕrtarājasā.
Pembunuhan terhadap rekan sepasukan tersebut baru diungkit tahun 1300. Mahapati menghadap Raden Wijaya dan menceritakan bahwa para Menteri tidak puas dengan sikap Sang Prabu terhadap Lembu Sora.
Ketidakpuasan tersebut semakin meningkat karena seolah olah Sang Prabu membenarkan tindakan Lembu Sora membunuh Kebo Anabrang. Rupanya keluarga Kebo Anabrang segan menuntut hukuman karena Sora adalah abdi kesayangan Raden Wijaya.
Suasana itu dimanfaatkan oleh Mahapati, ia menghasut putra Kebo Anabrang yang bernama Mahisa Taruna supaya berani menuntut Sora. Ia juga menghasut Raden Wijaya bahwa para menteri resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.
Raden Wijaya tersinggung dituduh tidak adil. Ia pun memberhentikan Lembu Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan selanjutnya. Mahapati pura-pura mencegah tindakan Sang Prabu yang serta merta tersebut dan memberi nasehat agar Sang Prabu mencari kesempatan yang baik untuk menyingkirkan Lembu Sora.
Mahapati mengusulkan agar Lembu Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. Raden Wijaya memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke Tulembang. Yakinlah Mahapati bahwa sekaranglah saatnya untuk menyingkirkan Lembu Sora.
Mahapati menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati dari pada harus diusir dari tanah airnya. Mahapati kemudian menghasut Nambi bahwa Sang Prabu telah mengambil keputusan untuk membebaskan Sora dari tugasnya dan menggantinya dengan Mahesa Taruna (anak dari Kebo Anabrang).
Terpikat oleh uraian yang disampaikan Mahapati, Patih Nambi kemudian menyiapkan orang orangnya untuk menghadap sang Prabu. Dengan tegas dikemukakannnya bahwa Lembu Sora yang telah membunuh Kebo Anabrang secara licik dan kejam harus mendapat hukuman yang setimpal, juga para menteri yang terkena hasutan Mahapati sepakat bahwa Lembu Sora harus mendapat hukuman akibat dari perbuatannya.
Mahapati yang pandai menjalankan peranannya sekali lagi mengunjungi kediaman Lembu sora, dikatakannya bahwa ia telah berusaha keras untuk mencegah hukuman tersebut namun tidak berhasil, lagipula Nambi telah menyiapkan pasukannya. Sementara itu telah diputuskan mengingat jasa jasanya, Lembu Sora tidak akan dijatuhi hukuman mati tetapi di hukum buang ke Tulembang.
Keputusan tersebut disampaikan langsung utusan Prabu Kĕrtarājasā dari Majapahit. Sora menolak keputusan tersebut, ia lebih baik mati daripada harus dihukum buang. Raja Kĕrtarājasā masih cukup sabar menerima keputusan Nambi tersebut dan menyesalkan konflik yang telah terjadi antara dirinya dengan Lembu Sora yang merupakan abdi kesayangannya.
Mahapati pura-pura membela Sora dan mengusulkan agar Sang Prabu memberikan peringatan secara tertulis kepada Sora dan menunggu jawabannya. Segera Sang Prabu mengutus Mahapati untuk menyampaikan surat tersebut langsung kepada Lembu Sora yang isinya bahwa menurut kitab Undang-undang Kutaramanawa, Sora harus dihukum mati, namun dibebaskan dari hukuman tersebut dan sebagai gantinya ia akan di pindahkan ke Tulembang.
Kutaramanawa yaitu kitab perundang undangan pada jaman Majapahit yang isinya menekankan susunan masyarakat yang terdiri dari empat warna demi kebaikan masyarakat. Kitab tersebut sekarang disimpan di Leiden Belanda.
Setelah membaca surat tersebut, Lembu Sora kemudian menyampaikan jawabannya bahwa ia masih menaruh cinta bakti kepada Sang Prabu dan akan menyerahkan jiwa dan raganya ke hadapan sang Prabu. Ia tidak akan membantah sekalipun akan diserahkan kepada Kebo Taruna.
Lembu Sora merencanakan untuk menghadap langsung ke hadapan sang prabu. Mahapati yang mengingikan kematian Lembu Sora belum puas akan penyerahan jiwa raga yang disampaikan oleh Lembu Sora melaporkan kepada Sang Prabu bahwa Lembu Sora tidak menerima keputusan tersebut dan akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas hukuman raja.
Setelah mendesak raja, Nambi pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama Gajah Biru dan Juru Demung. Maka terjadilah peristiwa di mana Sora dan kedua sahabatnya mati dikeroyok tentara Majapahit.
Maka berhasillah siasat Mahapati. Kematian Sora pada tahun 1300 diceritakan singkat dalam Pararaton, dan diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.
Menurut Pararaton kematiannya terjadi pada pemerintahan Jayanegara, sedangkan menurut Kidung Sorandaka terjadi pada pemerintahan Raden Wijaya. Dalam hal ini pengarang Pararaton kurang teliti karena menurut Nāgaraktāgama Jayanagara naik takhta menggantikan Raden Wijaya baru pada tahun 1309.
Berbeda dengan kisah dalam Kidung Sorandaka di atas, Pararaton menyebut kematian Juru Demung terjadi pada tahun 1313, sedangkan Gajah Biru pada tahun 1314. Keduanya tewas sebagai pemberontak pada pemerintahan Raja ke-2 Majapahit, Jayanegara putra Raden Wijaya.

(4). Nambi
Mpu Nambi adalah pemegang jabatan rakryan patih pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Ia ikut berjuang mendirikan kerajaan tersebut namun kemudian gugur karena difitnah oleh Mahapatih orang yang tidak suka kepadanya, pada pemerintahan raja kedua.
Kematian Nambi terjadi pada 1316. Kisahnya disinggung dalam Nāgaraktāgama dan Pararaton, serta diuraikan panjang lebar dalam Kidung Sorandaka.
Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Nambi sebagai salah satu pengikut setia Raden Wijaya yang ikut mengungsi ke tempat Arya Wiraraja di Songeneb (nama lama Sumenep) ketika Kerajaan Singasari runtuh diserang pasukan Jayakatwang tahun 1292.
Menurut Kidung Harsawijaya, Nambi adalah putra Arya Wiraraja yang baru dikenal Raden Wijaya di Songeneb.
Kidung Harsawijaya mengisahkan, Nambi kemudian dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Trik menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit.
Kisah ini berlawanan dengan Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe yang menyebut nama putra yang dikirim Arya Wiraraja adalah Ranggalawe, bukan Nambi.
Pararaton selanjutnya mengisahkan, pada saat Raden Wijaya menyerang Kadiri pada 1293, Nambi ikut berjasa menyingkirkan salah seorang senapati Kerajaan Kadiri Prabu Jayakatwang yang bernama Kebo Rubuh.
Pararaton mengisahkan setelah kekalahan Jayakatwang tahun 1293, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan mengangkat diri menjadi raja. Jabatan patih atau semacam perdana menteri diserahkan kepada Nambi.
Berita ini diperkuat oleh Prasasti Sukamreta tahun 1296 yang memuat daftar nama para pejabat Majapahit, antara lain Rakryan Patih Mpu Tambi.
Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe, pengangkatan Nambi inilah yang memicu terjadinya pemberontakan Ranggalawe di Tuban tahun 1295. Ranggalawe merasa tidak puas atas keputusan tersebut karena Nambi dianggap kurang berjasa dalam peperangan.
Atas izin Raden Wijaya, Nambi berangkat memimpin pasukan Majapahit menyerang Tuban. Dalam perang itu, Ranggalawe mati di tangan Kebo Anabrang.

(5). Mahapati
Mahapati adalah nama seorang tokoh penghasut dalam sejarah awal Kerajaan Majapahit. Namanya disebut dalam Pararaton sebagai pemegang jabatan rakryan patih sejak tahun 1316. Kelicikan Mahapati dianggap sebagai penyebab kematian para pahlawan “bapak bangsa” para pendiri Kerajaan Majapahit, yaitu Ranggalawe, Lembu Sora, dan Nambi. Mahapati sendiri akhirnya dihukum mati setelah pemberontakan Ra Kuti tahun 1319.
Nama Mahapati terdapat juga dalam naskah Kidung Sorandaka. Ia dikisahkan sebagai tokoh licik yang gemar melancarkan fitnah dan adu domba demi meraih ambisinya, yaitu menjadi Mahapatih Amangkubhumi Majapahit.
Pada tahun 1205 Mahapati menghasut Ranggalawe supaya menentang pengangkatan Nambi sebagai patih. Sebaliknya, ia juga menghasut Nambi supaya menghukum kelancangan Ranggalawe. Akibat adu domba tersebut, perang saudara pertama pun meletus.
Ranggalawe akhirnya tewas di tangan Kebo Anabrang dalam sebuah pertempuran di Sungai Tambak Beras. Namun, Kebo Anabrang sendiri juga tewas karena dibunuh dari belakang oleh Lembu Sora, paman Ranggalawe.
Pada tahun 1300 Mahapati menghasut Mahisa Taruna putra Kebo Anabrang supaya menuntut pengadilan untuk Lembu Sora. Mengingat jasa-jasanya selama perjuangan mendirikan kerajaan, Lembu Sora hanya dihukum buang oleh Raden Wijaya.
Mahapati ganti menghasut Sora supaya meminta hukuman yang lebih pantas. Sora pun berangkat ke ibu kota untuk meminta hukuman mati. Tetapi di halaman istana ia tewas dikeroyok tentara pasukan pengawal istana, karena Nambi sudah lebih dahulu dihasut Mahapati, bahwa Sora akan datang untuk membuat onar.
Mahapati tiada henti-hentinya selalu membuat keonaran, dengan licik pula maka pada tahun 1316 Mahapati mengadu domba Nambi dengan Jayanegara, Raja ke-2 Kerajaan Majapahit pengganti Raden Wijaya.
Suatu ketika Nambi mengambil cuti karena ayahnya di Lamajang meninggal dunia. Mahapati datang melayat sambil menyarankan supaya ia memperpanjang cuti. Mahapati bersedia menyampaikan permohonan izin kepada raja. Akan tetapi, di hadapan Jayanagara, Mahapati justru mengabarkan bahwa Nambi tidak mau kembali ke Majapahit karena sedang mempersiapkan pemberontakan.
Jayanagara marah dan mengirim pasukan untuk menghancurkan Lamajang. Nambi sekeluarga pun tewas. Mahapati kemudian diangkat sebagai patih baru sesuai dengan cita-citanya.
Pada tahun 1319 terjadi pemberontakan Ra Kuti. Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh seorang Bêkêl Bhayangkâri bernama Gajah Mada yang kemudian menjadi abdi kesayangan Jayanagara.
Setelah pemberontakan Ra Kuti, hubungan antara Jayanagara dengan Mahapati mulai renggang. Akhirnya, semua kejahatan yang pernah dilakukan Mahapati pun terbongkar. Ia kemudian dihukum mati dengan cara cineleng-celeng, artinya “dicincang seperti babi hutan”.
Tokoh Mahapati merupakan soal sejarah yang masih misteri. Kita tidak mengetahui siapa sebenarnya dia, justru karena kehadirannya dalam panggung sejarah Majapahit secvara tiba-tiba sebagai menteri dalam pemerintahan Raden Wijaya.
Baik dalam daftar nama-nama pejuang Kerajaan Singasari dan para pendiri Majapahit ketika berperang melawan tentara Kadiri dan tentara Tartar, maupun juga ketika berperang menumpas ‘pemberontak’ Ranggalawe, nama Mahapati tidak dikenal.
Namun tokoh Mahapati ini sekonyong-konyong hadir pada peristiwa pemberontakan Sora, bahkan ia memegang peranan utama. Lagi pula nama Mahapati agak mencurigakan.
Nama (tepatnya gelar) itu sering digunakan sebagai sebutan suatu jabatan patih amangkubumi.
Tokoh Mahapati hanya ditemukan dalam naskah Pararaton dan Kidung Sorandaka.
Istilah “maha” bermakna “besar”, sedangkan “pati” bermakna “penguasa”. Maksudnya ialah “orang yang memiliki ambisi besar untuk menjadi penguasa”. Hal ini menunjukkan, nama Mahapati bukanlah nama asli, melainkan nama julukan.
Nama Mahapati tidak dijumpai dalam prasasti apa pun, sehingga diduga merupakan nama ciptaan pengarang Pararaton. Nāgaraktāgama yang juga berisi sejarah Majapahit hanya mengisahkan kematian Nambi secara singkat tanpa menjelaskan apa penyebabnya.
Pararaton mengisahkan Mahapati menjadi patih setelah kematian Nambi tahun 1316. Beberapa sejarahwan menduga Mahapati identik dengan Dyah Halayudha, yaitu nama patih Majapahit yang tertulis dalam prasasti Sidateka tahun 1323.
Apabila dugaan ini benar, maka tokoh Mahapati alias Halayudha bukan orang biasa, namun masih keluarga bangsawan. Hal ini dikarenakan gelar yang ia pakai adalah “dyah” yang setara dengan raden pada zaman berikutnya. Misalnya, pendiri Majapahit dalam Nāgaraktāgama disebut Dyah Wijaya sedangkan dalam Pararaton disebut Raden Wijaya.
Sementara itu Nambi dan Sora yang dalam prasasti Sukamreta hanya bergelar Mpu.
Pengarang Pararaton mungkin tidak mengenal nama asli tokoh licik yang menyingkirkan Ranggalawe, Sora, dan Nambi sehingga ia pun menyebutnya dengan nama Mahapati atau “sang penguasa besar”.
Dengan demikian dapat dipahami mengapa Halayudha sakit hati ketika Nambi dan Sora yang bukan dari golongan bangsawan namun memperoleh kedudukan tinggi, masing-masing sebagai patih Majapahit dan patih Daha. Ia pun melancarkan aksi fitnah dan adu domba sehingga satu per satu para “Bapa Bangsa”, para pahlawan pendiri kerajaan Wilwatikta tersingkir.